Font Size
15px

Dalam sekejap darah ngucur dari hidung Yosef, darah tidak bisa berhenti keluar.

Yosef gangi hidungnya dan natap Randika yang berdiri di hadapannya. Dia lalu nunjuk Randika dengan badan yang masih bergetaran.

"Kau, berani-beraninya kau berbuat seperti ini!"

skipun tidak semuda lawannya ini, ahli bela diri Yosef tergolong kuat di tempat dia berasal. Tapi secara tidak terduga, dia bukanlah apa-apa dibandingkan preman dari kota kecil ini.

Dia adalah tamu kehormatan dari keluarga Alfred. Umumnya orang-orang akan nghormati dan takut padanya tetapi pria di hadapannya ini tidak peduli dengan reputasi seperti itu.

Apakah dunia sudah berubah?

"Aku tidak takut pada apa pun." Randika terlihat nyengir. Tatapan mata Yosef sudah ketakutan, dia rasa bahwa semakin lama dia di sini maka semakin buruk kondisinya.

"Tunggu saja pembalasanku."

Ini adalah kedua kalinya Yosef berkata seperti itu. Dan di bawah tatapan Randika dan banyak orang, dia kembali lari sambil ketakutan.

lihat pria paruh baya yang lari itu, semua orang tidak bisa nahan tawanya. Semua orang sudah ngenal kehebatan Randika mpermalukan dan nghajar lawannya, jadi reka sendiri heran kenapa masih ada orang yang mau lawan atasan reka itu.

Randika malas untuk ngejar lawan yang kabur jadi dia mbawa Inggrid pergi dari situ.

Sepanjang jalan, muka Inggrid terlihat tertekan. skipun ada Randika di sisinya, nama dan kekuatan dari keluarga Alfred masih mbekas kuat di hatinya.

Setelah sampai di rumah, Inggrid terus terdiam dan tidak fokus.

"Hmm? Sayang, kenapa kamu punya kerutan di wajah?" Tiba-tiba Randika cah keheningan.

"Kerutan?" Inggrid terkejut ndengarnya. "Di mana?"

Setelah itu Inggrid cepat-cepat ingin ke kamar mandi untuk lihatnya.

Namun, Randika dengan cepat luk istrinya itu. "Kalau kamu terus-terusan berwajah masam seperti itu, bukan hanya kerutan yang ada, kamu akan tampak lebih tua. Bukankah aku sudah ngatakannya tadi? Serahkan masalah ini padaku, kamu tidak perlu khawatir."

ndengar kata-kata Randika itu, Inggrid rasa tertipu. mang senjata utama untuk nipu wanita adalah mbahas tentang penampilannya, khususnya pada perempuan cantik seperti Inggrid.

"Tapi Masalah ini nyangkut aku dan skalanya juga sudah besar." Bagaimanapun juga, hal ini nyangkut keluarganya juga jadi wajar bagi Inggrid rasa khawatir.

Randika lalu ncubit kedua pipi istrinya itu. "Kenapa kamu tidak percaya dengan suamimu ini? Kamu tidak perlu khawatir dengan masalah seperti ini. Kamu hanya perlu bekerja seperti biasa, makan, tidur, dan nemaniku sambil tersenyum manis. Serahkan semua masalahmu ini padaku. mangnya siapa keluarga Alfred itu? Suamimu ini bisa mbunuh reka semua hanya dengan satu jari."

Inggrid gangi pipinya yang sedikit sakit itu lalu nundukan kepalanya. Dia tahu bahwa Randika berusaha nghiburnya.

"Kamu masih belum percaya?" lihat ekspresi Inggrid, Randika nggaruk-garukan kepalanya. Lalu tanpa sadar dia ngeluarkan sebuah batu. "Coba kamu perhatikan, batu ini adalah keluarga Alfred dan tanganku ini adalah aku."

Tangan kanan Randika remukan batu itu dengan kuat. Dan di bawah tatapan Inggrid, batu itu sudah tidak ada dan njadi serpihan.

Ketika Randika ingin njelaskan bahwa serpihan batu ini adalah keluarga Alfred, tiba-tiba Inggrid bertanya. "Kamu bisa sulap?"

Randika tampak bingung, kenapa istrinya begitu polos kalau perkara seperti ini?

