Pada akhirnya, Inggrid bukan lawan bagi Randika. Perempuan ini ngalami ejakulasi pertamanya.
Malam itu, Inggrid dan Randika tidak makan malam dan neruskan kegiatan malam pertama reka. Namun, Inggrid dengan tegas tidak ingin Randika sampai lakukan penetrasi. Randika mahami hal ini, baginya buru-buru lakukannya sama sekali tidak baik untuk hubungan reka. Semuanya perlu dilakukan secara perlahan-lahan. Dinasti kerajaan tidak dapat dihancurkan dalam semalam. naklukan hati perempuan juga sama, tidak bisa dilakukan dalam semalam.
Hari berikutnya, Randika mbuka matanya dan nyadari bahwa kasurnya kosong. Sepertinya Inggrid sudah pergi duluan
lihat jam, ternyata sudah jam 9 pagi. Mungkin Inggrid sudah pergi ke kantor.
Semalam benar-benar rupakan hal yang paling nyenangkan bagi dirinya.
Sambil ngingat kejadian semalam, Randika tidak bisa berhenti tersenyum. Dia masih bisa ncium aroma badan Inggrid di bantalnya. Aroma itu benar-benar mbuatnya terangsang kembali.
Ketika dia keluar dari kasur, Randika raup mukanya dan turun ke bawah. Karena dia bangun terlalu siang, dia mutuskan untuk datang ke kantor setelah makan siang. Lagipula tidak ada pekerjaan ndesak di kantor jadi dia malas datang pagi-pagi.
Setelah sampai di bawah, Ibu Ipah yang sedang nyapu lihat Randika dan ngol. "Nak, aku tahu bahwa hubungan badan itu wajar. Tetapi tidak perlu sekeras itu kalian berteriak, ibu takut nanti kalian kenapa-kenapa kalau bermain sekasar itu. Belum lagi leher nona tadi banyak cupangnya, nanti malah jadi bahan gosip bagaimana?"
Randika sedikit terkejut, dia tidak tahu harus berkata apa. mang kemarin reka sedikit liar, tetapi Inggrid masih tidak ngijinkan Randika untuk benar-benar berhubungan badan jadi foreplay reka jadi sedikit liar.
lihat bahwa Randika malu-malu dan ngangguk, Ibu Ipah ngatakan. "Nona sudah berangkat kerja duluan. Tunggu sebentar ya, ibu akan siapkan sarapan untukmu."
Setelah sarapan ala kadarnya, Randika juga pergi dari rumah. Namun, dia tidak berniat pergi bekerja. Malah dia berniat untuk berbelanja.
Sangat mbosankan nganggur di kantor jadi lebih baik dia berjalan-jalan, siapa tahu dia nemukan barang bagus yang bisa dia hadiahkan pada istrinya?
Tak lama kemudian, Randika tiba di jalan Kartini, jalan paling terkenal di Cendrawasih.
Bahkan bisa dikatakan bahwa jalan Kartini adalah pusat dari kota ini.
skipun kota Cendrawasih ini masih kalah jauh dari kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, kota Cendrawasih termasuk kota maju. Karena itu, banyak industri perbelanjaan yang berakar di kota ini.
Randika berjalan dengan santai sambil mperhatikan sekelilingnya di jalan yang ramai ini. Dari waktu ke waktu, dia lihat perempuan-perempuan cantik yang berdandan cantik dan berkaki mulus.
Bisa dikatakan bahwa orang-orang itu kemungkinan adalah orang-orang Eropa yang sedang berlibur. Figur reka benar-benar kelas dunia.
Saat Randika muji satu per satu perempuan cantik, satu perempuan cantik nangkap perhatiannya.
Bukankah itu Christina?
Ini mungkin takdir!
Pada saat ini Christina terlihat sedang mbawa tas belanja di kedua tangannya. Tetapi, tiba-tiba dia dihentikan oleh seorang laki-laki berbadan besar.
Orang itu makai keja putih dengan perutnya yang gendut itu hampir mbuat kancing bajunya itu terlepas. Wajah orang itu juga berjanggut tidak karuan, tangannya dipenuhi dengan rambut dan semua orang pasti tidak bisa lepas pandangannya dari perutnya yang besar itu. Belum lagi wajahnya yang jelek itu berkeringat deras.
"Hai cantik, aku lihat kamu sendirian saja nih, mau aku temani?" Orang itu berdiri tepat di depan Christina, wajahnya yang berkeringat itu mbawa kesan tidak higienis.
"Maaf, aku sedang nunggu teman." Christina nolaknya langsung. Dia paling benci dengan orang yang tidak bisa njaga penampilannya dan bau. Terlebih lagi, orang di hadapannya ini benar-benar jelek bagi dirinya jadi Christina sama sekali tidak tertarik.
