Font Size
15px

Para pilot pesawat dari pasukan Ares yang masih sibuk nghindar itu tiba-tiba terkejut ketika ngetahui tuan reka berada di kapal induk musuh. Dan tembakan yang ngarah pada reka secara perlahan mulai hilang. Hal ini juga terjadi di kapal reka.

lihat hal ini, darah semua orang ndidih dan air mata reka turun dengan deras. Inilah tuan reka, raja dari dunia bawah tanah, Ares sang Dewa Perang!

"Ares!"

"Ares!"

"Ares!"

......

Pasukan Ares ini nyerukan nama tuan reka, berkatnya reka semua selamat!

"Semuanya, mari kita susul tuan kita!" Teriak para jenderal dan para letnan.

Di kapal induk lawan, Randika masih sibuk mbunuh para awak kapal yang berani nghadapi dirinya.

Aribano sudah kehabisan anak buah untuk diperintah dan sekarang tinggal dirinya yang masih bertahan hidup.

lihat sosok Randika yang nghampiri dirinya, Aribano ketakutan dan hampir ngompol.

"Tidak!! Hentikan!"

Aribano terus nerus rangkak mundur sambil getaran. Tidak lama kemudian, dia mbentur sisi kapal dan sekarang belakangnya adalah air laut.

noleh ke arah air, dia lihat anak buahnya yang sebelumnya terjun larikan diri dari Randika itu tertelan oleh ombak. Setelah itu keberadaan reka sama sekali tidak terlihat.

Ketika dia lihat ke arah depan, dia lihat Randika sudah berdiri tepat di hadapannya.

Ketika dirinya ingin berbicara, Randika sama sekali tidak mberikannya kesempatan. Randika langsung ngulurkan tangannya dan ncekik sekaligus ngangkatnya.

Aribano layang di udara dengan kaki-kakinya nendang-nendang. Dengan wajah yang datar, Randika remukan tulang lehernya dan mbuang mayatnya ke laut.

lihat musuh yang sudah dikalahkan, para pasukan Ares yang naik ke kapal induk baru ini langsung nyerukan suara kenangan.

"Ares! Ares! Ares!"

Tidak butuh waktu lama bagi reka untuk ngambil alih dan berlayar dengan kapal induk yang besar ini.

"Aku tidak nyangka kita bisa ndapatkan kapal yang keren seperti ini, kapal kita sebelumnya mang terlalu kecil!" Singa masih larut dalam suasana kenangan ini.

Kapal baru reka segera berlayar nuju pulau tempat Yuna disekap.

Seharusnya nurut rencana Bulan Kegelapan, perjalanan Randika dkk seharusnya berakhir di lautan ini. Dan untuk mastikannya, Bulan Kegelapan lengkapi kapal induk dengan berbagai macam senjata. Dia sama sekali tidak nyangka Randika akan berhasil ngambil alih kapal induknya itu

Oleh karena itu, pasukan Randika ngalami peningkatan dalam hal senjata. Di bagian penyimpanan kapal, terdapat senapan sin, senapan serbu, granat dan bazoka.

Semua orang terlihat bahagia sedangkan Randika natap pulau yang sudah masuk dalam jarak pandangnya.

Bisa dikatakan bahwa rencana yang disusun Bulan Kegelapan sangatlah bagus. Dia bahkan mbuat markas di pulau terpencil seperti ini, sepertinya pulau itu bahkan terhapus di peta.

Sambil ngerutkan dahinya, Randika mbulatkan tekadnya. Mau markasnya ada berapa, dia harus mbunuh Bulan Kegelapan dan Shadow.

Tidak lama kemudian, kapal induk ini perlahan dapat lihat pulau itu. Sepertinya Bulan Kegelapan telah mbuat pulau itu njadi markas militer.

Kawat berduri, barak prajurit, nara jaga dan pasukan patroli dapat dilihat jadi kejauhan.

"Sepertinya waktunya kita ncoba kekuatan asli dari kapal induk ini." Kata Dion pada Randika.

Para prajurit di pulau ini nyambut teman reka yang pulang itu dengan gembira dan ngirim sinyal rahasia. Namun, pihak kapal sama sekali tidak respon reka. Para prajurit tersebut rasakan firasat buruk. Ketika reka ingin ngirim laporan pada atasan reka, terdengar suara ledakan yang kakan telinga.

Semua orang di pulau itu njadi panik ketika lihat misil dan hujan peluru yang ditembakan ke arah reka. Pulau ini dibombardir dengan sangat berat!

DUAR!

DUAR!