"Intinya adalah, aku akan selalu lindungimu. Aku tidak akan mbiarkan keluarga Alfred rebutmu dari aku. Kamu cukup tetap njadi istriku yang tercinta." Kata Randika sambil tersenyum.

Dengan perasaan hangat di hatinya, Inggrid tersenyum.

"Sudah lebih baik?" Tanya Randika.

Inggrid ngangguk.

"Bagiku senyummu adalah tujuan hidupku." Randika lalu gang pipi istrinya itu. "Ketika kamu tersenyum aku tahu bahwa dunia ini masih miliki keindahan."

Inggrid lalu luk tangan Randika itu dengan kedua tangannya. "Baiklah, aku akan tersenyum setiap saat."

lihat Inggrid yang sudah bangkit kembali, Randika nghembuskan napas lega. Ini pertama kalinya dia nghibur istrinya ini dan benar-benar sulit!

Keduanya lalu ngobrol sebentar di ruangan tamu. Ketika Randika ingin bersraan, Inggrid nolaknya dan ngatakan ingin mandi. Lagipula akhir-akhir ini matahari benar-benar terik jadi bagi Inggrid yang gila kebersihan mandi adalah hal utama.

Randika yang lihat sosok Inggrid yang naik ke atas itu tersenyum.

Setelah masuk ke kamar mandi, Inggrid mandi selama setengah jam sebelum akhirnya keluar. Sambil makai handuk, dia kembali ke kamarnya dan makai piyamanya.

nurut kebiasaannya sehari-hari, setelah ngeringkan rambutnya, Inggrid biasanya akan langsung tidur sebelum makan malam. Maklum, selama dia di kantor dia hampir tidak pernah istirahat.

Ketika Inggrid mau tiduran, dia tiba-tiba terkejut. Kenapa ada sosok orang di balik selimutnya itu?

Sambil ketakutan, Inggrid mbuka selimut itu dan ndapati Randika sedang berpose miring dengan tangannya nopang kepalanya.

Sambil tersenyum lebar, Randika berkata sambil nepuk-nepuk kasur di sampingnya. "Kemarilah sayang."

Inggrid terkejut lihat Randika dan setelah terdiam beberapa detik, dia berteriak keras!

Teriakan ini nggema di ruangan, keluar dari celah pintu dan bahkan terdengar sampai di lantai 1.

Randika, yang tidak siap, sampai terjatuh ketika ndengar teriakannya itu. Apa istrinya ini mau mbunuhnya dengan ultrasonik?

Ibu Ipah, yang sedang masak makan malam, ndengar teriakan Inggrid ini. Dia hanya nggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar anak muda yang sedang kasmaran. Ibu tahu kalian sedang lakukan hubungan badan tapi tidak perlu berteriak keras seperti itu. Saat ibu masih muda saja tidak pernah berteriak keras seperti itu. Dasar anak muda, inginnya par!"

Setelah mikirkannya, Ibu Ipah mutuskan untuk kembali masak.

"Kenapa kamu ada di kasurku?" Inggrid yang gang bantalnya itu natap Randika yang sedang nutupi telinganya. Kalau Randika daritadi ada di sini, berarti dia lihat dirinya ganti baju tadi?

Kalau dipikir-pikir, pasti orang ini ngintipnya!

Randika lalu berkata sambil tersenyum. "mangnya kenapa? Ini kasur kita bukan? Ayo cepat masuk, aku mulai kedinginan dan ngantuk."

Tidur bersama?

ndengar ajakan Randika ini, Inggrid nggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.

"Siapa mangnya yang mau tidur sama kamu?" skipun piyama yang dipakai Inggrid cukup longgar, itu tetapi tidak bisa nutupi keindahan dada istrinya itu.

Randika tidak bisa nahan dirinya untuk mbandingkannya dengan semua perempuan yang dia kenal. Sepertinya tangannya sudah gatal ingin naklukan kedua gunung itu.

Mata Randika bergerak secara perlahan. Randika sepertinya bisa lihat pucuk berwarna pink di balik piyama yang berwarna putih itu.

GLEK!

Randika nelan air ludahnya.

