Randika yang sudah dirasuki oleh rasa dendam itu masuk tanpa berpikir panjang. Tetapi, pintu yang ada di belakangnya itu tiba-tiba tertutup dan mbuat Randika terjebak di ruangan yang gelap ini.
Tidak sampai di situ, pintu kayu tersebut sekarang dilapisi oleh pintu baja yang tebal!
Dalam sekejap, Randika sudah terjebak di ruangan gelap dan tertutup rapat.
Randika riksa sekelilingnya, dia akhirnya sadar telah masuk ke dalam jebakan Bulan Kegelapan dan Shadow. Sosok reka berdua bahkan sama sekali tidak terlihat di ruangan ini.
Dengan tatapan dingin, Randika nyalurkan tenaga dalamnya ke tangannya dan letakkannya di atas pintu baja tersebut. Dengan satu hentakan kaki, tenaga dalamnya ledak di pintu tersebut!
Suara dari ledakan itu terdengar keras tetapi pintu baja tersebut hanya bergeming, sama sekali tidak terbuka. skipun di bawah serangan Randika yang dahsyat, pintu baja tersebut sama sekali tidak nunjukan tanda-tanda rusak.
Mau tidak mau, Randika mulai cemas di hatinya.
Randika, dengan adrenalin dan tenaga dalam yang masih ngalir deras, nempelkan kedua tangannya dan sekali lagi mukul pintu baja tersebut. Namun, pintu tersebut masih tidak nunjukan tanda-tanda terbuka.
Randika bergerak ke tengah ruangan, dan pada saat ini, ruangan gelap ini tiba-tiba dipenuhi dengan asap kuning dan hijau yang mbuat Randika ngerutkan dahinya.
Pada saat ini, di ruangan bawah tanah ini, tiba-tiba muncul proyeksi seorang manusia yaitu Shadow.
Randika natap ilusi dari Shadow dengan tatapan dingin. Shadow tersenyum dan ngatakan. "Lama tidak bertemu tuan."
Randika tidak njawab sama sekali.
"Apa ini pertama kalinya tuan rasa tidak berdaya? Takut akan kematian?" Senyuman Shadow semakin njadi. "Ini adalah perangkap yang sudah kupersiapkan untukmu, aku tidak nyangka Ares yang diagung-agungkan itu akan tertipu dengan mudah."
Randika masih terdiam.
"Biarkan aku mperkenalkan tempat ini." Shadow berjalan lewati Randika dan ngangkat kedua tangannya. "Seluruh ruangan ini terbuat dari campuran logam khusus. Pintu baja itu juga telah diperkuat bahkan bom nuklir sekalipun tidak bisa mbuatnya bergeming. Aku telah nghabiskan begitu banyak uang hanya untuk mastikan kau tidak bisa kabur dari tempat ini."
"lihat wajahmu yang tidak berdaya itu, semua uang yang kuhabiskan itu sepadan." Shadow lalu tertawa. "Bagaimana rasanya berada di ambang kematian? JAWAB AKU!"
Randika masih terdiam dan natap Shadow dengan dingin.
"Oh iya, jangan pikir asap itu cuma asap racun biasa, racun ini sudah dimodifikasi khusus untuk mbunuhmu." skipun sempat kesal karena Randika terdiam, Shadow sudah tenang kembali. "Kau akan rasakan tubuhmu akan kehilangan kekuatan dan setiap jengkal tubuhmu akan rasakan sakit. Rasa sakit itu tidak akan hilang sebelum kau nggaruk kulit, tulang, dan akhirnya kau akan mati oleh rasa sakit itu."
Randika akhirnya mbuka mulutnya dan bertanya. "Kenapa kamu ngkhianatiku?"
Ya, inilah alasan yang sampai sekarang tidak dingerti oleh Randika. Dia tidak tahu kenapa Shadow milih untuk berkhianat skipun selama ini dia mperlakukan perempuan ini dengan baik.
"Kau benar-benar ingin tahu?" Shadow tersenyum arogan. "Karena kau adalah Ares dan aku hanyalah sebuah bayangan."
Randika ngerutkan dahinya. Pada saat yang sama, racun semakin nuhi ruangan tertutup ini. Randika dengan cepat nutup pori-porinya dengan tenaga dalamnya, tetapi hal ini tidak bisa berlangsung lama.
