ndengar kata-kata itu, tubuh Shadow tidak bisa berhenti bergetar. Tetapi dia bukanlah tikus yang terpojok, dia dengan cepat berputar dan layangkan tendangan.
Wajah Randika terlihat dingin. Kali ini Shadow tidak punya cara untuk kabur, reka berada di tengah laut jadi mustahil untuk kabur.
nghadapi tendangan ndadak Shadow ini, Randika mblokirnya dengan lengannya yang kekar. manfaatkan montum ini, Shadow mbuat jarak di antara reka berdua.
Shadow berdiri di ujung perahu sambil natap dingin Randika. skipun ekspresinya seperti itu, seluruh tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar.
Karena dia paling ngenal Randika dengan baik, dia ngerti betapa ngerikannya seorang Ares. Oleh karena itu, dia tidak berani berhadapan langsung dengan Randika. Dia selalu nggunakan taktik ataupun serangan diam-diam ketika lawan Randika.
Karena dia tahu dari segi apa pun, dia bukanlah tandingannya. Bahkan jika dirinya mpunyai kloning sebanyak 100, dirinya tetap bukanlah tandingan seorang Ares.
Terakhir kali dia nyaris berhasil mbunuhnya ketika kloning Bulan Kegelapan nyerangnya di gedung kosong. Pada saat itu rupakan waktu paling sempurna mbunuh Randika karena kondisi tubuhnya yang sakit. Namun, rencananya gagal dan semua kloning dibunuh oleh Randika!
Oleh sebab itu, ketika sekarang dirinya berhadapan satu lawan satu dengan Randika, hatinya benar-benar ketakutan.
Kapal ini terus berlayar nuju kejauhan, tidak ada yang ngemudikan layar kapal. Shadow masih berwaspada dengan Randika yang masih belum bergerak sama sekali.
"Kau ngkhianatiku dan saudara-saudaramu demi ambisimu." Kata Randika. "Bersiaplah untuk mati hari ini."
"Ambisi?" Shadow tertawa dan mbalas. "Bukankah kau juga miliki ambisi untuk njadi terkuat di dunia? Bukankah pasukanmu itu hanyalah alat bagimu? Sekarang katakan siapa yang lebih egois!"
Randika natap Shadow, sepertinya perempuan itu sudah tidak bisa diselamatkan. Ambisinya telah mbutakan penglihatannya.
"Aku bisa mberikanmu segalanya dan aku bisa ngambilnya kapan saja." Kata Randika dengan nada dingin. "Hari ini aku akan ngambil segalanya darimu!"
Sesudahnya berbicara, Randika nerjang maju dan Shadow sudah siap. Kedua pisau muncul dari balik bajunya dan nebas ke arah Randika.
Randika nyalurkan tenaga dalamnya ke tangan kirinya dan nampar kedua pisau tersebut hingga terlepas dari genggaman Shadow. Pada saat ini, Shadow mbenturkan dahinya pada dahi Randika! Namun sesaat setelah itu, Shadow berputar dan lancarkan serangan tendangan dari atas!
Randika dengan tenang nghindar dan mukul Shadow tepat di dadanya hingga terpental. Shadow berhasil nghentikan lajunya sebelum dirinya terjatuh dari perahu.
Pada saat ini, Shadow telah kehilangan tempat untuk kabur. Saat dirinya nghadap ke depan, dia hanya bisa lihat sosok Randika yang siap mbunuhnya.
Pertarungan reka barusan sudah nentukan segalanya. Randika sama sekali tidak terluka sedangkan dirinya sudah tertatih-tatih, reka berdua mang berada di level yang berbeda.
"Sudah kubilang, aku bisa mberikanmu segalanya di dunia ini tetapi aku juga bisa ngambilnya darimu kapan saja." Kata Randika dengan santai.
Shadow nggigit bibirnya, dia tidak rela hidupnya berakhir seperti ini. Kenapa dia tidak bisa mbunuh Randika? Jelas-jelas rencananya sebelum ini hampir berhasil mbunuhnya.
lihat Shadow yang ketakutan, Randika ndengus dingin. Randika ngangkat kakinya dan nghentakannya dengan keras, mbuat perahu ini bergoyang. Shadow yang berdiri di ujung perahu itu hampir kehilangan keseimbangannya dan terjatuh.
Setelah bisa berdiri dengan kedua kakinya, Shadow kembali nerjang ke arah Randika. Ketika reka bertemu di udara, Randika mblokir semua serangan Shadow dan mberikan perempuan itu satu pukulan telak di wajahnya. Shadow terjatuh dengan keras di kapal.
DUAK!
Shadow ndarat dengan keras, sepertinya dia berhasil nahan serangan Randika dengan tangannya. Namun, tangannya sekarang benar-benar mati rasa. Seakan-akan tangannya itu barusan dipalu oleh palu raksasa.
