Font Size
15px

lihat mayat Bulan Kegelapan yang larut njadi cairan, Randika berjalan keluar dari ruangan bawah tanah itu.

Ketika dia kembali ke lantai paling atas, seluruh pertempuran telah selesai dan Yuna sudah lepas dari kurungannya. Alasan kenapa Yuna terlihat panik adalah kurungannya miliki beberapa senjata tersembunyi yang akan mbunuh reka berdua.

"Aku pikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi!" Yuna yang lihat sosok Randika sudah nangis seperti bayi. Bajunya yang compang-camping itu mbuat siapapun yang lihat Yuna rasa kasihan dan ingin luknya.

Semua orang rasakan suasana hangat ini dengan gembira. Ketika Randika ingin nghiburnya, di sudut matanya, dia lihat ada sosok yang bergerak di balik kegelapan.

Dalam sekejap, Randika noleh dan lihat sosok tersebut berlari di tengah kegelapan dan berusaha kabur dari tempat ini.

Itu Shadow!

Dia berada di ruangan ini sepanjang waktu. Karena dia sama sekali tidak nemukan kesempatan untuk mbunuhnya, sekarang Shadow berusaha untuk kabur.

"Jaga Yuna baik-baik."

Setelah berkata seperti itu, Randika langsung ngejar Shadow. Dia harus ngacungi jempol pada Shadow, sepertinya perempuan itu nguasai teknik bersembunyi miliknya itu. Kalau bukan karena Randika ngenal sosok Shadow dengan baik, keberadaannya tidak akan diketahui siapapun.

Kali ini Randika tidak akan mbiarkannya kabur!

Tatapan mata Randika fokus pada sosok Shadow di depannya. skipun Shadow berusaha lepaskan diri selama 8x, Randika sama sekali tidak tertipu.

Randika ngekori Shadow dengan ketat, jarak antara reka berdua makin pendek. Shadow sendiri sadar bahwa yang ngejarnya ini adalah Randika, sekarang dia sedikit rasa cemas.

Shadow bergegas nuju balkon diikuti oleh Randika. Pada saat ini, ketika Shadow cahkan jendela, dia lempar granat ke arah Randika.

DUAR!

Randika tertahan dan terhempas oleh ledakan itu. Shadow langsung nggunakan kesempatan ini untuk nyelam ke dasar laut. Beberapa prajurit Randika lihat sosok Shadow dan berusaha nahannya tetapi tidak ada yang bisa ngimbangi kecepatan Shadow.

Randika langsung ngejar Shadow dan tiba di pinggiran pantai.

Kecepatan lari Shadow benar-benar cepat. Ketika dia tiba di pantai dan nyelam, dia langsung berenang dengan cepat nuju sebuah gua tersembunyi dan naiki perahu motor lalu ninggalkan pulau terpencil ini.

Pada saat Randika tiba di pinggir pantai, Shadow sudah berlayar njauhi pulau ini dengan cepat. Untuk kedua kalinya, Shadow berhasil kabur dari kejarannya.

Ketika Shadow lihat sosok Randika yang terdiam di pinggir pantai, dia nghela napas lega.

"Bersabarlah tuanku, kita akan bertemu lagi." Shadow tersenyum pada Randika. "Cepat atau lambat aku akan mbunuhmu dan nama Ares akan njadi milikku!"

Randika yang dapat ndengar kata-kata Shadow itu terlihat celingak-celinguk. Sepertinya tidak ada alat yang layak untuk ngejar Shadow.

"Apa kau frustasi karena tidak bisa nangkapku lagi?" Shadow tertawa dengan keras.

"Jangan pernah lupakan kata-kataku ini Ares, aku tidak akan pernah berhenti ngincarmu! Aku akan nculik orang-orang yang kau sayangi dan nyiksa reka sebelum mbunuh reka semua!" Wajah Shadow benar-benar bengis.

Randika sama sekali tidak njawab tetapi aura mbunuhnya sudah mancar dengan kuat!

"Aku akan ngawalinya dengan Inggrid Elina." Shadow ndengus dingin. "Awalnya aku manfaatkan wanita itu untuk nyibukkanmu, tetapi aku tidak nyangka bahwa kau benar-benar akan jatuh cinta padanya. Hahaha benar-benar ironis."

Pada saat ini, Randika nemukan sebuah papan selancar di tepi pantai.

"Jangan lakukan hal yang sia-sia, kau kira bisa ngejarku dengan papan itu? ski namamu adalah Ares, kau tidak punya perahu untuk ngejarku. Mana mungkin kau bisa ngejarku!"

