Randika ngangguk dan para pentolan pasukannya itu mulai nghampiri dirinya. Singa cah keheningan dengan bertanya. "Kenapa Anda bersimbah darah seperti itu tuan?"
Jin sedikit marah dengan kelancangan Singa. "Jaga sikapmu, kalau tadi tuan kita tidak ikut turun tangan maka kita bisa-bisa kalah. Kau juga tadi hampir dihabisi lawanmu bukan?"
"Hah? Maksudmu apa?" Singa tidak terima. "Mau coba adu kekuatan?"
Jin malingkan wajahnya dan tidak peduli dengan provokasi temannya itu.
Randika berkata dengan nada datar pada reka. "Ambil mayat-mayat saudara kita dan kubur reka dengan penuh hormat, sisanya bakar saja."
Semuanya mulai sibuk mbersihkan dan tempur yang kacau ini, pertempuran di rumah bangsawan ini telah berakhir dengan kenangan.
.........
Setelah kembali ke rumah amannya, Randika rasakan kekuatan misterius di dalam tubuhnya mulai nyerang dirinya kembali.
Sesampainya di kamar tidurnya, tubuhnya bergetar tanpa henti. Randika dengan cepat mbuka bajunya dan ngambil jarum akupunturnya. Setelah nusukannya, dia ngambil obat dari kakek ketiganya dan minumnya dua butir.
Keberadaan kekuatan misterius di tubuhnya itu benar-benar aneh. Randika selama ini kesusahan ngontrol kekuatan misteriusnya itu dan mbutuhkan ramuan X untuk ngontrolnya dengan sempurna.
Tetapi kalau bukan karena kekuatan misteriusnya itu, seharusnya dia sudah mati di ruang rahasia bawah tanah yang dipersiapkan Shadow.
Dan sekarang, kekuatan misteriusnya itu lagi-lagi berusaha ngambil alih tubuhnya.
Setelah mikirkan hal ini dengan baik, Randika rasa kekuatan misterius ini sendiri sangatlah aneh. Semua berawal dari pertarungannya dengan salah satu ahli bela diri di kawah gunung berapi. skipun Randika berhasil mbunuhnya, lawannya itu berhasil lukainya cukup berat.
Pada saat itu, kekuatan misterius itu muncul di dalam tubuhnya. Randika ngira keberadaan kekuatan misterius itu muncul karena lukanya, tetapi setelah dipikir baik-baik semuanya terlihat aneh.
Sebuah luka tidak mungkin nyimpan kekuatan yang begitu besar dan mbutuhkan waktu yang sangat lama untuk sembuh. Pada saat itu, dia mang belum ncapai posisinya seperti sekarang tetapi bukan berarti dia lemah. Lawannya sendiri juga bukanlah ahli bela diri yang terkenal.
Jadi bisa disimpulkan bahwa kekuatan misterius itu tiba-tiba muncul di tubuhnya tanpa sebuah alasan yang jelas.
Randika ngerutkan dahinya ketika nyadari hal ini. Kekuatan misterius macam apa yang bersemayam di dalam dirinya? Kenapa dia tidak dapat ngontrolnya sesuka hatinya? Lagipula saat dirinya berusaha nyerapnya, saat dia diganggu oleh Hannah, dia sama sekali tidak berdaya di hadapan kekuatan misterius ini.
Dan berkat ledakan energi tadi, Randika bisa ngetahui bahwa kekuatan misterius di dalam tubuhnya itu lebih kuat dari dugaannya. Dia selalu rehkannya maka dari itu dia tidak bisa ngontrolnya.
miliki bom waktu di dalam dirinya benar-benar mbuat dirinya gelisah.
Ledakan energi di ruang bawah tanah itu benar-benar luar biasa, sampai-sampai seluruh pori-porinya terbuka dan muntahkan darah. skipun sebelumnya itu nyelamatkan nyawanya karena ngeluarkan darah kotor yang berisi racun, apabila ini terjadi lagi bisa-bisa tubuhnya akan mati kehabisan darah.
Kekuatan tidak terkendali seperti ini benar-benar berbahaya. Tetapi jika Randika berhasil ngendalikannya, dia akan bertambah kuat!
Para kakeknya ngerti akan hal seperti ini tetapi reka mutuskan untuk tidak mberitahunya.
rasakan kekuatan misterius dalam tubuhnya makin lawan dengan gigih, oleh karena itu dia langsung minumnya dua butir sekaligus.
Dengan bantuan obat dari kakeknya itu, tiba-tiba, kekuatan misterius yang ngamuk itu mulai tenang kembali dan perlahan nghilang.
Setelah sekian lama, Randika nghembuskan napas lega dan mbuka matanya. Akhirnya kekuatan misterius dan tenaga dalamnya ncapai harmonisasi.