Suara riam ditembakan terus terdengar dan para pasukan Ares ini nembakan segala macam senjata dengan perasaan senang. Sekarang giliran reka yang mbantai!

"Rasakan peluruku ini! HAHAHA!" Singa nembakan senapan sinnya dengan mbabi buta.

Kemudian Jin mbawa keluar bazoka miliknya dan nembakannya ke nara penjaga. Dalam sekejap beberapa prajurit di dalamnya sudah kehilangan nyawanya dan njadi bongkahan daging!

Seluruh pasukan rasakan darah reka ndidih. Semua segala jenis senjata reka tembakan secara bersamaan dan mbuat pihak pulau terkejut dan tidak bisa bereaksi tepat waktu. reka hanya bisa bertahan dari serangan musuh tanpa bisa nyerang balik.

Barisan pertahanan pulau sudah porak poranda. Oleh karena itu, kapal induk Randika berhasil dengan selamat ndarat di pantai dan luncurkan serangan besar-besaran!

Para prajurit di pulau ini awalnya ingin mbentuk garis pertahanan yang baru tetapi semuanya sudah terlambat. Persenjataan pasukan Randika benar-benar terlalu berat. Lagipula, Raihan dan Randika ikut bertempur dari awal. Kedua sejoli ini tidak bisa dihentikan sama sekali, reka robek setiap pertahanan yang baru saja terbentuk.

Randika dan pasukannya terus maju, reka akhirnya nemukan gedung yang nyerupai kastil di bagian tengah pulau. Gedung itu dijaga ketat dan miliki gerbang tersendiri.

"Minggir! Biarkan temanku ini mbantu kalian hahaha!"

Jin tertawa keras sambil mbidikan bazoka miliknya.

DUAR!

Bersamaan dengan suara ledakan itu, pintu gerbang yang lindungi kastil itu terbuka lebar dan pasukan Ares langsung nyerbu masuk.

skipun ada sedikit perlawanan, reka semua bukanlah tandingan bagi reka.

Setelah masuk ke dalam gedung, pasukan Dion dan Kyoko langsung berpencar untuk ngamankan semua lantai.

Sedangkan Randika, dia segera nuju lantai paling atas yaitu lantai 3. Semua orang yang nghalanginya akan dia bunuh tanpa ampun, reka sama sekali tidak berdaya di hadapan seorang Ares.

Tidak lama kemudian, Randika tiba di lantai teratas. Dia mbuka sebuah pintu yang terkunci dan masuk ke dalam aula yang gelap. Ketika dia masuk, Randika ngerutkan dahinya. Di hadapannya terlihat sebuah kurungan dan Yuna berada di dalamnya.

Randika, yang tanpa berpikir panjang, langsung nerjang ke arahnya. Yuna, yang mulutnya diikat, berkali-kali neriakan sesuatu sambil nggelengkan kepalanya.

Hati Randika ngepal ketika nyadarinya, dia berhenti tepat di depan Yuna.

Pada saat dia berhenti, aula yang gelap itu tiba-tiba njadi terang.

Di bagian samping, tiba-tiba temboknya mbuka dan gambar proyeksi seseorang dapat terlihat. Ternyata orang itu adalah Bulan Kegelapan.

"HAHAHA!"

Bulan Kegelapan natap Randika dan tidak bisa berhenti tertawa.

Randika ngerutkan dahinya dan sama sekali tidak berbicara.

"Ares, aku sudah lama nanti mon ini!"

Di aula yang tertutup rapat ini, suara tawa Bulan Kegelapan benar-benar nggema.

"Aku tidak nyangka kau akan termakan jebakanku ini. Kau kira bisa nemukan Yuna semudah itu? Asal kau tahu, dia juga termasuk perangkapku dasar otak udang! Hahaha! Seluruh gedung ini juga sudah terpasang bom yang luar biasa banyak yang akan mbunuhmu dan pasukanmu itu!"

Namun, ekspresi Randika sama sekali tidak berubah dan dia sama sekali tidak berbicara. Dia hanya lihat proyeksi Bulan Kegelapan dengan tatapan kosong.

Bulan Kegelapan rasa jengkel, kenapa orang ini tidak panik?

"Dan semua bom itu akan ledak jika aku nekan tombol di tanganku ini." Bulan Kegelapan lalu nunjukan tombol yang ada di tangannya. "Selama aku belum nekannya, lebih baik kau berdoa dan ngakui dosa-dosamu."

Namun, Randika masih tetap tidak bergerak ataupun terlihat panik.

DUAK!

