Seluruh bagian tubuh Randika muncratkan darah. Tidak butuh waktu lama untuk mbuat Randika njadi air mancur darah berjalan!
Wajah, tangan, perut, kaki, semuanya bersimbah darah kecuali kedua bola matanya yang lotot ke arah Shadow!
Di bawah tatapan ngerikan itu, Shadow tanpa sadar langkah mundur.
Tatapan mata itu benar-benar ngerikan dan nyimpan rasa dendam yang luar biasa pekat. skipun dia tahu bahwa Randika tidak mungkin bisa kabur dari ruangan ini, entah kenapa, Shadow tetap rasa takut.
Setelah beberapa langkah ke belakang, Shadow natap Randika. Saat ini, kekuatan misterius Randika ngalir dan keluar dari dalam tubuhnya. Seperti air keran, kekuatan ini keluar dengan deras dan tubuhnya miliki kekuatan yang amat besar. Jika dia tidak bisa nyalurkan tenaganya ini, tubuhnya terasa akan ledak kapan saja.
"AHH!!"
Randika raung keras dan bangkit berdiri. Tangannya ngepal dan ninju pintu baja dengan keras!
DUM!
Tiba-tiba, pintu baja yang sudah diperkuat itu bergetar dengan hebat. Namun, sepertinya pintu tersebut masih bisa bertahan dari tinju Randika.
Saat ini kondisi Randika lebihi kekuatan yang dimilikinya ketika kondisinya sedang prima. Dia jelas tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi.
Satu pukulan tersebut rupanya dapat didengar oleh Shadow dan pengawalnya yang ada di luar. reka mulai was-was, seakan-akan Randika bisa ndobrak pintu itu hingga hancur.
"Percuma kau berusaha kabur, hanya buang-buang waktu saja." Kata Shadow sekaligus berusaha yakinkan dirinya. Tetapi Randika masih berdiri di tempatnya.
DUM!
Pintu kembali bergetar. Kali ini pintu tersebut mulai nunjukan tanda-tanda bengkok.
Randika ngumpulkan semua tenaganya ke tinjunya. Bagaikan senapan sin, pukulan demi pukulan dia layangkan dengan sekuat tenaga.
DUM!
DUM!
DUM!
Suara keras tersebut terus nerus terdengar, di bawah serangan tinju Randika, pintu tersebut mulai goyah. Sepertinya hanya masalah waktu sebelum pintu itu hancur.
Shadow yang berada di luar itu mulai ketakutan. lihat celah pintu yang makin lebar tiap detiknya, mau tidak mau dia ngambil langkah mundur sedikit demi sedikit. Orang-orang di sebelahnya justru masang wajah waspada.
Akhirnya, setelah sekian lama, pintu baja tersebut akhirnya terpental oleh tinju Randika!
Pintu baja yang tebal itu, terlempar ke arah Shadow berada. Dengan berat lebih dari 50 kg, pintu itu layang dengan cepat. Ia ndarat persis di pengawal Shadow dan mbunuhnya dalam sekejap.
Shadow sendiri berhasil nghindarinya berkat kecepatannya yang cepat. Tetapi angin yang dihasilkan dari montum besi itu mbuatnya terpental dan mbentur tembok.
Sekarang, di hadapan Shadow muncul seorang yang bersimbah darah dan dengan tatapan mata yang ngerikan!
Perangkap yang dia susun beberapa bulan itu tidak bisa mbunuhnya?
Randika, yang masih ngeluarkan darah, keluar dari dalam ruangan beracun itu dan natap Shadow. Tatapan matanya dipenuhi kebencian dan api amarah.
Untuk sesaat, Shadow rasa udara di sekitarnya sangat sesak dan tidak bisa bernapas.
Para bawahannya itu sama sekali tidak berani bergerak. Lawannya itu sepertinya orang yang brutal dan tak terkalahkan. Pada saat ini, Randika berjalan dengan perlahan nuju Shadow.
Banyak anak buah Shadow ini nggertakan giginya dan nerjang maju ke arah Randika.
Randika sama sekali tidak peduli. Ketika dia lihat puluhan orang nerjang ke arah dirinya, dia sama sekali tidak gentar. Justru api di dalam hatinya semakin berkobar. Randika nghajar semuanya dengan tinjunya, tidak makai trik sama sekali. Dia hanya mbuat lawannya terpental ataupun terbunuh di tempat. Setiap tarikan napasnya akan newaskan siapapun yang berani nghalanginya!
