Font Size
15px

lihat Naomi yang ngangkat tinggi rok Kaori itu, barang milik Randika makin ngeras. Sepertinya Naomi benar-benar ngenal dirinya, teman seperti ini asyik juga.

"Lihat itu, pacarmu sudah siap nusukmu. Besok sepertinya kamu tidak bisa berjalan dengan benar, hahaha!" Naomi mulai tertawa keras.

Kaori hanya bisa tersipu malu dan nutupi bagian bawahnya.

Setelah bangkit berdiri, ketiganya berganti celana dan mulai bermain kartu bersama Randika. Namun, pikiran Randika masih ke mana-mana jadi dia sama sekali tidak fokus bermain.

Setelah beberapa saat, Randika mutuskan untuk kembali ke rumah amannya. skipun dirayu oleh Naomi dengan dijanjikan malam pertama yang nyenangkan, Randika harus fokus terlebih dahulu dengan Bulan Kegelapan dan Shadow. Dia juga keluar tanpa mberitahu anak buahnya itu, dia tidak ingin mbuat reka semua khawatir.

Sesampainya di rumah amannya, Randika manggil Catherine dan yang lain untuk riksa keadaan reka. Namun, sepertinya reka tidak dapat nemukan apa-apa.

Setelah Shadow dan Bulan Kegelapan kabur dari rumah bangsawan Hiroyuki, reka bersembunyi bagaikan tikus. Sangat susah nemukan keberadaan reka.

Karena tidak ada informasi, Randika mau tidak mau kembali ke Azumi bar.

Setelah beberapa hari renovasi, bar milik Azumi ini telah kembali seperti sedia kala. Seakan-akan tidak pernah ada pertarungan yang matikan pernah terjadi di sini.

skipun hari masih sore, sudah banyak orang berkumpul di bar ini. Musik tidak pernah berhenti bermain dan pengunjung bar ini tidak pernah berhenti nari sambil mabuk.

Randika sama sekali tidak berniat untuk nari ataupun ncari perempuan cantik. Dia langsung nuju tempat bartender berada. Ketika Akira lihat Randika, dia langsung nuangkan wine simpanannya.

Setelah nuangkannya, dia letakan gelas wine itu dengan hati-hati di depan Randika.

Randika nyesapnya dan nyukai pilihan wine ini. Pada saat yang bersamaan, nada suara yang dingin terdengar dari belakang.

"Kamu tahu kan wine itu tidak gratis."

Azumi dengan pakaian sexy dan ketatnya itu nghampiri Randika, perempuan ini benar-benar nawan!

Akira dengan cepat nuangkan wine tersebut kembali dan mberikannya pada atasannya.

Randika nggelengkan kepalanya. "Akhir-akhir ini aku tidak punya uang, bukannya ada tode lain selain mbayar dengan uang?"

"Baiklah." Azumi tiba-tiba tersenyum. "Sepertinya kamu tidak lupa bahwa kamu masih harus muaskanku di ranjang."

Randika tersenyum pahit dan ngulurkan tangannya ke pinggang Azumi. Tetapi, Azumi nampar tangan Randika dan tersenyum. "Kamu itu tidak lebih dari sekedar dildo bagiku, jangan bertindak keterlaluan."

"Jadi maksudmu aku ini tidak lebih dari sekedar pemuas nafsumu?"

"Tentu saja." Azumi duduk di sebelah Randika dan tersenyum. "Hubungan kita tidak lebih dari bisnis, kalau kamu tidak bisa mbayarku dengan uang maka bayarlah dengan tubuhmu itu. Kalau aku mbutuhkan jasamu maka jangan coba-coba kamu lari."

Randika tidak bisa berkata apa-apa untuk sentara waktu, Azumi nganggap dirinya sama seperti anak buahnya?

"Lupakan saja." Randika nggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin mbayar dengan cara seperti itu, aku akan mberikan cek padamu ketika kita bertemu lagi."

Azumi nggigit bibirnya dan natap Randika dengan perasaan bingung. Sangat disayangkan pria ini tidak mau nuruti dirinya.

"Jangan natapku seperti itu kecuali..." Randika nempelkan tangannya di paha Azumi. "Kecuali kamu benar-benar ingin tidur denganku."

Azumi sudah rasa jijik, namun ekspresinya berubah njadi sebuah senyuman. "Sayangnya aku sudah tidak tertarik denganmu."

Azumi lalu berdiri dan ninggalkan ja bar sambil berkata pada Akira. "Tagihkan botol wine itu padanya dengan harga 10 juta yen."

Akira jelas terkejut. Apa dia tidak salah dengar? Bukankah seharusnya nona Azumi miliki hubungan yang baik dengan Ares?

Namun, Akira sama sekali tidak berani mbantah perintah nona Azumi. Mau bagaimanapun juga, dia adalah anak buahnya.

Randika hanya bisa nggelengkan kepalanya. Sifat Azumi bisa berubah lebih cepat dari mbalikan telapak tangan. Terlepas dari penampilan sexynya itu, perempuan seperti dirinya sudah terbiasa mbuat para pria nari di atas tangannya.

Perempuan seperti Azumi bisa dikatakan sangat berbahaya. Setiap harinya dia harus bertahan hidup di dunia gelap Tokyo yang berbahaya dan kacau, belum lagi tempat barnya ini rupakan tempat netral dan tempatnya njual informasi pada penawar tertinggi.