Bulan Kegelapan mukul tembok di sampingnya dan napasnya terlihat nggebu-gebu. skipun dengan kondisi seperti ini, orang itu masih natap rendah aku?

"Baiklah kalau itu maumu, hari ini nama Ares akan nghilang dari dunia ini!"

Tetapi pada saat ini, ndadak terdengar suara dari arah belakang Bulan Kegelapan. "Aku rasa tidak!"

noleh ke arah suara tersebut, wajah Bulan Kegelapan penuh dengan ketakutan. Bagaimana bisa! Bukankah harusnya dia ada di ruangan atas?

"Itu cuma gambar." Kata Randika dengan nada datar. Pada saat yang sama, dia nekan tombol di tangannya. Setelah nekannya, Randika yang berada di lantai 3 itu nghilang dari layar. Yang dilihat oleh Bulan Kegelapan adalah gambar dari alat proyeksi yang dipasangnya di luar pintu.

Ternyata dia sudah tertipu!

Randika sudah tahu, Bulan Kegelapan tidak mungkin berada di lantai teratas. Kalau dia bisa nebak, dia akan berada di ruangan rahasianya dan kemungkinan berada di lantai paling bawah.

Bulan Kegelapan benar-benar marah. Ketika dirinya hendak nekan tombol peledaknya, tangannya sudah dicengkeram erat oleh Randika. Saking eratnya, Bulan Kegelapan rasa kesakitan dan lepas tombol di tangannya. Sesudah itu dia dilempar oleh Randika dan mbentur tembok.

Bulan Kegelapan segera berdiri sambil gangi tangan kanannya yang kesakitan, sepertinya pergelangan tangannya itu telah remuk. Namun, dia harus lupakan rasa sakit itu untuk sentara waktu karena sekarang di hadapannya ada aura mbunuh yang sangat pekat tertuju pada dirinya.

Takdir seorang pengkhianat adalah kematian!

Wajah Bulan Kegelapan terlihat panik dan ketakutan, dan pada saat ini, Randika sudah nerjang ke arah dirinya. Bulan Kegelapan ingin lawan balik tetapi kekuatan tempur Randika benar-benar berada di atasnya.

KRAK!

Dalam sekejap, suara tulang tangan kiri Bulan Kegelapan yang patah dapat terdengar jelas. Terlebih, Randika nambahkan sebuah pukulan tepat di dadanya. Bisa dikatakan bahwa riwayat Bulan Kegelapan sudah tamat.

skipun terluka parah, Bulan Kegelapan berhasil mundur. Randika berkata dengan nada dingin. "Aku tidak nyangka kamu akan makai pelindung besi di balik bajumu. Sepertinya itu telah nyelamatkanmu."

Bulan Kegelapan bersandar di tembok dan mulai muntahkan darah. Namun, tatapan dingin Randika masih dapat dia rasakan.

"Kau kira kau bisa mbunuhku?" Bulan Kegelapan tertawa. Randika ngerutkan dahinya dan layangkan sebuah pukulan. Dalam sekejap, tembok itu berlubang dan Bulan Kegelapan sudah berada di ruangan yang lain.

Randika berjalan nghampirinya dengan perlahan sambil berkata dengan nada dingin. "Tidak ada kata ampun untuk pengkhianat sepertimu."

"Oh ya?" Bulan Kegelapan yang sudah terkapar di lantai itu masang wajah ngejek.

Randika ngangkat kakinya dan nginjak Bulan Kegelapan. Dalam sekejap, Bulan Kegelapan sudah tidak dapat nggerakan kakinya sama sekali.

Setelah itu, Randika ngangkat kakinya sekali lagi dan matahkan hidungnya.

Bulan Kegelapan hanya natap Randika sambil terus tertawa, tawanya sangat nggertakan hati. Bulan Kegelapan yang sekarang sudah tidak bisa apa-apa lagi, dia hanya nunggu ajalnya.

Dan tidak perlu waktu yang lama, Randika mberikan pukulan matikannya dan mbunuh Bulan Kegelapan. Ketika dia riksa mayat Bulan Kegelapan tersebut, Randika nyadari bahwa Bulan Kegelapan di hadapannya ini hanyalah sebuah kloning.

Randika langsung rasakan rasa tidak berdaya di dalam hatinya. Dia tidak tahu seberapa banyak kloning yang dibuat oleh Bulan Kegelapan. Kalau seperti ini terus, dia tidak bisa mbunuh Bulan Kegelapan yang asli.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 226: Takdir dari Bulan Kegelapan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.