Sesaatnya matanya natap sosok Randika, Vulcan tidak bisa nahan dirinya untuk tidak rinding dan berkata dengan nada ketakutan. "Tuan Aku tidak bermaksud untuk berkhia"
Namun, bahkan sebelum Vulcan selesai berbicara, Randika sudah nghilang bagaikan asap dan mberikannya pukulan matikan!
Semua ahli bela diri yang ada di gedung langsung nerjang ke arah Randika, tetapi kekuatan Randika sekarang benar-benar lambangkan Ares sang Dewa Perang. Di sekelilingnya puluhan orang berusaha ngambil nyawanya, tetapi bahkan reka sama sekali tidak bisa nahan dirinya.
Karena pengaruh Randika, kondisi dan tempur njadi berbalik. Singa dan Jin langsung mimpin pasukannya nuju lokasi Randika.
Jin sudah bagaikan kelinci yang lompat-lompat. Sesaat dia di kiri dan sesaat dia di kanan, benar-benar lincah! Dia raung dan ndarat di salah satu musuhnya dan ncabik telinganya hingga putus.
Orang tersebut langsung tersungkur kesakitan dan Jin kembali lompat. Sambil mbawa tubuh lawannya itu, Jin lemparnya dengan keras ke musuhnya yang lain.
Singa, dengan senapan sin di tangannya, nerjang maju dan nembak secara mbabi buta. Pertahanan musuh njadi kocar-kacir.
Dion yang raksasa itu juga tidak mau kalah, dia ngambil senapan sin lawan dan ikut nerjang maju. Di tangannya senapan sinnya sudah bagaikan sabit dewa maut, nyawa demi nyawa dia panen bagai padi.
Sentara itu, pihak Bulan Kegelapan juga tidak mau kalah, reka juga ikut nerjang maju. skipun barisan belakang reka diserbu oleh Randika, reka harus bertahan dari serangan depan musuh.
Kedua belah pihak bertempur dengan sengit, situasi semakin manas.
Karena peluru senapan sin terlalu lama untuk diganti, sekarang kedua belah pihak ngeluarkan pedang ataupun pisau reka. Sesaatnya bilah pedang reka bertemu, jeritan tragis selalu terdengar.
Perang seperti ini rupakan spesialis pasukan milik Kyoko. Seseorang dari pasukannya tersebut nebas putus tangan musuhnya skipun dirinya tertikam di bagian perut. ncabut pisau yang tertancap, perempuan itu tertawa dan kembali bertarung sambil bertaruh nyawa!
Di tengah kekacauan ini, Raihan, Serigala dan Kyoko masih disibukkan dengan lawannya sebelumnya. Bisa dikatakan sebagian besar orang dalam daftar Dewa sudah bekerja sama dengan Bulan Kegelapan tetapi itu sama sekali tidak dapat nahan para jenderal pasukan Ares ini.
Raihan mperhatikan gerakan lawannya yang rupakan raja dari Thai Boxing ini. Lawannya ini benar-benar lincah, terlebih dia sangat berhati-hati dengan pedang milik Raihan. Namun, bergerak selincah itu untuk jangka waktu yang lama akan mbuat orang cepat lelah, sekarang tugasnya adalah ncari celah dan mbunuhnya dalam satu gerakan.
Serigala masih bertarung dengan Beruang Putih. Keduanya bertarung dengan tangan kosong tetapi pukulannya sama-sama matikan. Senjata reka adalah otot dan pukulan reka, keduanya terus nerus bertukar pukulan.
Kesimpulannya, reka bertukar pukulan hingga salah satu dari reka pingsan. Benar-benar cara bertarung seorang pria sejati!
Beruang Putih mulai kewalahan, tiap pukulan Serigala bagaikan baja nghantam wajahnya tetapi dia tidak berniat mati hari ini.
Di lain sisi, Kyoko dan mantan anak buahnya itu juga masih bertarung. Tembakan peluru lawannya itu mbuat Kyoko selalu bertahan. Setiap tembakannya benar-benar akurat, hal ini mbuat Kyoko kesusahan ndekatinya.
"Ternyata kemampuan dari seorang jenderal yang dikatakan terkuat itu cuma segini." Perempuan itu ndengus dingin. "Seharusnya akulah yang mimpin pasukanmu itu!"
"Oya?" Kata Kyoko dengan nada dingin. Di balik bajunya, dia sudah mpersiapkan kunainya. Dari titik butanya, dia lemparkan kunainya yang tentu dia bisa manipulasi arahnya dengan mudah.
