Haru ndengus dingin. "Jika kau nghinaku sekali lagi, siap-siap gigimu itu copot."
"Aduh jangan gitu dong Haru, nanti dia tidak bisa nghisap barang milikku lho!" Canda teman-temannya yang ada di belakang dirinya.
"Benar katanya, wajah cantik seperti kalian ini sayang sekali untuk dirusak." Kata Haru dengan nada ngejek.
Kaori sudah muak, "Cepat pergi dari sini kalau tidak urusan lain."
Haru ndengus dingin. "Jika malam itu tidak ada yang ngganggu, kamu sudah berbadan dua."
"!!!" ndengar hal itu mbuat Kaori njadi marah. Teman-temannya Haru sudah tertawa keras ketika ndengarnya.
"Hahaha jadi ayah secepat itu? Mana mungkin kau bisa!"
"Tapi punya istri seperti perempuan itu benar-benar tidak buruk."
ndengar hinaan seperti ini, Kaori rasa malu dan marah. Pada saat ini, Haru nyadari keberadaan Randika yang duduk di samping Kaori. "Sepertinya kau sudah nemukan budak baru yang suka dengan barang bekas, apa bagusnya coba dari laki seperti ini?"
ndengar ejekan itu, teman-temannya tertawa kembali.
"Aku cukup heran kenapa kau bisa lepas bidadari cantik seperti Kaori ini demi seekor orangutan?"
ndengar kata-kata ini, perempuan yang dirangkul oleh Haru njadi marah. Haru sendiri rasa kata-kata itu tamparan bagi wajahnya.
"Kau sepertinya nyari mati ya bocah." Haru lototi Randika, berusaha mbuat lawannya itu ketakutan dengan penampilan sangarnya.
"Kalau iya?" Randika berkata sambil nyesap kopinya.
Haru benar-benar tersinggung, sepertinya dia dianggap kerikil oleh pria itu.
"Kau sudah bosan hidup?" Haru nerjang ke arah Randika, namun tangannya tertangkap dan dia tidak bisa nggerakannya.
Randika masih gangi cangkir kopinya dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya nahan pukulan Haru. Semua orang terkejut bahkan Kaori dan Naomi sekalipun. Haru makin marah, dia rasa bahwa dirinya telah terhina di depan teman-temannya dan perempuannya.
Sesaatnya Randika lepaskan tangannya, Haru langkah mundur beberapa langkah. Randika naruh cangkir kopinya dan berkata dengan santai. "Sebaiknya kau pergi sebelum malukan dirimu sendiri.
Haru sama sekali tidak gentar, dia nerjang maju dengan amarah yang ledak-ledak.
Pukulan yang dia layangkan dengan mudah ditahan oleh Randika dengan satu tangan. Randika lalu lintir tangannya, dalam sekejap Haru sudah ngerang kesakitan. Seluruh tubuh Haru terlihat ikut terpelintir ngikuti tangannya.
Semua orang natap Randika dengan tatapan bingung dan kagum, orang seperti itu bisa ngalahkan Haru dengan mudah! Kaori sendiri makin cinta dengan Randika, apalagi setelah kejadian dengan para polisi itu, Kaori nebak bahwa Randika bukanlah orang sembarangan.
Bagaimanapun juga, dia ingin luapkan rasa cintanya itu di ranjang.
Randika ngeluarkan sedikit tenaga dan teriakan Haru makin njadi-jadi, dia rasa tangannya bisa patah sewaktu-waktu.
"Jangan bergerak atau tanganmu akan patah." Kata Randika dengan santai, dia kembali ngambil kopinya dan nyesapnya sambil natap Haru.
Haru ngangkat kepalanya dan natap tajam Randika, dia benar-benar marah. Dia akan mbunuh pria ini!
"Sudah lama aku tidak nghabisi orang sepertimu." Pikiran Randika kembali ke Indonesia, di mana dia sering bertemu dengan para preman. Dari luar mang reka terlihat bengis dan tangguh, tetapi dipelintir sedikit reka sudah rengek seperti bayi.
Haru dan reka sama sekali tidak ada bedanya.
Randika kembali ngerahkan tenaganya sedikit dan tatapan Haru berubah njadi ekspresi kesakitan.
"Kau sepertinya makin ganteng ketika sedang kesakitan seperti ini. Bagaimana kalau aku patahkan saja tanganmu ini? Siapa tahu perempuan makin suka denganmu."
"Lepaskan tanganku dan bertarunglah seperti seorang pria." Kata Haru dengan marah.