Shadow terus langkah mundur sambil nunggu tangannya pulih kembali.
Randika hanya natapnya dengan dingin. "Apakah kamu sudah siap?"
Shadow sama sekali tidak njawab, dia kembali nerjang ke arah Randika. Setelah beberapa pukulan, Shadow ndengus dingin dan dadanya nerima sebuah pukulan. Seteguk darah segar langsung keluar dari dalam mulutnya.
Shadow tidak mau nyerah, dia kembali nyerang dan nerima dua serangan Randika. Satunya dia berhasil nahannya dengan sempurna tetapi serangan satunya ngenai dadanya lagi.
Setelah nerima beberapa luka ini, Shadow sudah hampir kehabisan tenaga. Sepertinya ujung jalannya sudah terlihat.
Sambil rasa pusing, dia natap tajam Randika. Di penglihatannya yang kabur itu, dia lihat ratusan mayat berdiri di belakang Randika. Orang-orang itu adalah musuh-musuhnya yang Randika bunuh, sepertinya reka akan nyambut dirinya dengan tangan terbuka.
Tidak! Ambisi Shadow tidak selemah itu!
Shadow kembali layangkan sebuah pukulan tetapi Randika dengan mudah nangkap tangannya itu dan mberikannya serangan balik.
"Ah!"
Jeritan kesakitan keluar dari mulut Shadow. Dengan tangan kirinya, dia layangkan kembali pukulannya.
Dan sekarang kedua tangannya telah tertahan!
Randika nahan kedua tangan Shadow dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya nghajar tubuh Shadow berulang kali. Darah segar terus nerus ngalir dari sudut mulut Shadow.
Randika sama sekali tidak berhenti, pukulan demi pukulan dia layangkan sambil nahan Shadow. Dalam sekejap, Shadow sudah dipukul hingga sekarat dan tubuhnya sudah bersimbah darah.
"Uhuk." Shadow muntahkan darah segar sambil tertatih-tatih di atas lantai. Level Randika jauh di atasnya.
"Aku dulu telah nyelamatkanmu dari kehidupanmu yang nyedihkan itu. Sekarang aku akan mbunuhmu dengan kedua tanganku ini." Kata Randika dengan nada datar. Namun ketika ndengar kata-kata ini, Shadow seperti ndapatkan energi dan nerjang kembali ke arah Randika.
Namun, usahanya itu percuma. Dia nerima beberapa pukulan lagi dan akhirnya terjatuh dari atas perahu.
Randika lihat sosok Shadow yang minta tolong. Randika lalu nghentikan perahu tersebut dan natap Shadow tanpa rasa simpati.
Mungkin baginya pengkhianatan Bulan Kegelapan itu tidak seberapa tetapi pengkhianatan Shadow ini benar-benar lukai hatinya. Bisa dikatakan bahwa Randika mberikan segalanya pada Shadow dan Shadow dengan mudahnya ngkhianati kepercayaannya itu.
Jika bukan karena ulah Shadow, istananya di dunia bawah tanah itu tidak akan hancur dan nyawa-nyawa pasukannya itu masih bisa terselamatkan. Bisa dikatakan bahwa hancurnya markasnya itu buah dari pengkhianatan Shadow.
Pada saat itu, Randika bersembunyi di Indonesia dan hanya Shadow dan Yuna yang ngetahui keberadaannya. Shadow njadi jembatan antara dirinya dengan markasnya itu. Jika Shadow tidak berkhianat dan hanya Harimau dan Bulan Kegelapan saja, maka Randika tidak perlu repot-repot kembali ke Jepang seperti ini.
Tetapi semua itu hanyalah perandaian.
Randika lihat Shadow yang berusaha bertahan hidup itu. Pada saat ini, darah yang ngalir keluar dari tubuhnya ngundang perhatian para hiu.
Shadow nyadari keberadaan para hiu itu, hatinya kembali rasakan ketakutan.
"Tuan tolong selamatkan aku!"
Shadow yang panik itu mohon pada Randika yang natapnya dengan dingin.
"Aku tidak akan pernah berkhianat lagi jadi tolong selamatkan nyawaku!" Shadow terus nerus mohon. Tetapi Randika sudah nghidupkan sin dan berlayar nuju pulau.
Setelah digigit oleh seekor ular apakah dia masih akan lihara ular itu?
Shadow hanyalah seekor ular, dia sama sekali tidak layak untuk diselamatkan.
"Tidak!!!"
Di belakangnya terdengar jeritan tragis Shadow. Separuh badannya sudah digigit oleh hiu dan akhirnya seluruh tubuhnya diseret ke dalam air.
Blup, blup, blup.
Air laut yang berwarna rah itu nyisakan sebongkahan daging yang rupakan sisa dari Shadow. Akhirnya setelah beberapa saat, laut ini ndapatkan ketenangannya kembali.
Reviews
All reviews (0)