Ketika lawannya itu terus nembakinya dengan dua pistolnya, dia sama sekali tidak nyadari keberadaan kunai tersembunyi tersebut.
Ketika Kyoko terlihat sibuk nghindari hujan peluru itu, kunainya kian ndekati lawannya dari belakang.
Saat dirinya sedang bersemangat berusaha mbunuh mantan atasannya itu, mantan anak buah Kyoko ini tiba-tiba rinding. Suara pisau mbelah udara terdengar dari belakangnya, maksanya untuk nghindar.
Namun, kunai tersebut bukanlah kunai sembarangan. Ketika benangnya ditarik, kunai tersebut terlihat mbelah dan njadi beberapa kunai! Ketika dirinya hendak mblokirnya dengan kedua senjatanya, semua sudah terlambat.
Kunai tersebut berhasil motong leher lawannya dengan mudah dan kepala perempuan tersebut sudah layang tinggi!
Di dalam gedung, Randika masih mporak porandakan tempat itu seorang diri. Orang-orang yang nerjang dirinya sudah dia bunuh satu per satu. Tidak ada orang yang bisa nahan amarah Ares sang Dewa Perang!
Tetapi Randika tidak bisa terus nerus bertarung seperti ini. Setelah riksa sekelilingnya, dia nyadari bahwa pertarungan ini sudah dikuasai oleh pasukannya.
Para pasukan Bulan Kegelapan itu sudah kewalahan dan satu per satu mulai larikan diri. Para jenderal juga sudah hampir selesai nghadapi lawannya.
Ketika raja Thai Boxing, Atid, nendang, Raihan ngambil kesempatan. Awalnya, Atid manfaatkan celah ketika Raihan kehilangan keseimbangan dan nendangnya. Namun tanpa diduganya, Raihan manfaatkan pedangnya sebagai pijakan dan nerjang ke arahnya!
Atid sama sekali tidak nyangka serangan Raihan tersebut, dia sama sekali tidak bisa nghindarinya dan tertusuk oleh pedangnya. Pada saat ini, nasibnya sebagai ahli bela diri sudah berakhir.
Serigala juga berada di posisi unggul, ketika dia masih beradu pukul dengan Beruang Putih, dia nghindarinya dan mukul tepat di mata lawannya.
"AH!"
Matanya benar-benar ndapatkan pukulan telak dan tidak bisa terbuka lagi. Ketika dirinya kesakitan, Serigala manfaatkan kesempatan ini untuk nendang kakinya hingga mbuat lawannya terjatuh.
Bisa dikatakan bahwa pertarungan di halaman itu sudah hampir berakhir. Seluruh pasukannya sedang nuju tempat dirinya berada.
Setelah natap dan tempur, Randika segera nuju ke lantai teratas gedung rumah ini.
Bulan Kegelapan seharusnya sudah nyadari situasi pertempuran di luar. nurut sifat lawannya itu, jika dia sama sekali tidak keluar untuk bertarung maka hanya ada satu kemungkinan. Bulan Kegelapan berniat untuk kabur!
Tetapi Randika tidak akan mbiarkannya. Setelah berkhianat, mbunuh anak buahnya, nghancurkan markasnya, Randika tidak akan mbiarkan Bulan Kegelapan kabur. Dia akan mbunuhnya dengan kedua tangannya sendiri!
Semua orang yang berniat untuk ncegahnya akan dia hajar tanpa ampun, setiap pukulan ataupun tendangannya ngandung aura mbunuh yang kuat!
Sesampainya di atas, Randika riksa seluruh ruangan dengan penglihatan supernya.
Kosong!
Apakah dia sudah kabur?
Randika ngerutkan dahinya, dan pada saat ini, Bulan Kegelapan dan Shadow sudah berada di depan jendela.
Mau lompat keluar?
Dengan cepat Randika nyusul kedua pengkhianat tersebut dan ndarat di lantai paling bawah. Di kepalanya hanyalah keinginannya untuk mbunuh reka berdua. Jika tidak, maka Randika sama sekali tidak bisa tenang.
Ketika sesampainya reka di bawah, Bulan Kegelapan dan Shadow berlari dan nuju ke pintu yang ngarah ke bawah tanah.
Randika tidak ragu-ragu ngikuti reka dan masuk ke dalam. Tidak lama kemudian, ruangan bawah tanah yang gelap ini akan njadi tempat pertempuran terakhir dari perang ini.
Reviews
All reviews (0)