Kekuatan Randika ningkat drastis ketika kekuatan misterius ini ngambil alih tubuhnya. Dengan kekuatannya yang sekarang, pintu yang didesain khusus itu, yang katanya bisa nahan bom nuklir, bisa dihancurkannya dengan mudah, apalagi kalau cuma cecunguk-cecunguk seperti ini?
skipun reka ngepungnya, Randika sama sekali tidak repot-repot dan hanya ninju reka.
Serangan tinjunya itu, apabila tidak ditahan, sudah cukup mbuat lubang di bagian tubuh yang terkena. Bahkan tinju Randika barusan ntalkan jantung seseorang dan ndarat di salah satu lawannya yang lain.
lihat satu per satu anak buahnya dibunuh dengan mudah seperti ini, tubuh Shadow sudah tidak bisa berhenti getar. Bahkan hatinya sendiri sudah njerit ketakutan dan tubuhnya sudah tidak bisa berhenti langkah mundur. skipun dia ingin kabur dari sini, dengan kekuatan Randika yang sekarang, sepertinya bahkan ujung dunia pun tidak akan bisa njadi tempat persembunyiannya.
Tatapan mata Randika sama sekali tidak pernah lepas dari sosok Shadow. Orang-orang yang nerjang ke arah dirinya itu sudah bagaikan nyamuk di matanya.
Selagi dia mbunuh para nyamuk, Randika berkata pada Shadow yang terus nerus langkah mundur itu. "Apa kau terkejut karena aku tidak mati?"
lihat sosok Randika yang bersimbah darah itu semakin dekat dengan dirinya, Shadow sudah tidak tahan lagi. Dia berbalik dan berusaha kabur dengan kecepatan tertingginya! Namun, bagaimana mungkin dia bisa ngalahkan Randika yang sekarang?
Hampir secara bersamaan, Randika sudah berdiri di belakang Shadow dan nangkap pergelangan tangannya. Shadow yang terkejut itu berusaha lepaskan dirinya, tetapi Randika ninjunya tepat di wajahnya yang mbuatnya terpental.
Shadow dengan cepat berdiri kembali, hidungnya sudah patah dan bibirnya ngeluarkan darah. Tatapan matanya penuh dengan perasaan teror dan takut. Dia tidak rela perjalanannya nuju puncak berakhir di sini, apa yang salah dengan rencana sempurnanya ini?
Shadow berusaha nghilang di tengah kegelapan, tetapi mata Randika sudah terkunci rapat dengan sosoknya.
"Jangan lupa bahwa akulah yang ngajarimu." Randika berjalan dengan perlahan. "Hukuman yang akan kuberikan ini adalah salah satu dari pelajaranmu."
ndengar kata-kata Randika itu, Shadow nggertakan giginya. Sepertinya tidak ada jalan keluar lainnya, dia harus bertarung apabila ingin selamat.
Mati terbunuh atau mbunuh duluan!
lihat Shadow yang nerjang ke arah dirinya dari atas, Randika hanya natapnya dengan dingin. Shadow manfaatkan sekelilingnya dan ngumpulkan kecepatan, setelah cukup cepat dia layangkan pukulannya ke arah Randika.
Tinjunya berisikan tekadnya untuk hidup!
Randika hanya nghadapi serangan matikan ini dengan satu tangan. Ketika dua tinju reka bertemu, tubuh Shadow telah dirasuki oleh tenaga dalam Randika yang liar itu. Dalam sekejap dia muntah seteguk darah segar!
UHUK!
Bersamaan dengan darah hitam yang keluar dari mulutnya itu, seluruh tubuh Shadow terpental dan terjatuh dengan keras di tanah.
Jika orang itu bukan Shadow, mungkin yang terkena serangan tenaga dalam itu sudah mati.
Namun tetap saja, Shadow terluka parah dan hanya bisa terkapar di tanah. Dia hanya bisa lihat sosok Randika yang ndekatinya langkah demi langkah, hatinya sudah ngepal dengan keras.
Sepertinya dia sudah berada di ujung jalannya.
"Takdir seorang pengkhianat hanyalah kematian." Kata Randika dengan pelan. Randika sudah beberapa langkah lagi sampai di tempat Shadow untuk ngakhiri tragedi berdarah ini. Namun, Shadow tidak berniat untuk mati dengan mudah, pisau yang dia sembunyikan langsung dia tusukan nuju Randika!
