Kembalinya di rumah amannya, Randika antusias ndengar laporan ngenai Yuna. Informasi ini juga berkaitan dengan keberadaan Bulan Kegelapan dan Shadow.
Dari tiga crownless king, hanya Raihan yang ada di rumah ini dan sisa duanya masih neruskan ngumpulkan informasi. Dari kelima jenderal, hanya Serigala yang masih latih calon-calon prajurit yang baru bersama dengan Matthew dan Martin. Selain si kembar itu, para letnan yang lain sudah berkumpul bersama Randika.
Para pilar pasukan Ares kembali berkumpul atas perintah tuan reka.
"Yuna disekap di sebuah pulau." Kata Randika. "Informasi ini dapat dipercaya."
"Kalau begitu tunggu apalagi tuan? Mari kita hajar reka!" Singa yang paling sembrono itu langsung bersemangat dan berdiri dari kursinya. Semuanya nggelengkan kepalanya lihat sikap tidak sopannya itu.
Randika ngangguk dan mbagikan informasi ini. Setelah beberapa persiapan, reka semua berangkat nuju pulau tersebut.
Pertempuran kali ini berlokasi di sebuah pulau terpencil yang jauh dari ibukota. Butuh waktu sekitar 4 jam dari Tokyo untuk sampai di pinggiran pantainya. Di sana, kapal dan pesawat pengintai sudah siap nunggu reka di sana.
Beberapa orang naiki pesawat pengintai dan sisanya masuk ke dalam kapal.
Untuk pertempuran kali ini, selain para elite, kira-kira 100 orang siap bertempur hingga mati demi nama Ares. Pertempuran sebelumnya telah nelan korban yang begitu banyak dan Serigala belum selesai latih para prajurit baru. Oleh karena itu, untuk nutupi celah jumlah ini, Randika mbawa para jenderal dan letnannya bersamanya. Ketika Bulan Kegelapan berhasil dikalahkan, pasukannya ini akan terisi kembali pelan-pelan.
Laut mulai berkabut, Singa yang berada di buritan kapal ngerutkan dahinya. "Apa kalian tidak kepikiran kenapa kita bisa nemukan Bulan Kegelapan secepat ini? Apakah ini jebakan?"
"Mulutmu harimaumu." Jin yang ada di sisinya tiba-tiba negurnya. "Jangan berpikiran negatif seperti itu, bagaimana mungkin Bulan Kegelapan bisa tahu gerakan kita ini?"
ndengar kata-kata Singa tersebut, Randika ngerutkan dahinya. mang dia ngirim orang untuk ncari keberadaan Bulan Kegelapan, yang jadi pertanyaan adalah apakah Bulan Kegelapan lakukan hal yang sama?
Jika iya maka Bulan Kegelapan akan ngerti setiap gerakannya, terlebih lagi reka sekarang terjebak di laut dan apabila Bulan Kegelapan sudah siap dengan kedatangannya maka hal ini akan buruk bagi pasukannya.
Selain orang yang ada di pesawat, semuanya ada di kapal yang besar ini. skipun belayar dengan cepat, kabut di laut yang tebal ini nghalangi jarak pandang reka. Tidak seperti kapal induk, kapal ini tidak mpunyai persenjantaan yang berat seperti misil ataupun senapan sin yang terpasang. Jadi jika musuh datang dari atas, maka reka akan dibombardir tanpa bisa mbalas.
"Lihat di depan!" Kyoko nyadari sesuatu di teropongnya.
Ketika semua ndengar suara Kyoko, semua orang lihat ke arah yang ditunjuknya. Di depan reka, terlihat kapal induk yang berlayar ke arah reka. riam-riam reka sudah mbidik ke arah reka. Dengan jarak reka sekarang, misil-misil itu bisa ngenai reka dengan mudah.
"Seharusnya aku tidak berpikiran negatif tadi." Wajah Singa njadi pucat pasi. Dia nggaruk rambutnya sambil ngatakan. "Sepertinya ada mata-mata Bulan Kegelapan di rumah aman kita."
Raihan yang berada di pesawat pengintai ngerutkan dahinya. Tempat pertempurannya kali ini adalah laut, jarak yang jauh ini tidak mungkinkan teknik pedangnya untuk mbalas tembakan senjata api lawan.