"Aku tidak akan mbiarkanmu lolos!" Kata Randika dengan nada dingin. Dia lalu ngambil papan seluncur itu dan ngejar Shadow dengan cepat!

Shadow tertawa ketika lihatnya, apa tuannya itu sudah gila? Mana bisa dia ngejar dirinya yang nggunakan sin?

Ya dia tahu bahwa Ares adalah orang yang kuat. Dia sudah ngamati tuannya itu sejak hari pertama, hari demi hari kekuatan Randika itu makin kuat jadi bisa dikatakan tidak ada yang ngenal Randika sebaik dirinya. Tetapi dan kali ini adalah laut, sangat mustahil seorang manusia bisa ngejar sebuah perahu motor.

"Kau ingin aku nunggumu?" Shadow tertawa, tidak ada salahnya ngejek Randika dengan matikan sinnya untuk sentara waktu.

Randika sama sekali tidak njawabnya. Dia sudah berenang nuju Shadow dengan bantuan papan selancar itu.

Ketika ombak besar mulai mbentuk dan berusaha turun, Randika naiki ombak itu dan manfaatkan montum dari ombak. Dengan bantuan kecepatan ini, Randika tiduran di papan seluncurnya dan berenang dengan kedua tangannya nuju perahu Shadow dengan cepat.

Dengan bantuan tenaga alam ini, kecepatan Randika luar biasa cepat. Bahkan lebih cepat dari dirinya berenang ketika berusaha nyerang kapal induk milik Aribano!

Shadow lihat Randika yang berdiri di atas ombak itu dan berpikir bahwa tuannya akan mati tertelan ombak. Namun, dia tidak nyangka bahwa Randika akan manfaatkan ombak tersebut dan ndekati perahunya dengan cepat. Shadow ngerutkan dahinya, kecepatan berenang Randika jauh lampaui dugaannya!

Dengan hati was-was, Shadow mulai berkeringat dingin dan dengan cepat nyalakan sin perahunya.

Ombak di lautan mulai ngamuk, hal ini justru bagus buat Randika. Posisinya dengan perahu Shadow semakin dekat.

Kali ini Shadow tidak berani noleh ke belakang. Dia tidak nyangka bahwa Randika bisa ngejarnya hanya dengan sebuah papan seluncur.

Tangan Randika bagaikan sin, dia ngayuh dengan sangat cepat! Di tengah kepanikannya itu, Shadow ngeluarkan pistolnya dan nembakannya ke arah Randika.

DOR!

DOR!

DOR!

Beberapa tembakan layang tepat ke arah Randika.

Namun pada saat ini, Randika sedang berdiri di atas papan seluncurnya. Dia bergerak ke kiri dan ke kanan sambil nghindari peluru-peluru tersebut. Dan untuk peluru yang terakhir, dia sampai salto di udara dengan papan seluncurnya. Aksinya ini benar-benar keren sampai-sampai dia sendiri muji dirinya.

skipun telah nembakan pistolnya berkali-kali, Shadow terheran-heran kenapa bidikannya tidak bisa ngenai Randika sama sekali. Setiap pistolnya letus, Randika selalu nghindarinya bagaikan seorang akrobat.

Pada saat ini, ombak besar muncul di belakangnya dan mbawa Randika bersamanya. Di saat ombak itu mau jatuh, Randika gang papan seluncurnya dengan satu tangan dan berputar di udara sebanyak 2x sebelum akhirnya ndarat dengan papan seluncurnya.

lihat aksi Randika itu, Shadow sedikit jengkel. Ketika dia berusaha nembak lagi, ternyata peluru dalam pistolnya telah habis.

Kesal, Shadow mbuang pistol kosong itu ke laut dan ngemudikan perahu ini dengan kecepatan maksimum.

Dengan bantuan tenaga dalamnya, kecepatan berenang Randika makin ningkat dan posisinya sudah sangat dekat dengan perahu Shadow.

Randika natap Shadow dengan tatapan dinginnya. Kali ini dia tidak akan mbiarkan Shadow kabur hidup-hidup!

Ketika Shadow noleh ke belakang, dia nyadari bahwa Randika berada tepat di belakang perahunya. Mau tidak mau dia rasakan rasa panik yang luar biasa.

Dia lalu mutuskan untuk ngganti arahnya ke belakang dengan harapan bisa lindas Randika dengan baling-baling sinnya.

Namun, sebelum dia sempat lakukannya, Randika sudah lompat dan sudah berdiri di belakangnya!

"Kau kira bisa kabur dariku?"

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 227: Kau Kira Bisa Kabur Dariku? on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.