Namun, Randika berhasil nangkap pergelangan tangannya sebelum pisau itu bisa nembus dirinya. Sambil raung kesakitan, Shadow rasa pergelangan tangannya itu patah dan pisau yang digenggamnya langsung terjatuh.
lihat sosok Shadow di hadapannya, Randika sama sekali tidak bisa rasakan rasa simpati. Pada awal reka kali bertemu, Shadow hanyalah sesosok yang nyedihkan tetapi Randika lihat api di dalam hati perempuan ini dan akhirnya mungutnya. Randika ngajarinya bela diri dan latihnya njadi seorang Shadow. Dia telah njadi pilar dari organisasi intelijennya, namun tanpa diduganya, Shadow malah ngkhianatinya.
"Setelah mbunuhmu, aku akan mbunuh Bulan Kegelapan." Kata Randika dengan nada dingin. "Jika aku boleh nebak, Bulan Kegelapan justru rupakan bidak milikmu. Setelah kau mbunuhku, kau akan mbunuhnya bukan?"
Shadow ngerutkan dahinya, sepertinya dia rehkan tuannya ini baik segi kekuatan ataupun kecerdasannya.
Rencana Shadow persis seperti yang dikatakan oleh Randika. Dia nggunakan Bulan Kegelapan sebagai alat untuk ngalahkan Randika dan pada akhirnya dia sendiri yang akan mbunuhnya setelah dirinya njadi Ares yang baru. Namun, tanpa diduga ternyata Randika bisa ngetahui semua hal ini.
"Mau kalian berdua nyerang bersamaan atau sendiri-sendiri, semut tetaplah semut." Tatapan mata Randika terlihat dingin, tangan kirinya terangkat dan ngarah pada Shadow yang tergeletak di tanah.
Tinju ini akan nghabisi nyawa Shadow untuk selamanya.
lihat tangan yang terangkat itu, Shadow rasakan perasaan ngeri yang luar biasa, dia tahu bahwa dia tidak bisa nghindarinya.
Namun pada saat ini, tinju Randika itu tiba-tiba berhenti di udara dan rasakan tenaga dalamnya tiba-tiba nyusut kembali.
Sepertinya kekuatan misteriusnya itu kehabisan tenaga dan dengan cepat narik kembali dirinya ke dalam tubuh Randika, hal ini mbuat tubuh Randika kembali berguncang.
Ketika Shadow lihat Randika yang seperti ini, dia langsung manfaatkannya dan berusaha kabur. Dia sama sekali tidak berani lihat ke arah belakang, dia terus berlari tanpa henti. Nyawanya seharusnya sudah berakhir barusan, untung saja tiba-tiba ada hal yang aneh sedang terjadi dengan tubuh tuannya itu.
lihat sosok Shadow yang semakin njauh, Randika hanya nggigit bibirnya. Dia ingin ngejar perempuan itu tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak.
Kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Dia hanya butuh satu detik untuk ndaratkan pukulan matikannya pada Shadow tadi!
Namun, Randika hanya bisa duduk dan berusaha nenangkan dirinya. Setelah beberapa saat, dia berhasil ngendalikan tubuhnya kembali. Namun pada saat ini, Shadow sudah kabur.
Randika nghela napasnya, dia bersumpah akan mbunuh pengkhianat itu ketika bertemu dengannya lagi!
Takdir seorang pengkhianat hanyalah kematian!
Setelah nenangkan diri, Randika berjalan kembali ke gedung rumah dan pertempuran sepertinya sudah berakhir. Raihan berhasil mbunuh Atid si raja Thai Boxing, Serigala berhasil mbunuh lawannya yaitu Beruang Putih dan Kyoko berhasil numpas si pengkhianat yang njadi lawannya itu. Seluruh pasukan Ares berhasil nguasai setiap bagian dari rumah bangsawan ini.
Masih ada beberapa orang yang masih lawan reka, reka nggunakan pojok ruangan sebagai tempat perlindungan reka.
Namun, ketika reka lihat sosok Randika yang bersimbah darah dan aura mbunuhnya yang pekat mbuat semua orang terkejut. Dengan satu tangan, Randika nembakan tenaga dalamnya dan semua orang yang masih berusaha lawan itu sudah tidak sadarkan diri.
lihat kesempatan ini, pasukan Ares nerjang maju dan nghabisi sisa-sisa lawannya yang masih sadarkan diri.
Raihan nghampiri Randika dengan tatapan terkejut, sepertinya kawannya ini habis tercebur di lautan darah?
"Aku baik-baik saja." Kata Randika dengan nada tenang. "Jangan biarkan satu pun dari reka hidup."
"Pasukan kita berhasil nguasai tempat ini dan Polemos serta Catherine sedang nginterogasi dan nyelidiki tempat ini. reka berusaha nemukan petunjuk di mana Yuna disekap. Setelah nemukan informasi itu, baru kita bisa mbunuh semuanya jadi bersabarlah."
Reviews
All reviews (0)