Inggrid nyadari bahwa Randika sedang lototi dadanya itu. Dan dia akhirnya berteriak sekali lagi dan ngambil selimutnya itu dan nyekap Randika dengan itu.

"Hei, kita kan suami istri jadi wajar kan kita tidur bersama. Sudahlah jangan malu-malu begitu." Kata Randika sambil larikan diri.

"Tidak, aku tidak akan mbiarkanmu tidur bersamaku sebelum kamu nikahiku." Inggrid mukuli Randika dengan bantalnya, dia ingin pengalaman pertamanya itu dengan orang yang dicintainya.

Tetapi Inggrid sepertinya tidak sadar bahwa kata-katanya itu sedikit canggung. ndengar kata-kata itu, Randika tampak senang dan ngatakan. "Bukannya kita punya sertifikat yang ngatakan kalau kita sudah nikah?"

Inggrid terkejut, saat dia mau njelaskan maksudnya, Randika sudah narik tangannya dengan keras. Dalam sekejap seluruh tubuhnya jatuh ke kasur.

Ah!

Inggrid berniat berteriak sekali lagi. Tetapi, Randika berhasil nutup mulut Inggrid dengan tangannya. Posisi reka sudah sangat dekat, bibir reka hanya berjarak 2 cm.

Inggrid ingin kabur dari situ, tetapi Randika nahan Inggrid dengan kuat dan tidak mbiarkannya pergi. Randika tidak akan mbiarkan istrinya kabur setelah berkata seperti itu.

Terlebih, Randika miliki kecepatan yang sungguh luar biasa. Di saat dia mbungkam teriakan Inggrid dengan tangan kirinya, tangan kanannya itu sudah lempar sesuatu dari saku celananya dan matikan lampu. Sekarang kamar tidur Inggrid ini gelap gulita dan reka masih bergulat di atas kasur.

manfaatkan kegelapan ini, Randika tentu saja ingin rasakan tubuh molek istrinya itu. Sedangkan Inggrid masih berusaha kabur.

Randika hanya tertawa dan terus luk Inggrid. Dengan tangan kirinya luk pinggang istrinya itu, Inggrid sama sekali tidak punya kesempatan untuk kabur. Oleh karena itu, tangan kanan Randika bisa bebas berenang-renang di tubuh Inggrid.

"Beruang kecilku, jangan malu-malu seperti itu. Aku akan lindungimu dari dekat." Kata Randika di telinga Inggrid. Dia juga tidak lupa nyebul sekaligus nggigit telinga lezat itu.

Bahkan di tengah kegelapan ini, Randika masih bisa lihat semuanya dengan jelas. Bahkan dia bisa lihat telinga Inggrid yang rah itu.

Dia mperkirakan bahwa wajah Inggrid pasti sudah rah karena malu.

Tangan kanan Randika tidak pernah berhenti berenang. Dia sekarang mulai nyerang kedua pucuk gunung milik Inggrid yang pink itu.

Bisa dikatakan bahwa gunung ada untuk ditaklukan, jadi dia harus naklukannya!

Randika benar-benar mbuat puting Inggrid njadi keras, Inggrid hanya bisa nahan teriakannya itu dengan nggigit bibirnya.

Karena tidak bisa lari, Inggrid hanya bisa pasrah terhadap tindakan Randika ini.

"Hentikan!" Inggrid masih berusaha nahan desahannya itu sambil terus nutup matanya. Randika yang njepit putingnya itu mberikan sensasi tersendiri baginya.

"Aku akan lindungimu selamanya." Kata Randika di telinga Inggrid.

"Aku akan manggil ibu Ipah." Inggrid rasa bahwa bisa-bisa reka akan lakukannya malam ini jadi satu-satunya pilihan adalah minta bantuan.

"Percuma kamu manggil ibu Ipah. lindungimu adalah tugasku, Ibu Ipah juga tahu akan hal itu." Kata Randika sambil tersenyum. "Malam ini aku akan tidur bersamamu."

"Tidak mau!" Inggrid tidak nyerah, dia lalu berteriak sekali lagi. Ternyata teriakan itu bukanlah teriakan minta tolong lainkan teriakan kenikmatan karena Randika mbuatnya keluar hanya dengan mainkan dadanya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 148: Aku Akan Melindungimu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.