Ketika Randika ingin pergi dari tempat ini, pria yang berasal dari Arika itu ncengkeram erat tangan Azumi.
Azumi njadi marah karena tingkah laku pria ini yang terlalu maksa.
Azumi berusaha lepaskan diri sambil berkata dengan nada dingin. "Aku adalah pemilik dari bar ini. Jika kau terus maksa seperti ini, berarti kau ngajak perang seluruh bar ini."
"Aku tidak peduli berapa ikan teri yang kamu punya, aku akan ngirim reka ke liang kuburnya." Kata pria itu sambil tertawa. "Malam ini kamu akan rintih di tempat tidur bersamaku, malam ini kamu adalah milikku!"
Suara pria ini sangatlah keras hingga orang-orang dapat ndengar pembicaraan reka.
Semua orang yang di bar ini sudah ngetahui reputasi nona Azumi, baru pertama kali ini reka lihat ada seorang laki-laki yang berani bertindak arogan seperti itu pada nona Azumi.
"Siapa orang asing itu?"
"Aku tidak tahu, tetapi sebentar lagi dia pasti mati."
"Bodoh sekali dia, sepertinya dia tidak tahu kalau sudah nginjak ranjau."
"Terakhir kali laki-laki yang berani berbicara seperti itu pada nona Azumi dilarikan ke rumah sakit dengan luka yang parah. Aku dengar dia sudah tidak bisa berjalan dengan benar."
.......
Semua orang bergosip dengan suara yang pelan, topik yang reka bahas adalah tindakan berani pria Arika itu yang maksa Azumi untuk tidur dengan dirinya.
Ekspresi wajah Azumi benar-benar dingin, tetapi dia tiba-tiba tersenyum. Sepertinya senyumannya ngandung niat mbunuh.
"Kalau begitu jangan nangis ketika orang-orangku nerjang ke arahmu." Kata Azumi.
"Sudah kubilang, mau berapa pun yang kamu kirim aku akan ngirim reka ke liang kuburnya seperti reka berdua." Kata pria itu sambil tertawa.
Dua pengawal yang dihajarnya sebelumnya masih terkapar tidak sadarkan diri di lantai.
"Kita lihat apakah kau masih bisa searogan ini ketika semua orang nerjang ke arahmu."
"Semua orang?" Pria itu ndengus dingin. "Baiklah tidak masalah. Tetapi ketika orang-orangmu itu sudah kalah semua, kamu harus tidur denganku. Cepat suruh reka nyerang."
lihat sifat arogan pria ini, Azumi benar-benar sudah muak. Dengan satu tepukan tangannya, semua pengawalnya yang ada di dalam bar ini berkumpul. Orang-orang yang berada di lantai dansa berhenti nari dan mberikan ruang.
Pria itu natap semua pengawal itu. Setelah lakukan pemanasan, dia tersenyum pada Azumi. "Kalau begitu mari kita mulai?"
"Kapan pun kau siap." Wajah Azumi terlihat dingin. Dia tidak percaya satu orang bisa ngalahkan seluruh pengawalnya seorang diri. skipun teori ini tidak berlaku pada Randika, itu semua karena dia adalah Ares sang Dewa Perang. Azumi percaya bahwa pria biasa seperti orang itu tidak mungkin bisa.
Namun tanpa diduganya, pria Arika itu nerjang maju dengan kedua tangannya lindungi kepalanya. Pukulan demi pukulan dia layangkan dengan begitu cepat.
Pria ini miliki tinju yang sangat kuat, pengawal yang berbadan besar itu tidak berdaya terkena pukulannya. Belum lagi, pria ini sangat lincah dan cepat. skipun para pengawal itu ngepungnya, dia bisa nghindari sekaligus mberikan serangan balik.
Pukulan demi pukulan berhasil numbangkan lawannya satu per satu.
Azumi yang lihat hal ini mau tidak mau mulai berkeringat dingin. Satu per satu pengawalnya tumbang dan pria itu sama sekali tidak terluka.
Hasil seperti ini benar-benar di luar dugaannya. Para pengawalnya ini adalah mantan pasukan terlatih jadi kekuatannya bisa dikatakan sangat kuat. Kecuali lawannya seorang ahli bela diri dunia seperti Ares, semua pengacau yang selama ini ngacau di bar ini telah reka hajar. Namun tanpa diduga, pria dari Arika ini sangatlah kuat.
Dia sama sekali belum nerima satu pukulan skipun lawannya lebih dari 20 orang. Setelah dikepung oleh 5 orang, akhirnya satu pukulan ndarat di perutnya. Tetapi baginya, pukulan itu seperti garukan di perutnya.