Shadow natap dingin Randika, di tatapannya ngandung ambisi tersembunyi. "Kau adalah raja dunia bawah tanah, kau adalah harapan orang-orang. Kau bisa nentukan siapa yang mati siapa yang hidup. Tetapi aku hanya bisa berada di balik kegelapan, semakin terang kau bersinar semakin gelap keberadaanku. Tidak peduli bagaimana aku berusaha, aku tidak lebih dari sebuah bayangan. Bahkan aku tidak bisa nunjukan diriku yang sebenarnya pada orang-orang."
lihat ambisi besar yang ditunjukan Shadow, Randika ngerutkan dahinya. Dia dapat nilai kekuatan ataupun kemampuan orang, luka yang diderita orang, tetapi Randika sama sekali tidak bisa lihat hati seseorang.
Dia benar-benar rehkan ambisi Shadow untuk berkuasa.
"Oleh karena itu, aku hanya bisa mbunuhmu dan njadi Ares yang baru. Aku tidak ingin bernaung di bawah kegemilangan seseorang lagi. Aku hanya ingin. njadi diriku!" Tatapan Shadow sudah dipenuhi dengan kebencian.
"Aku dulu nolongmu, ngajarimu, mberimu tujuan, semuanya sudah kuberikan untukmu." Nada suara Randika terdengar dingin, dia bersusah payah nahan rasa marahnya di dalam hatinya. Begitu dia mbiarkan aura mbunuhnya keluar, asap beracun itu akan masuk ke dalam tubuhnya.
"Dan hutangku itu sudah lunas!" Shadow tiba-tiba berteriak, wajahnya kembali nunjukan ekspresi marah. "Aku telah mbantumu mbangun jaringan intelijen di seluruh dunia, semua informasi penting sudah kuberikan walau nyawaku jadi taruhannya, aku mbunuh orang demi namamu. Tanpa aku, kau bukanlah siapa-siapa!"
Randika tidak mbalas sama sekali. Racun di ruangan ini mulai masuk ke dalam tubuhnya. Dia dapat rasakan asap racun itu nembus kulitnya, berenang di darahnya dan mulai nggerogoti tubuhnya secara perlahan.
Pandangannya mulai kabur.
"Karena hutangku itu sudah lunas, sudah seharusnya aku ngambil apa yang pantas kudapatkan setelah bertahun-tahun njadi budakmu. Dan jangan khawatir, setelah kau mati, aku akan mbuat pasukanmu itu njadi pasukan paling matikan di seluruh dunia sama seperti ambisimu dulu."
Randika nggelengkan kepalanya. "Aku tidak peduli njadi nomor satu di dunia atau tidak. Aku hanya bingung kenapa dulu aku berbaik hati nerimamu."
"Oh jadi kau nyesalinya?" Shadow tersenyum kembali. "Aku tidak nyangka seorang Ares miliki perasaan nyesal, ini pertama kalinya aku lihatnya."
"Jika aku tahu kamu adalah seekor ular berbisa, aku rasa semua orang akan nyesalinya." Kata Randika dengan santai.
Tubuh Shadow njadi kaku tetapi dia berhasil nenangkan dirinya kembali. "Sebagai mantan anak buahmu, aku akan mberimu saran. Lima nit lagi kau akan rasakan rasa sakit yang luar biasa dan mati secara perlahan. Saranku matilah sebelum rasa sakit itu landa."
Setelah berkata seperti itu, gambar Shadow nghilang.
Di ruangan bawah tanah ini, Randika berdiri sendirian dengan wajah yang berkeringat. Tiba-tiba dia terjatuh dan ringkuk kesakitan seperti udang.
Randika bisa rasakan bahwa tubuhnya sudah dipenuhi oleh racun gas tersebut dan ngamuk di setiap bagian tubuhnya. Pada saat yang sama, kekuatan misterius dalam tubuhnya juga mberontak. Randika kejang-kejang, dan pada saat yang sama, dia ngalirkan tenaga dalamnya untuk nenangkan tubuhnya yang nderita itu.
Dalam sekejap, keringatnya sudah mbentuk kolam di sekitarnya. Seluruh tubuhnya ngeluarkan keringat dan kulitnya njadi kerahan. Dalam sekejap, kulitnya itu seperti hendak njadi warna hijau. Gas beracun itu sepertinya sebentar lagi nguasai darahnya yang ngalir di pembuluh darahnya.
Rasa sakit yang dia rasakan sangatlah luar biasa. Dia berniat ngambil obat dari kakek ketiganya tetapi tangannya sama sekali tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya njadi kaku. skipun dia masih miliki kesadarannya, seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali. Dia sama sekali tidak berdaya ketika gas beracun dan kekuatan misterius di dalam tubuhnya itu ngamuk di dalam tubuhnya.