Setelah rasa baikan, Randika berniat untuk mandi dan beristirahat.
Di tengah mandinya, dia masih mikirkan kekuatan misterius dalam tubuhnya itu. Jika bukan karenanya, dia sudah mati oleh racun yang dibuat khusus oleh Shadow. Tetapi karena kekuatannya itu jugalah yang mbuat Shadow berhasil lolos.
Kekuatan ini benar-benar rupakan kutukan sekaligus berkat.
Setelah selesai mandi, rasa lelah di dalam tubuhnya telah hilang. Sekarang rasa lapar yang landa dirinya. Tidak ingin repotkan anak buahnya, Randika mutuskan untuk pergi secara diam-diam untuk ncari makan.
Orang Jepang sangat terkenal dengan masyarakatnya yang suka berjalan jadi kedua sisi jalan benar-benar ramai.
Setelah rasakan kejamnya dan tempur dan berada di tengah canda tawa orang-orang, suasana hati Randika mulai mbaik. Namun, tatapan matanya sekarang terkunci pada satu sosok perempuan.
Kaori? Benar-benar kebetulan!
Randika sedikit terkejut, namun pada saat ini, Kaori nyadari keberadaan Randika dan tersenyum pada pria misterius tersebut.
Kaori lambaikan tangannya dengan semangat. Dan ketika Kaori hendak ngawali percakapan, dia nyadari bahwa dia tidak tahu namanya Randika.
"Benar-benar kebetulan." Randika tersenyum.
"Iya." Kaori nganggukan kepalanya dengan cepat dan natap Randika. "Aku tidak nyangka aku akan bertemu denganmu di sini. Mungkin kita berdua ditakdirkan bersama."
Randika ngingat kembali malam reka berdua di kamar, Randika hampir saja lakukan hubungan badan dengan Kaori. Namun setelah mikirkannya, kenapa tidak?
"Apa kamu mau minum kopi bersama?" Kaori ngundang Randika.
Tentu saja Randika tidak punya alasan untuk nolak, jadi reka berdua berjalan nuju sebuah kafe.
reka duduk di pojokan dan setelah san minumannya, Kaori berkata pada Randika. "Sepertinya kita belum saling mperkenalkan diri kita masing-masing."
"Namamu Kaori bukan? Benar-benar nama yang bagus." Randika tersenyum. "Namaku adalah Randika."
"Apakah kamu sudah baik-baik saja?" Kaori tiba-tiba njadi cemas.
Randika tersenyum sambil nyesap minumannya. "Sudah jauh lebih baik. Kebaikanmu dalam rawatku malam itu benar-benar mbantuku. Jika kamu bisa mbantuku lagi, aku rasa aku akan jauh lebih baik lagi."
Setelahnya Randika selesai berbicara, Kaori tersenyum lebar. Kejadian malam itu masih mbekas di dalam ingatannya. Dia ngira malam itu akan njadi malam yang panas setelah foreplay yang sungguh intens dengan Randika. Namun, dia tidak nyangka setelah dadanya berlumuran sperma dan keningnya dicium, sosok Randika tiba-tiba nghilang dari dalam ruangan.
Ditinggal seperti itu benar-benar perasaan yang tidak enak. Apalagi Kaori sudah lama tidak terangsang seperti itu.
Kaori tersenyum dan bertanya. "Kapan kamu ada waktu? Aku bebas sepanjang hari kok."
Kaori dapat nyadari dengan jelas bahwa perkataan Randika ngacu pada hubungan reka yang belum selesai itu, dan dia sendiri tidak sabar!
Randika tersenyum dan nggenggam tangan Kaori sambil ndekatinya. "Bagaimana kalau malam ini? Apakah kamu mau datang ke tempatku?"
"Sungguhan?" Mata Kaori terlihat berbinar-binar. Dia sudah lama tidak tidur dengan laki-laki dan dia sudah tidak sabar ncicipi barang Randika yang besar itu.
Malam ini akan benar-benar panjang!
Randika ngedipkan matanya. "Tapi aku punya cara lain yang lebih efektif biar tubuhku ini bisa cepat sembuh."
"Cara apa?" Tanya Kaori dengan penasaran.
Randika duduk di samping Kaori dan berbisik di telinganya. Kaori tidak bisa nahan tawanya setelah ndengarnya. Dia terlihat malu-malu dan akhirnya setuju.
Randika mperhatikan tidak ada orang di sekitar reka dan, dengan mata penuh hawa nafsu, dia letakkan tangannya tepat di paha Kaori yang mulus.
Tubuh Kaori tiba-tiba njadi kaku, tetapi setelah natap Randika dia njadi tidak takut.