Setelah beberapa nit berlalu, pria itu masih berdiri dengan kokoh.
"Wah orang itu ternyata kuat!"
"Sepertinya nona Azumi tidak akan tidur malam ini."
"Siapa yang ngira ternyata lawannya itu sekuat itu? Nona Azumi juga pasti tidak nduganya."
Setelah lihat sendiri cara bertarung pria itu, sebagian besar orang mulai ngasihani nona Azumi. Apalagi ketika semua pengawal bar ini sudah terkapar tidak sadarkan diri.
"Bagaimana?" Pria itu nghampiri Azumi sambil tersenyum. "Kamu sudah tidak punya alasan lagi untuk nghindariku."
lihat pria itu nghampiri dirinya, Azumi mulai cemas. Dia tidak nduga anak buahnya akan kalah semua. Sepertinya tidak ada jalan lain selain nyerah.
Tetapi tiba-tiba, Azumi nyadari keberadaan Randika yang masih duduk dengan santai sambil minum winenya. Dalam sekejap matanya tampak berbinar-binar.
"Masih belum." Azumi tersenyum dan nggelengkan kepalanya.
"Maksudmu?" Pria itu ndengus dingin. "Kamu ingin ngingkari janjimu?"
"Aku sama sekali tidak berkata seperti itu, maksudku adalah kau belum ngalahkan semua bawahanku di bar ini." Kata Azumi.
"Bukankah orang-orang yang tak sadarkan diri itu adalah semua anak buahmu?" Pria itu nunjuk para pengawal yang pingsan di lantai dansa. Azumi nggeleng lalu tersenyum.
"Kalau begitu keluarkan semua sisa orang-orangmu itu. Nasibmu untuk muaskan nafsuku sama sekali tidak berubah." Kata pria itu dengan nada dingin, dia yakin malam ini akan nikmati tubuh Azumi itu.
Azumi berjalan dan nghampiri Randika. Setelah duduk di sampingnya sambil tersenyum, Randika langsung berkata bahkan sebelum dirinya mampu berbicara. "Kenapa kamu ngganggu acara minumku?"
"Bukankah lebih baik minum bersama temanmu? Apalagi setelah temanmu ngalami hari yang buruk." Dengan nada yang nyedihkan Azumi berusaha minta tolong pada Randika.
"Oh kasihan sekali kamu." Randika ngangguk tetapi dia sama sekali tidak berniat untuk mbantu.
Azumi mulai nggigit bibirnya. "Apa kamu tidak bisa mbantuku kali ini saja?"
"Buat apa aku mbantumu?" Randika noleh dan tersenyum. "Bukankah kita hanya rekan bisnis? Berarti ada harga yang harus dibayar untuk jasaku."
ndengar kata-kata ini, Azumi njadi marah dalam hatinya. "Kalau begitu, berapa harga yang harus kubayar?"
Randika ngedipkan matanya dan tersenyum, "Hargaku sangat murah. Aku hanya ingin kamu nghangatkan kasurku."
ndengar kata-kata ini, Azumi ngerutkan dahinya.
nghangatkan kasur, dia pernah ndengar hal ini dari temannya. Bisa dikatakan di jaman dahulu di negeri tetangga, seorang pembantu pribadi perempuan diharuskan nghangatkan tempat tidur majikannya sebelum waktunya tidur. Tentu saja, para pembantu ini juga berusaha mikat hati tuannya. Dan semua tergantung pada majikannya, jika dia senang dengan pelayanannya maka dia akan berhubungan badan dengannya. Apabila berhasil hamil, para pembantu itu akan diangkat njadi selir.
lihat ekspresi tersenyum Randika, Azumi benar-benar marah. Dia ingin nolak ntah-ntah tawaran itu. Tetapi lihat kondisinya yang sekarang, dia tidak bisa nolaknya.
"Kalau tidak mau tidak apa-apa." Randika malingkan wajahnya. "Sebenarnya aku sedang sibuk jadi aku sedang buru-buru. Omong-omong wine ini enak juga, namamu Akira bukan? Masukan tagihan botol itu ke tagihanku."
lihat Randika yang hendak pergi, Azumi langsung berteriak. "Tunggu!"
Randika noleh sambil tersenyum. Dia percaya bahwa Azumi akan mbutuhkan dirinya jadi dia terlihat santai.
"Apa kamu nerima persyaratanku? Waktuku itu berharga, tiap detiknya senilai 10 juta yen." Randika pura-pura jual mahal. "Kalau tidak mampu mbayarnya dengan uang maka bayarlah dengan tubuhmu itu."
Reviews
All reviews (0)