"Oh? Baiklah." Randika langsung lepaskan genggamannya itu. Haru dengan cepat langkah mundur dan natap Randika yang duduk kembali. Setelah mastikan tangannya baik-baik saja, dia bersiap-siap untuk nerjang kembali.
Randika duduk dan nikmati kopinya sambil nunggu Haru yang sedang lakukan pemanasan itu. Ketika Haru nerjang dirinya, Randika hanya mukulnya hingga terpental.
Semua teman-teman Haru terkejut ketika lihat Haru dikalahkan dengan mudah. Ketika Haru nerjang maju, Randika sama sekali tidak bergerak. Barulah ketika pukulan lawannya itu ndekat, Randika ngibaskan tangannya dan berhasil nghindari pukulannya. Namun, hanya dari kibasan tangan itu, Haru rasakan tubuhnya terdorong oleh kekuatan yang amat besar dan terpental.
lihat kawannya itu ada di lantai, rasa pertemanan beberapa orang mulai berkobar. Beberapa dari reka mulai nerjang maju ke arah Randika.
"Hentikan!" Naomi lihat situasi semakin kacau.
"Tidak apa-apa, serang saja aku bersamaan." Kata Randika sambil tersenyum. nghadapi orang-orang seperti ini sangatlah mudah bagi Randika dibandingkan dengan perangnya tadi pagi. Terkadang nghabisi cecunguk seperti ini nimbulkan sensasi tersendiri.
Beberapa orang nerjang maju bersamaan dan layangkan pukulan.
Randika hanya nggunakan kedua tangannya itu untuk mukul mundur reka hingga terpental, sama seperti Haru. Baru setelah ini, semua berandalan yang nemani Haru itu maju bersamaan.
Randika berdiri sambil gangi cangkir kopinya, berniat untuk minumnya, tetapi pada saat ini, orang-orang itu sudah berada dekat dengan dirinya.
Tubuhnya bergerak dengan cepat, nghindari pukulan demi pukulan dengan mudah. Ketika dirinya bergerak ke samping, tangannya berhasil nggenggam erat tangan lawannya dan lemparnya. Orang yang berbobot setidaknya 70 kg itu terpental dan mbentur temannya.
Lawannya lain hendak nyerang dari belakang, Randika hanya berputar dan namparnya dengan keras. Orang itu berputar-putar dan akhirnya pingsan. Sesaat sebelum pingsan, tendangan Randika mbuat orang ini terbang dan mbentur temannya yang lain.
Dalam sekejap, satu per satu orang yang nerjang ke arah dirinya itu dihajarnya. Bahkan reka berupaya nyandera Naomi agar dijadikan sebagai tang. Namun, Randika hanya tersenyum ketika nyadarinya dan nggenggam erat tangan lawannya itu. Sambil tersenyum, Randika lempar kopinya tepat di wajah lawannya!
Sensasi panas mbuat matanya tidak bisa terbuka, Randika dengan santai nendangnya.
Di bawah kekuatan Randika, para berandalan ini sama sekali tidak berdaya.
Semua karyawan dan pengunjung di kafe terkagum-kagum oleh pemandangan ini. Pria itu ternyata kuat sekali, terlebih berandalan itu sering berulah di kafe ini jadi para karyawan senang lihatnya.
Haru dan teman-temannya mulai panik. lihat Randika yang berdiri dengan santai, mau tidak mau reka harus mundur. "Tunggu saja pembalasanku!"
Kabur?
Randika hanya tersenyum. "Lain kali bawa semua temanmu, aku juga sedang tidak buru-buru."
Ketika ndengar hal ini, tubuh Haru njadi kaku. Diseret oleh temannya, akhirnya reka semua nghilang dari kafe ini.
Randika duduk kembali dan nyadari bahwa ketiga perempuan ini natapnya lekat-lekat.
"Ada apa ya?" Randika tersenyum. "Apa ada kotoran di wajahku?"
Naomi terlihat serius. "Kamu bisa bela diri?"
Randika nutup mulutnya dan tidak njawab sama sekali.
"Wah beruntung sekali kamu ya Kaori! Kamu harus mbiarkan pacarmu ini ngajariku beberapa trik." Naomi njadi bersemangat.
Kaori juga ikut tersenyum ketika natap Randika. "Kalau itu sih terserah pacarku."
Randika rasa tidak berdaya dan ngangguk secara perlahan.
"Wow itu bagus!"
Reviews
All reviews (0)