"Benar-benar mulus." Puji Randika. Dia dapat rasakan kulit yang halus dan mulus itu dalam sekejap. Namun, Kaori sudah tidak sabar lagi. Perempuan ini bertindak duluan dan ncium Randika, bibirnya dengan sempurna nutup bibirnya Randika.
Orang-orang di luar negeri lebih terbuka dengan hal-hal seperti ini, jadi Kaori tidak sungkan mainkan lidahnya dengan intens.
Setelah berciuman cukup lama, Kaori lepaskan bibirnya dan natap Randika dengan wajah rahnya. Dia tidak bisa berhenti tersipu malu. Petunjuknya ini benar-benar jelas, seharusnya Randika tahu apa yang akan terjadi berikutnya bukan?
Randika malah tersenyum nakal dan berbisik di telinga Kaori. "Ada yang ingin kuberitahu padamu."
Hati Kaori ngepal, apa yang akan dikatakannya? Tetapi ndadak, Randika rangkul dirinya dan mberikannya ciuman panas.
skipun terkejut, Kaori nyambut ciuman ini. Lidah reka sudah tidak bisa berhenti, para pengunjung lain hanya bisa geleng-geleng dan pura-pura tidak lihat.
Kenapa reka tidak ncari ruangan coba? Buat apa par seperti itu?
Namun pada saat ini, suara seorang perempuan terdengar. "Wow, kamu sudah punya pacar baru ya?"
Ketika ndengar suara familier itu, Kaori dengan cepat lepaskan kuncian bibir Randika. Wajahnya sudah benar-benar rah.
Randika noleh dan lihat dua perempuan sedang berdiri di samping janya. Dia sama mudanya dengan Kaori dan terlihat bersemangat. Sepertinya dia teman sekelas Kaori di kuliah.
Randika tersenyum dan nyapa reka. "Selamat siang."
Kedua perempuan itu mbalas salam ramah Randika dan duduk di ja reka. "Aku tidak nyangka kamu sudah move on seperti itu. Terlebih pacarmu kali ini cowok ganteng seperti ini."
ndengar pujian seperti ini, Randika sedikit besar kepala. Kata-kata seperti ganteng atau tampan sangat enak untuk didengar. Dia sendiri sudah sadar bahwa dia ganteng tetapi ketika orang lain yang ngatakannya, Randika tidak bisa berhenti tersenyum.
"Sudah ah jangan gitu dong Naomi." Kata Kaori. "Cepat pesan minumanmu."
"Aduh aku tinggal minta punyamu sedikit juga bisa bukan? Aku hanya ingin ndengar bagaimana kalian berdua bertemu." Naomi dan temannya terlihat bersemangat, bergosip selalu njadi acara paling narik bagi perempuan.
Randika ngambil cangkir kopinya dan minumnya. Sepertinya tidak baik untuk dirinya yang njelaskan.
"Itu semua hanya kebetulan." Kata Kaori sambil tersenyum. "Lain kali aku akan nceritakannya."
"Aduh tidak asyik nih kamu. Kemarin ngomongnya kamu sudah benci laki-laki, sekarang malah kamu ninggalkan kita dan asyik dengan pacarmu!"
Pada saat reka bercanda seperti ini, pintu kafe terbuka dengan keras dan beberapa orang masuk ke dalam toko. Randika mperhatikan orang yang masuk tersebut dan nyadari bahwa orang itu adalah Haru, mantan Kaori yang kasar itu.
Haru berpenampilan seperti seorang berandalan sambil rangkul seorang perempuan. Teman-temannya juga nampak seperti seorang berandalan.
Ketika Haru masuk, matanya nemukan Kaori sedang duduk di pojok ruangan. Dalam sekejap suasana hati Haru njadi buruk.
Kaori sedang sibuk bercanda dengan kedua temannya sebelum akhirnya nyadari keberadaan Haru.
"Sedang apa di sini?" Wajah Kaori njadi dingin, dia sama sekali tidak ingin lihat wajah mantannya itu.
"Terserah aku kan." Haru ndengus dingin. Teman-temannya segera ngepung ja Kaori.
Naomi ngerutkan dahinya dan mbentak. "Kaori sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan sampah sepertimu. Sudah sana pergi."
"Aku hanya ingin lihat kondisi wanita yang pernah kucintai ini." Kata Haru dengan wajah yang dingin dan masih rangkul perempuannya.
ndengar kata-kata Haru itu, Randika ngerutkan dahinya dan darah Naomi sudah ndidih.
"Jaga kata-katamu itu." Naomi njadi marah. "Jangan kira kami tidak tahu perbuatanmu, kau harusnya malu nganggap dirimu seorang pria!"
Reviews
All reviews (0)