Dengan kata lain, dia mbenci orang seperti yang ada di hadapannya ini.
Lelaki itu ndengus dingin. "Sudahlah, aku tahu kamu berbohong. Aku tidak ingin njalin hubungan denganmu, aku hanya ingin bersamamu sekali saja di kamar. Setelah itu aku akan mberimu uang yang banyak."
Christina langsung berwajah dingin. "Kata-katamu itu sudah termasuk pelecehan wanita, aku tidak sudi bersama pria semacam kamu. Cepat pergi atau aku akan nelepon polisi."
"Polisi?" Pria itu tertawa. "Kamu tidak tahu seberapa takutnya reka padaku? Mau kamu teriak minta tolong ataupun nyeret reka, reka pasti akan ngabaikanmu!"
Kata-kata orang ini benar-benar arogan, Christina benar-benar benci pria macam ini. Dan orang-orang di sekitarnya sepertinya ngabaikan reka jadi minta tolong rupakan hal yang sulit bagi Christina.
"Kamu tidak miliki banyak pilihan, temani aku satu malam saja maka aku tidak akan pernah ngganggumu lagi." Setelah berkata seperti itu, pria ini tiba-tiba tersedak. Dia lalu ludah di tanah, lendirnya benar-benar kental.
Christina dengan sigap langkah mundur, orang ini benar-benar jorok.
"Tidak akan." Christina nggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan pernah mau pergi bersamamu."
"Aku ini orang berhati besar jadi aku tidak pernah maksa orang. Tetapi penolakanmu ini mbuatku kehilangan wajah." Pria bernama Hans ini ndengus dingin. "Mau tidak mau, kau harus nemaniku hari ini."
Christina nggelengkan kepalanya dengan kuat. "Aku tidak punya urusan denganmu, cepat pergi sana. Aku masih ada urusan."
"Kamu sendiri yang maksaku makai kekerasan." Hans tiba-tiba ncengkram kuat tangan Christina dan nyeretnya bersamanya.
"Hentikan! Apa yang kamu lakukan?" Christina sudah ketakutan. Hans sendiri sudah tidak peduli, hari ini pokoknya dia akan tidur dengan wanita ini. Tetapi pada saat ini, Hans rasa lajunya berhenti. Apa seorang perempuan bisa sekuat itu?
Hans lalu penasaran dan natap ke belakangnya dan nemukan bahwa ada seorang pria yang nahan Christina sambil tersenyum.
Hans yang terkejut langsung marah. "Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak lihat aku dan perempuan ini sedang nikmati hari?"
Christina benar-benar lega lihat Randika, jika Randika tidak muncul entah apa yang akan terjadi pada dirinya.
Randika hanya natap Hans dengan wajah tersenyum. "maksa perempuan lakukan kehendakmu itu sangatlah salah. Kau harus nghormati seorang wanita. Jika dia tidak ingin pergi bersamamu, kamu tidak punya hak untuk maksanya."
"Kau ini mangnya siapa? Mau sok jadi pahlawan di hadapan perempuan ini?" Pria gemuk ini lalu nghela napas. "Percayalah, kau tidak bisa nyentuhku sama sekali."
"Oh ya?" Randika tersenyum nakal. Dia lepaskan genggaman tangan Hans dari tangan Christina dan ndorongnya. Hans langsung terpental beberapa langkah ke belakang.
Hans juga rupakan kekuatan dunia bawah tanah di kota ini dan dia sudah bertahun-tahun mbantai orang-orang yang berani lawannya. Ditantang oleh Randika, dia justru makin bersemangat bukannya mundur dan pergi.
"Ternyata pahlawan palsu ini juga ngincar perempuan cantik ini?" Hans ndengus dingin. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa seriusnya kamu."
"Kenapa tidak?" Randika lalu tersenyum pada Christina. "Perempuan cantik ini mang lebih cocok dengan pria tampan sepertiku."
"Jangan berkhayal." Perut besar Hans kembali bergoyang. "Motifmu itu tidak jauh berbeda denganku. Pada akhirnya kau juga ingin nidurinya bukan? Mana mungkin perempuan itu mau sama kamu."
"Oh ya? Aku jelas berbeda denganmu." Kata Randika sambil tersenyum. Dia lalu berbalik dan natap Christina. "Maukah kamu nghabiskan hari ini bersama denganku?"
ndengar percakapan reka berdua dan ajakan Randika itu, Christina njadi marah. Dia hanya malingkan wajahnya dan tidak mau njawab.
Sialan, setidaknya bekerja samalah denganku untuk nyelamatkan mukaku!