Jadi keberadaan Azumi di Tokyo benar-benar kuat, informasi yang dijualnya rupakan salah satu bukti betapa luas pengaruhnya di Tokyo.

Oleh karena itu, berurusan dengan perempuan seperti ini Randika sama sekali tidak ingin direhkan. Dia tidak akan pernah mau nari di telapak tangan seseorang!

Karena dia sudah mbayar mahal untuk botol wine ini, Randika terus minumnya. mang rasanya enak tetapi dia tidak boleh minumnya banyak-banyak. Berdasarkan instruksi kakek ketiga, dia tidak diperbolehkan negak alkohol ketika ingin minum obat buatannya itu.

Setelah beberapa saat, datang seorang pria Arika berbadan besar. Dia terlihat sangat kuat, lebih kuat dari siapapun yang ada di bar ini.

Pria dari Arika ini datang ke bar dan minta bir dengan Bahasa Jepangnya yang fasih. Kemudian matanya terlihat berbinar-binar ketika lihat sosok Azumi yang nggoda!

Mulutnya tersenyum dan matanya sudah ke mana-mana, perempuan satu itu benar-benar cantik.

"Maukah kamu minum denganku?" Pria itu nghampiri Azumi dengan tatapan sumnya. Dia suka perempuan dengan tubuh seperti ini, dia tidak sabar ncicipinya di ranjang.

Azumi yang suasana hatinya sedang buruk itu berkata sambil tersenyum. "Boleh saja, tapi kau harus ngalahkan reka dulu."

Azumi lalu nepuk tangannya dan muncul 2 pengawalnya yang berbadan besar dari arah belakangnya.

Pria itu tersenyum dan nyanggupi persyaratan Azumi. Bisa dibilang dia ini adalah atlit tinju dunia yang pernah njadi juara dunia, buat apa dia takut sama pengawal dari bar?

Pria Arika ini jelas pertama kali pergi ke Tokyo karena dia sama sekali tidak ngetahui reputasi Azumi bar.

Azumi masih minum winenya dengan santai, namun dia berhenti minum ketika lihat anak buahnya itu dihajar dengan mudah.

Dia awalnya ngira pria itu hanya besar di badannya dan tidak terlalu kuat, bisa dikatakan bahwa dia bukanlah tandingan pengawalnya yang sudah terlatih. Tanpa diduganya, ternyata pria Arika itu dapat nghajar anak buahnya dengan mudah. Situasi Azumi benar-benar canggung sekarang.

Pria itu lalu noleh ke arah Azumi sambil tersenyum!

skipun dua pengawal itu kuat, reka tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya.

Pria itu nghampiri Azumi, tersenyum, nuangkan wine ke gelasnya dan mberikannya pada Azumi.

"Minum."

Pria itu natap Azumi lekat-lekat. Azumi hanya tersenyum, ndorong gelasnya itu dan ngatakan. "Kamu bukan orang sini ya?"

"Asalku bukan hal yang penting." Kata pria itu. "Yang paling penting adalah janjimu tadi."

"Aku tidak masalah minum wine yang bagus." Kata Azumi dengan santai. "Tapi aku kurang senang minumnya dengan orang yang tidak aku kenal."

"Jadi kamu akan ngingkari janjimu tadi?" Pria itu ngerutkan dahinya. "Aku tidak ngira kamu adalah pembohong."

"Aku tidak pernah langgar kata-kataku." Kata Azumi sambil tersenyum. Dia lalu ngambil gelasnya dan minumnya dalam satu kali teguk.

"Dengan ini janjiku sudah terpenuhi. Aku ada urusan jadi aku tidak bisa nemanimu lebih lama lagi." Azumi langsung berdiri dan hendak pergi.

Pada saat ini, pria itu juga berdiri dan nangkap tangan Azumi.

"Wow, ngapain buru-buru?" Kata pria itu sambil tersenyum. "Aku saja belum minum sama sekali. Lagipula, bukankah kita ini pasangan yang cocok?"

"Oh? Benarkah? Aku tidak rasa seperti itu." Suara Azumi terdengar dingin, pria ini benar-benar tidak tahu diri.

"Kita lihat saja nanti." Pria itu tertawa. "Aku tidak ingin berbasa-basi, aku nyukaimu dan malam ini kita akan bersenang-senang hingga pagi nanti, bagaimana?"

Azumi mbalasnya dengan senyuman sinis. "Maaf, aku tidak tertarik dengan pria sepertimu."

"Kata-katamu itu tidak cukup untuk ngusirku." Ketika Azumi hendak pergi, lagi-lagi pria ini nangkapnya. "Kamu belum ngenalku, kalau kamu ngenalku mungkin kita bisa njadi pasangan suami istri yang bahagia."

Azumi njadi marah. Kenapa pria ini begitu percaya diri? Apa dia tidak ngerti bahwa suasana hatinya sedang buruk? Lebih baik dia mati saja!

Randika masih minum winenya dengan santai. Dia sama sekali tidak noleh ke belakang skipun dia tahu situasi Azumi. Bukankah barusan Azumi ngatakan bahwa hubungan reka tidak lebih dari sekedar bisnis? Oleh karena itu, buat apa dia ladeni urusan pribadi orang lain?

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 222: Kembali ke Azumi Bar on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

I Devour Deities cover
Similar genre

I Devour Deities

Love Pea ·Harem

Thirtyyearsago,ameteorfellandthedivineruinsappeared!Somedeitiesemergedfromit,feedingonhumans.Sincethatday,humanshavebecomefoodforthedeities,exceptf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.