Font Size
15px

lihat sosok Randika yang tersenyum itu mbuat Azumi nggertakan giginya, dia tidak punya pilihan lain. Jika dia tidak mbuat pria dari Arika itu babak belur, reputasi dirinya dan barnya akan ngalami keruntuhan.

"Jangan lihatku seperti itu, semua itu tergantung dengan dirimu bukan?" Kata Randika sambil tersenyum. "Aku tidak akan maksamu untuk nerima penawaranku ini, itu tentu tidak baik untuk hubungan bisnis kita bukan? Jadi kita harus adil dan terbuka, kalau tidak maka kita tidak bisa nyebut diri kita pebisnis."

Azumi kehabisan kata-kata. Dia nghela napasnya dan natap Randika, sambil nggertakan giginya dia berkata dengan nada yang enggan. "Baiklah, aku akan nuruti kata-katamu. Aku akan nemanimu."

"Kamu kira bisa nipuku?" Randika tersenyum sinis. "Semuanya harus diperjelas di depan. Minum bersamaku bisa didefinisikan sebagai nemaniku dan tidur di sampingku juga termasuk nemaniku. Aku minta kejelasan dari mulutmu itu sendiri agar tidak terjadi kesalahpahaman."

Azumi dibuat gila oleh Randika, sambil nggigit bibirnya dia ngatakan. "Aku akan berhubungan badan denganmu."

Orang Arika itu sudah muak nunggu dan nghampiri Azumi. Pada saat ini, dia ndengar janji Azumi untuk tidur dengan Randika.

Dalam sekejap, hati pria itu dibakar oleh api amarah.

"Hei bocah, wanita ini milikku. Apa kamu tidak tahu pepatah siapa cepat dia dapat?" Pria itu ngepalkan tinjunya.

Siapa cepat dia dapat?

Azumi marah ketika ndengarnya, apa dia semacam barang?

Azumi, yang masih marah, ndengus dingin dan berjalan nghampiri Randika. Pada akhirnya, kata-katanya ini mbuat semangat Randika mbara. "Aku akan mberimu informasi secara gratis jika bisa nghajar pria ini."

lihat pria Arika itu datang nghampiri Azumi dan seorang lelaki lainnya, semua orang di lantai dansa itu nduga akan terjadi konflik yang baru.

"Habis sudah bar ini, pria asing itu benar-benar kuat! Percuma nona Azumi minta bantuan ke orang kuru situ." Seseorang nggelengkan kepalanya ketika berbicara ngenai nasib bar ini.

"Belum tentu." Temannya itu nyadari sosok Randika yang sebenarnya. "Aku rasa pria asing itu akan terbunuh sebentar lagi."

"Hah? Gila ya kamu? Mana mungkin laki itu bisa ngalahkannya?"

"Hahaha, lihat saja nanti."

..........

Semua orang miliki opininya masing-masing, tetapi pada saat ini, situasi mulai manas.

Randika sama sekali tidak ndengar provokasi pria asing tersebut, dia masih minum winenya dengan santai.

"Hei kau dengar aku tidak? Wanita itu adalah milikku!" Pria itu ngepalkan tinjunya. Ketika lihat Randika tidak peduli dengannya, amarahnya makin njadi-jadi. "Apa kau pikir aku takut nghancurkan isi kepalamu itu?"

"Aku rasa kau tidak mampu lakukannya." Randika nghela napasnya.

Kali ini pria itu sudah tidak sabar lagi. Dia ingin nghajar bocah itu hingga dia cacat dan tidak bisa berjalan lagi. Tidak pernah ada orang yang berani bertindak arogan pada dirinya!

Kepalan tinjunya layang ke arah wajah Randika, seluruh amarah dan kekuatannya terkandung di dalam satu pukulan ini. Tetapi, pukulannya itu dengan mudah nghantam udara kosong.

Pria itu terkejut dan semua orang yang lihat pertarungan ini juga ikut terkejut, Randika hanya berdiri dan nghindari pukulan itu dengan mudah.

ngingat bahwa mungkin pria asing itu hanya ingin nggertak lawannya, semua orang berpikir bahwa semua itu hanya kebetulan saja.

Randika masih gang gelas winenya di tangan kirinya. Dia minum kembali wine senilai 10 juta yennya itu dengan santai. lihat lawannya rehkannya, pria itu layangkan pukulannya sekali lagi. Namun, lagi-lagi pukulannya tidak ngenai sasarannya. Randika hanya nggeser kepalanya sedikit untuk nghindari pukulan matikan lawannya.