"Hahaha sudah kubilang, perempuan benci bocah sok tampan sepertimu. Hans tertawa lepas.
Randika kehabisan kata-kata. "Kalau begitu baiklah. Karena perempuan ini tidak mau pergi bersamaku, aku akan pergi dan nonton film sendirian. Aku tidak peduli dia akan kamu perkosa atau bunuh, selamat tinggal."
Randika hanya mbalikan badannya dan berjalan njauhi Hans dan Christina. Tindakan ini benar-benar ngejutkan Christina.
"Hei, jangan pergi! Aku ikut!" Kata Christina dengan cepat.
Randika yang baru langkah beberapa langkah itu tersenyum dan berputar.
Dia lalu natap Hans dan ngatakan. "Bagaimana? Pesonaku mampu mbuat dia tidak rela ninggalkanku bukan?"
Hans tidak tahu harus berkata apa, dia sedikit bingung dengan situasinya saat ini.
"Aku tidak peduli dia mau jalan sama siapa, yang pasti dia hari ini akan layaniku." Hans lalu ngangkat tangannya. "Pergi dari sini atau aku akan nghajarmu."
"Oh? Kau mau berkelahi?" Randika jelas nerima tantangan ini. "Sini majulah, karena kau yang nantangku maka aku tidak akan nahan diri."
Hans juga tidak nahan dirinya. skipun perutnya itu gondal-gandul tidak karuan sampai-sampai kancing bajunya ada yang lepas, dia tetap nerjang Randika dengan kecepatan penuh!
Namun, pada saat ini sebuah pukulan sudah ndarat di matanya!
DUAK!
Hans langsung ringkuk kesakitan di tanah.
Randika dengan mudah ninju Hans hingga terjatuh di tanah. Suara keras yang timbul mungkin adalah jalanan aspal yang rusak karena pantatnya yang besar itu dengan kuat ndarat.
Hans berdiri dengan satu mata tertutup. Dia sedikit terkejut ngetahui lawannya bisa berkelahi. Namun, dia kembali nerjang Randika. Kali ini dia terjatuh lebih keras lagi.
Setelah terluka di mata dan di dadanya, rasa percaya diri Hans sudah setipis kertas. Dia lalu berdiri dengan susah payah dan ngatakan. "Lihat saja pembalasanku!"
Kemudian dia lari dari tempat itu.
Ketika pria gemuk itu sudah tidak terlihat, Randika natap Christina sambil tersenyum. "Hari yang indah bukan?"
Christina hanya njawab. "Terima kasih atas bantuanmu."
"Jangan khawatir, lagipula kita sudah bukan orang asing lagi bukan?" Randika ngibaskan tangannya. ndengar hal itu entah kenapa Christina sedikit tersenyum, tetapi semuanya itu runtuh ketika Randika ngatakan. "Lagipula kamu masih berhutang budi denganku sekali jadi kalau hari ini dihitung maka hutang budimu sama aku njadi 2."
Christina benar-benar kehabisan kata-kata ndengarnya, wajahnya kembali njadi cemberut.
"Hei, hei, aku Cuma bercanda." Kata Randika sambil tertawa. "Sedang apa kamu di sini?"
"Lagi belanja." Christina lalu ngangkat kedua tas belanjanya.
"Kebetulan sekali, aku juga mau belanja." Randika lalu nyerang. "Mau pergi bersama-sama?"
"Maaf lain kali saja."
Sialan, Randika harus ngubah taktiknya.
"Baiklah kalau begitu, aku hanya ingin nemanimu agar kejadian tadi tidak terulang lagi. Tetapi kalau kamu yang nolak maka aku tidak bisa maksamu." Setelah berkata seperti itu, Randika pura-pura berjalan sambil lambaikan tangan.
"..."
"Tunggu!"
Kena deh!
...
"Kamu sudah beli apa saja?" Randika yang berjalan berdampingan dengan Christina ini penasaran dengan isi tas tersebut.
"Selain keperluan pribadi, sisanya obat-obatan." Jawab Christina.
"Obat? Obat apa?" Randika terlihat bingung. Seharusnya penyakit dada Christina itu sudah sembuh berkat dirinya, kenapa dia mbeli obat?
"Obat untuk rematik." Jawab Christina. "Ibuku sudah terkena rematik selama bertahun-tahun. Baru-baru ini obatnya habis jadi aku mbantu mbelikannya."
Rematik benar-benar penyakit yang repotkan, khususnya untuk orang yang sudah tua. Orang yang terkena tidak bisa jauh-jauh dari obatnya. Ketika udara dingin, penyakit ini akan terasa nyakitkan.
Namun bagi Randika, penyakit semacam rematik hanyalah masalah sepele.
Reviews
All reviews (0)