Situasi benar-benar buruk.
Wajah Raihan sudah benar-benar pucat pasi. Jika dia nerjang turun ke kapal lawan, persenjataan musuh akan mbombardir dirinya. Jika dia tidak lincah dalam nghindar, maka itu sama saja dengan misi bunuh diri.
"Apa yang harus kita lakukan?" Dion bertanya pada rekan-rekannya, hampir semua orang sudah tidak tahu harus berbuat apa.
Pada saat ini, senapan sin di kedua sisi kapal musuh juga mulai bergerak. Semua senjata ngarah pada kapal Randika yang sangat empuk itu.
DUAR!
DUAR!
DOR!
DOR!
Misil serta senapan sin mulai ditembakan dan semua ngarah pada kapal dan pesawat Randika.
"NGHINDAR!"
Randika berteriak dan seluruh awak kapal njadi panik. Pesawat-pesawat pengintai milik reka juga nghindari hujan peluru yang padat. Dalam sekejap pesawat-pesawat tersebut berpencar. Namun, sebagian pesawat terkena dan langsung terjun bebas ke dalam laut. Di tengah laut ini terdengar ledakan dan suara pesawat yang terjatuh, mbuat laut yang tenang njadi kacau.
Wajah Randika juga sama pucatnya. skipun tembakan putaran pertama ini belum dapat nenggelamkan kapalnya, kapalnya ini tidak bisa bertahan apabila ditembaki secara terus nerus.
"Kuatkan tekad kalian, padamkan api dan bersiap untuk naiki kapal musuh." Polemos nguatkan tekad anak buahnya. Satu-satunya jalan adalah naiki sekoci dan bergerak ke kapal musuh.
Di kapal induk musuh, kapten kapal yang bernama Aribano itu lihat kapal Randika yang masih ngapung. Dia rintahkan anak buahnya untuk terus nembak.
Terlebih lagi, Bulan Kegelapan sudah nyiapkan senjata yang lengkap apabila lawan berhasil naiki kapal reka seperti senapan serbu, granat, peluncur roket dll.
Namun, pasukan Ares ini kalah persenjataan dan jarak reka terlalu jauh. Para pesawat pengintai reka pun tidak dilengkapi oleh senjata jadi reka sama sekali tidak bisa nyerang.
"Sialan! reka benar-benar pengecut nyerang kita seperti ini!" Kata salah satu prajurit. Dia ngamuk karena tidak bisa mbalas dendam temannya yang ninggal barusan terkena peluru.
Aribano yang lihat kepulan asap hitam mulai njulang tinggi di kapal Randika itu terlihat tersenyum.
"Ternyata cuma segini kekuatan si Ares."
Aribano hanya nggelengkan kepalanya dan minum kopinya.
Dengan kekuatan seperti itu reka berharap nghadapi tuannya? Mimpi!
"Ambilkan senjataku." Kata Aribano pada bawahannya.
Seseorang lalu mbawakan SSG 69 buatan Austria itu pada Aribano. Dia lalu mbidik ke arah Randika yang berdiri diam di kejauhan.
Randika, yang nyadari dirinya diincar itu, untuk sesaat ngerutkan dahinya.
lihat targetnya yang rapuh itu, Aribano tersenyum. Ares, kau akan mati olehku!
DOOOR!
nekan pelatuknya, peluru dari senjata sniper itu lesat kencang ke arah kepala Randika.
Namun sayangnya, Randika tiba-tiba lompat ke dalam air. Setelah narik napas sekali, seluruh badannya nghilang dari permukaan air.
Aribano yang lihat ini dari lensa teropongnya itu terkejut. Mustahil pelurunya ngenainya secepat itu, berarti seorang Ares itu kabur nyelamatkan dirinya?"
"Ternyata kau cuma seorang pengecut Cepat tenggelamkan kapal musuh, aku ingin makan malam dengan santai hari ini." Kata Aribano sambil nyerahkan senapannya.
Dia tidak nyangka Ares akan nyelamatkan dirinya seperti itu dan ngorbankan teman-temannya. Nafsu mbunuhnya langsung hilang karena lawannya ini tidak pantas bagi dirinya. Lagipula, hanya masalah waktu sebelum pasukannya nenggelamkan baik kapal ataupun pesawat musuh.