Randika perlahan rasa nyawanya semakin hilang tiap detiknya dan matanya mulai nutup. Gas beracun dan kekuatan misterius di dalam tubuhnya nimbulkan efek gatal di seluruh tubuhnya.
Perasaan ini benar-benar aneh, dia ingin nggaruknya tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak.
Tubuh milik Randika ini benar-benar dalam keadaan kacau. Tenaga dalamnya tidak bisa ngalir, kekuatan misteriusnya manfaatkan kesempatan ini untuk mberontak dan gas beracun itu sudah nyebar di seluruh tubuhnya dan matikan fungsi tubuhnya secara perlahan.
Awalnya, di dalam tubuhnya terdapat dua kekuatan yaitu tenaga dalamnya dan kekuatan misterius. Sebelum ini, keduanya miliki keharmonian yang nciptakan kestabilan, tetapi sekarang kehadiran gas beracun khusus yang dibuat Shadow ini mbuat tubuhnya seakan akan ledak.
Ketiganya berperang di dalam tubuh Randika dengan brutal. Perasaan seperti ini sama sekali tidak bisa digambarkan, hal ini sama seperti tiga singa sedang nggigit dirinya dan 1000 semut rah sedang rangkak di tubuhnya.
Wajah Randika sudah berubah-ubah, asap putih mulai keluar dari dalam tubuhnya.
Pada saat ini, proyeksi Shadow mulai muncul kembali.
"Tuan, apa kau sudah mati?"
Shadow jongkok persis di samping Randika yang tersungkur di lantai. Randika terus nerus nutup matanya. Dia rasakan ketiga kekuatan itu bertarung dengan liar di tubuhnya, rasa sakit itu justru ncegahnya mati. Tetapi tiba-tiba, kekuatan misterius dalam tubuhnya itu untuk pertama kalinya berhasil ngambil alih tubuh inangnya. Ia sepertinya sudah capek tertidur dan akhirnya milih untuk bangkit!
Di proyeksi, hanya ada sosok Shadow dan Bulan Kegelapan sama sekali tidak terlihat.
Saat Shadow lihat Randika yang ringkuk kesakitan seperti udang, wajahnya sama sekali tidak nunjukan rasa simpati. Inilah yang ingin dia lihat.
Randika harus mati, barulah setelah itu Shadow bisa njadi Ares yang baru.
skipun Randika yang rawatnya dan mberikan dirinya tempat bernaung, nafsu Shadow sudah tidak bisa dipuaskan dengan berada di balik layar. Dia nginginkan semuanya!
Randika masih tidak berbicara dan nutup matanya, dia rasa tubuhnya sudah tidak bisa dia kendalikan dan mulai kejang-kejang.
lihat kondisi Randika yang seperti ini, Shadow tertawa puas. Rencananya telah berhasil!
Tetapi sejujurnya, Randika sudah lama kehilangan kesadarannya.
Gas beracun di dalam ruangan bawah tanah ini semakin tebal. Tubuh Randika sudah diselimuti oleh asap tersebut. Randika yang tergeletak di lantai itu sudah berhenti bergerak.
Shadow yang lihat hal ini sudah tertawa puas. Ares sang Dewa Perang telah mati di tangannya! Benar-benar perasaan yang muaskan.
Ketika dia hendak matikan proyeksinya, Randika, yang tergeletak di lantai, tiba-tiba berteriak.
"UAHH!"
Shadow yang ndengar hal ini langsung ngerutkan dahinya, Ares belum mati?
Pada saat ini, Randika rasa tubuhnya seperti ingin ledak. Kekuatan misterius dalam tubuhnya keluar sekaligus. Saat ini, semua pori-pori di dalam tubuhnya terbuka dan muncratkan darah!
Dari sisi penglihatan Shadow, dia lihat Randika yang tiba-tiba berteriak itu sudah bagaikan air mancur darah. Mau itu di wajah, perut, paha, kaki, semua bagian tubuhnya muncratkan darah.
Bahkan darah tersebut sampai nyelimuti kara di dalam ruangan hingga rah.
Shadow ngambil langkah mundur dan wajahnya terlihat jelek. Sepertinya situasi ngalami perubahan dan firasatnya ngatakan bahwa hal ini sangatlah buruk.
Reviews
All reviews (0)