Pria Arika ini terheran-heran dan matanya terbelalak. Bagaimana bisa kedua serangannya ini dihindari oleh pria yang terlihat biasa-biasa saja ini?

lihat sosok Randika yang santai minum winenya, orang-orang yang tidak ngenal siapa Randika sebenarnya juga terheran-heran. Kenapa bisa pemuda itu belum terkena pukulan orang asing itu?

Setelah beberapa saat, pria itu layangkan pukulannya lagi pada Randika. Kali ini, targetnya adalah dada Randika. Dia ingin motong jalur pernapasan Randika dan nghajarnya ketika dia kesakitan.

Namun pada saat ini, Randika telah nghabiskan winenya. Dia berjalan nghampiri Akira untuk mintanya nuangkan kembali sambil nghindari pukulan lawannya.

Gagal tiga kali berturut-turut mbuat semua orang nebak-nebak siapa Randika itu sebenarnya. Kalau bukan kebetulan berarti kekuatan orang itu jauh di atas pria asing itu!

Sedangkan di tatapan mata orang Arika ini sudah ngandung rasa takut dan ngeri. Tidak diragukan lagi, lawannya itu masih nyimpan kekuatannya yang sebenarnya.

Randika, yang gelasnya sudah penuh kembali, pura-pura terlihat terkejut. "Eh! Sejak kapan kau ada di belakangku?"

lihat sandiwara ini, pria itu ngerutkan dahinya. Apa berarti sebelumnya itu semua hanya kebetulan saja? Lagipula mana mungkin ada orang yang lebih kuat darinya?

"Aku siap, majulah kapan saja." Kata Randika sambil tersenyum.

Ketika orang-orang ndengar hal ini, reka rasa kasihan pada Randika. Sepertinya keberuntungan orang ini telah habis, tentu seharusnya sebentar lagi dia akan babak belur.

Tetapi beberapa detik berikutnya, semua orang terkejut-kejut ketika lihat hasil pertarungannya. Hanya dengan satu pukulan, pria asing dari Arika itu terpental dan mbentur tembok!

Suasana langsung njadi hening seketika.

Semua orang yang tidak nyadari sosok Randika yang sebenarnya terkejut bukan main. Bahkan Akira yang sudah pernah lihat kehebatan Randika terkejut lagi.

Randika yang masih minum winenya itu berkata dengan cukup keras agar bisa terdengar oleh semua orang. "Maaf sepertinya aku terlalu banyak makai tenagaku, apa kau baik-baik saja?"

Ini bagaikan nyiram minyak ke api. Pria itu makin ngamuk, dia langsung berdiri dan nerjang ke arah Randika.

Kali ini dia akan lumat kepala Randika hingga isi kepalanya itu keluar!

Larinya makin lama makin cepat, setelah cukup dekat dia raung keras dan layangkan pukulannya.

Berkat kecepatannya ini, kekuatan pukulannya njadi berlipat ganda. Tetapi berkat kecepatannya itu, Randika mbuatnya layang lebih jauh lagi.

Pria itu berdiri kembali. Kali ini dia rasa pusing dan pandangannya mulai kabur. Kemudian dia lihat Randika yang tersenyum ke arahnya, seakan-akan sedang ngejek dirinya.

Untuk ketiga kalinya, pria itu berdiri dan nerjang kembali. Dan sesuai dugaan semua orang, pria asing itu kembali layang dan mbentur tembok dengan keras. Kali ini dekorasi tembok juga ikut jatuh dan nimpanya.

Kali ini pria itu tidak langsung berdiri kembali. Dia natap Randika yang berdiri di hadapannya dengan tatapan ngeri. Lawannya ini jelas bukan sembarangan, kalau tidak dia sudah nghajarnya dari tadi. Bahkan dirinya yang mantan petinju juara dunia itu sama sekali tidak berkutik di hadapan pria ini.

Jagoan, pasti orang ini jagoan bela diri!

"Apa sudah selesai?" Tanya Randika sambil tersenyum.

Pria itu tidak njawab, dia berdiri dan berkata sambil berlari nuju pintu keluar. "Wanita itu milikmu."

Semua orang langsung berdiskusi setelah lihat pria asing itu lari terbirit-birit.

"Wow pemuda itu ternyata kuat sekali!"

"Aku tidak tahu cara apa yang dipakainya untuk bisa nang."