Setelah Randika nyelam ke dalam air, dia ngumpulkan tenaga dalamnya di kaki dan tangannya. Dengan kecepatan berenang yang luar biasa, dia bergerak nuju kapal induk musuh. Jika dia tidak segera lumpuhkannya, lebih dari nyawa 100 orang bawahannya itu akan mati seketika.
Aribano sudah berniat masuk ke dalam kabinnya ketika lihat situasi pertempuran yang mbosankan ini. Dia sudah berniat laporkan kenangannya ini pada Bulan Kegelapan.
"Panggil aku kalau kalian sudah selesai." Kata Aribano dengan santai. Situasi pertempuran ini sudah tidak mbutuhkan komandonya jadi dia berniat bersantai di kabinnya.
Namun ketika dia hendak pergi, tiba-tiba terdengar teriakan seseorang manggilnya. "Kapten! Kapten!"
Aribano noleh dan ngerutkan dahinya. "Kenapa teriak-teriak?"
"Anu Jadi begini" Orang itu kehabisan napas dan terlihat panik.
Aribano rasakan firasat buruk ketika ndengar laporannya. Dia lalu lihat ke arah air dan lihat sosok Randika, yang dikiranya kabur, berenang dengan kecepatan yang luar biasa nuju kapalnya!
Bukan, itu tidak bisa dikatakan berenang. Itu seperti torpedo!
Apa orang itu punya roket di kakinya?
Aribano yang lihat hal ini nelan air ludahnya, kecepatan berenang Ares benar-benar abnormal!
"Tembak dia!"
Dengan cepat Aribano mberikan perintah. Ketika awak kapal ndengarnya, semua senjata ngarah pada Randika seorang. Tiba-tiba, ombak laut yang tenang mulai bergejolak di sekitar kapal induk ini. Namun, tidak ada satupun peluru ataupun misil yang ngenai Randika.
"Semuanya berkumpul dan bawa senapan serbu kalian!"
Suara Aribano sudah terdengar serak, tidak sebagus sebelumnya. Dia rasa bahwa ancaman yang dibawa Randika itu benar-benar buruk baginya, jadi dia harus mbasminya sebelum dia ncapai kapalnya!
Di bawah barisan senapan serbu yang berbaris dengan rapat, semua awak kapal nembak ke arah Randika. Namun, Randika nyelam makin dalam untuk nghindari hujan peluru ini.
lihat tidak ada sosok yang berenang di permukaan setelah beberapa saat, Aribano ncari-cari posisi Randika dengan teropong. Setelah nembakkan seluruh magasin reka, para awak kapal juga ncari-cari target reka. reka bertanya-tanya apakah reka berhasil mbunuhnya? Namun, tidak butuh waktu lama bagi reka untuk nemukan sosok Randika yang ngambil napas dan berenang kembali.
Tidak kena!
Aribano yang baru saja rasakan rasa senang itu kembali tegang. "Tunggu apalagi? Tembak!"
Para awak kapal kembali nembakan senjata reka, namun sosok Randika makin ndekati kapal reka tiap detiknya.
Setelah satu putaran penuh magasin, para awak kapal ini ncari kembali sosok Randika yang nyelam ke dalam air.
Ketika Randika nyelam, para awak kapal ini rasakan firasat buruk. Permukaan air laut benar-benar tenang.
Ketika reka sibuk ncari ke segala arah, sebuah sosok manusia layang tinggi di hadapan reka dan nutup sinar matahari yang cerah itu.
Semua awak kapal langsung mbidikan senjata reka kepada Randika yang baru saja ndarat di belakang reka. Namun semuanya sudah terlambat. Randika dengan cepat sudah nerjang ke arah reka dan mbunuh reka satu per satu!
"Tembak terus!" Aribano dengan cepat ngeluarkan pistolnya. Dia tidak nyangka bahwa Randika bisa naiki kapalnya dengan cara seperti itu.
Namun, Randika sudah berhasil motong jarak di antara reka dan bertarung dengan jarak dekat. Para awak kapal ini ragu untuk nembakan senjata reka, bisa-bisa tembakannya malah ngenai temannya sendiri.
manfaatkan hal ini, Randika nghajar reka satu per satu.
Reviews
All reviews (0)