"Orang itu adalah ahli bela diri yang ternama." Orang yang nglihat aksi Randika malam itu berkata dengan nada bangga. "Kejadian hari ini biasa-biasa saja bagiku, kalian belum lihat kejadian pada."

Tiba-tiba suasana riah ini njadi hening ketika suara tepukan tangan Randika yang keras ngarah pada Azumi yang sedang rokok di pojok ruangan. Dengan suara lantang dia berkata pada pemilik bar itu. "Aku sudah mbereskan masalahmu. Jadi kita tidur bersama malam ini atau besok?"

Azumi ngeluarkan asap rokoknya dan terbatuk. Dengan berjalan perlahan, dia nghampiri Randika.

"Terima kasih atas bantuanmu kali ini." Kata Azumi dengan tersenyum, dia berusaha terlihat secantik mungkin. Lalu sambil ngerutkan dahinya dia berkata pada Akira. "Keluarkan botol wine terbaik kita."

"Sudah cukup." Randika nyeret Azumi untuk duduk di pangkuannya. "Aku tidak perlu mabuk untuk ncicipi tubuhmu ini. Jadi bagaimana? Kamu ingin lakukannya di kamarmu atau di kamarku?"

Wajah Azumi berkedut, dia malingkan wajahnya dan berkata dengan nada yang tenang. "Ares, aku yang sudah tua ini tidak pantas njadi perempuanmu."

"Itu semua tidak ada hubungannya dengan diriku atau tidak, semua ini adalah hasil dari kata-katamu sendiri. Jangan bilang seorang dengan reputasi tinggi sepertimu ingin langgar kata-katanya sendiri?" Kata Randika sambil tersenyum.

Azumi yang duduk di pangkuan Randika itu tersenyum pahit, dia nghisap rokoknya kembali.

Untuk beberapa saat, Azumi benar-benar kehabisan ide. Jika ini orang lain, maka dia akan ncari orang untuk mbunuh orang tersebut. Tetapi siapakah pria di hadapannya ini? Dia adalah Ares sang Dewa Perang yang ditakuti semua orang. Siapa mangnya yang bisa mbunuhnya?

Terlebih lagi, Randika sama sekali tidak takut terhadap ancaman apa pun, dirinya sama sekali tidak berdaya.

"Apakah aku bisa mbayar jasamu itu dengan cara yang lain?" Kata Azumi dengan nada yang enggan.

"Baiklah kalau begitu." Kata Randika.

Azumi terlihat senang, sepertinya dia bisa lolos hari ini.

"Kalau begitu apa maumu?" Kata Azumi sambil tersenyum.

"Pertama, aku ingin informasi yang kamu tawarkan gratis sebelumnya njadi 3 kali kesempatan."

"skipun aku tidak rela, tetapi baiklah."

"Yang kedua, sini aku bisiki." Senyuman nakal Randika mulai njulang tinggi.

Azumi ndekatinya dan tiba-tiba Randika manfaatkan hal ini untuk nciumnya!

Ya Tuhan betapa enaknya!

Randika rasa bibir Azumi berbeda dengan perempuan-perempuan yang sudah dicicipinya. Ketika dia ingin nikmatinya ini lebih lama, Azumi sudah ndorongnya dengan kuat.

Randika yang sedikit puas itu berkata sambil tersenyum. "Baiklah kita impas."

skipun marah, Azumi berusaha nenangkan dirinya.

"Kalau tidak urusan, cepat sana pergi."

lihat Azumi yang njauhi dirinya, Randika rasakan sedikit kekalahan.

Kenapa? Karena dia tidak sempat remas pantat indah itu.

"Yang ketiga adalah aku ingin satu botol wine ini secara gratis. Namamu Akira bukan? Cepat bungkuskan aku satu botol itu."

Randika ngambil botol itu dan langsung nuju pintu keluar.

Sesaatnya dia keluar, HP Randika ndadak bunyi.

"Tuan, kami nemukan petunjuk ngenai Yuna."

Yuna mang rupakan salah satu dari 8 letnan dari pasukannya, tetapi Randika lebih mbutuhkan kecerdasannya untuk mbuat ramuan X dan mbangun laboratorium miliknya. Jadi keberadaan Yuna sangatlah krusial baginya.

Yuna juga rupakan salah satu orang yang ngikuti dirinya paling lama jadi hubungan reka benar-benar dekat. Terlebih, dengan nyelamatkan Yuna mungkin akan mbawanya selangkah lebih dekat dengan Bulan Kegelapan dan Shadow.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 224: Lembutnya Bibir Nona Azumi! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.