Font Size
15px

"Rematik? Penyakit simpel begitu tidak perlu obat, kamu sudah lupa siapa aku?" Kata Randika sambil tersenyum.

Setelah ndengar Randika berkata seperti itu, Christina teringat penyakit dadanya itu telah disembuhkan oleh Randika. Belum lagi Randika pernah ngatakan bahwa dia nguasai pengobatan tradisional padanya.

"Uhuk." Randika berusaha cahkan keheningan, suasana canggung ini tidak asyik baginya. Namun, reka tetap berjalan tanpa berkata apa pun. Christina masih tidak berkata apa-apa, Randika sedikit kecewa dengannya. Sudah jelas umpan yang dia tabur itu sangat nggoda, tapi kenapa Christina belum makannya?

"Kenapa? Kamu sedang sakit?" Christina yang tersadar dari pikirannya itu natap cemas Randika.

Randika hanya nggelengkan kepalanya, dia hanya pura-pura batuk agar suasana tidak canggung saja.

"Aku benar-benar lupa kalau kamu ahli dalam pengobatan tradisional. Kalau bisa, apakah kamu bisa nengok ibuku itu?" Tanpa diduganya, Christina akhirnya ngambil umpannya.

"Jangan khawatir, serahkan semua itu padaku. Aku akan mastikan bahwa penyakit ibumu itu hilang tanpa bekas. Bahkan dia akan rasa lebih muda beberapa tahun." Randika nampak percaya diri.

"Kalau begitu, apakah kamu bisa lihatnya sekarang?"

.........

Christina lalu mbawa Randika ke rumah ibunya. Randika sedikit terkejut, ibunya Christina ini tidak tinggal di rumahnya yang berseberangan dengan Viona. Justru rumahnya berada di perumahan nengah ke atas.

"Ibumu tinggal sendirian?" Tanya Randika.

"Karena aku ngajar, aku butuh tempat yang dekat dengan sekolah agar aku tidak terlalu kecapekan. Rumah yang kamu lihat waktu itu hanya sewaan saja, rumah ibuku ini adalah rumahku yang sebenarnya."

Tak lama kemudian reka tiba di rumah orang tuanya Christina.

Christina lalu ngambil kuncinya dan mbuka pintunya.

"Ma, aku pulang."

Christina berteriak sekaligus letakan barang bawaannya ke atas ja.

Randika yang masuk langsung nyapu seluruh ruangan itu dengan matanya. Ruangan tamunya ini cukup besar dan asri. Rumah berlantai 2 ini kurang lebih cukup luas, belum lagi ada piano yang besar di lantai bawah ini.

Randika dengan santai langsung duduk di sofa. Pada saat yang bersamaan, ibunya Christina, yang berumur sekitar 60 tahun, keluar dari dapur.

"Kok cepat sekali kamu pulangnya?"

Ibunya Christina tampak lebih muda dari orang seusianya, skipun kerutan di wajahnya itu dia tutupi dengan make up dan rambut putihnya dia cat, mungkin orang-orang akan ngiranya dia baru di usianya 50 awal.

Saat dia keluar dari dapur, matanya tertuju pada anaknya. Namun, setelah itu dia lihat sesosok laki-laki sedang duduk di sofa. Dalam sekejap ibu ini langsung tersenyum lebar.

"Selamat siang tante." Kata Randika sambil berdiri.

Jangan-jangan dia..

Christina langsung ingin njelaskan alasan kedatangannya Randika. "Ma, ini adalah Randika. Dia ini"

"Aduh ngapain coba kamu jelaskan? Mama sudah tahu siapa dia. Mama Cuma kaget saja kamu tidak bilang-bilang kalau pacarmu akan ngantarmu pulang." Ibunya Christina ini tiba-tiba njadi bersemangat.

Selama ini putrinya ini selalu lajang bertahun-tahun sampai mbuat dirinya cemas. Dua tahun lagi anaknya ini akan berkepala 3 dan masih belum punya calon suami. Tetapi sebagai ibu yang baik, dia tidak terlalu ncemaskannya.

Dan hari ini tiba-tiba anaknya mbawa seorang laki-laki ke rumah, bagaimana mungkin dirinya tidak bersemangat?

Randika dan Christina terkejut ketika ndengarnya.

Pacar?

Kesalahpahaman ini benar-benar terjadi begitu cepat. Namun, Randika tidak bisa nahan tawanya sedangkan Christina terlihat malu karena ibunya ini. lihat ibunya yang bersemangat itu, dia tidak tega ngatakan bahwa Randika bukanlah pacarnya.

Ibunya Christina ini terus nerus nilai Randika. Semakin dia mperhatikannya, semakin senang hatinya. Wajah Randika terlihat tegas, terlihat bahwa orang ini tidak takut sama apa pun. Terlebih postur tubuhnya yang tegap mbuat dia terlihat kekar dan tampan. ngingat sifat putrinya yang sedikit kasar, keduanya terlihat cocok.

"Ayo ngapain kamu terus berdiri? Ayo duduk, duduk." Randika lalu duduk kembali di sofa. Randika tidak masalah dengan sifat antusias ini tetapi Christina sedikit bingung harus bereaksi seperti apa. Ibunya ini sepertinya sudah tidak sabar miliki cucu.

"Tintin, sudah sana ke dapur dan buat minuman. Ah, tante lupa. Orang semuda kalian tidak suka minum teh ya? Bagaimana kalau bir?" Ibunya Christina itu terus ngoceh tanpa mbiarkan Randika mbalasnya. Tanpa daya, Randika hanya bisa ngangguk.

lihat ekspresi Christina itu, Randika bermaksud mbantunya dengan ngatakan. "Permisi tante, hari ini aku"

"Sudah, sudah, tante tahu kok maksud kedatanganmu ini." Ibunya Christina ini tersenyum. "Omong-omong sudah berapa lama hubungan kalian ini? Bagaimana ceritanya kalian bisa jadian? Umurmu berapa? Kerja di mana kamu? Kamu sudah beli rumah sama mobil sendiri belum? Tentu saja tidak masalah kalau kamu belum mampu mbeli rumah atau mobil sendiri. Yang penting kamu sudah punya pekerjaan yang stabil sebelum kamu nikah. Terus kapan rencananya kalian akan nikah?"

Rentetan pertanyaan ini bagaikan senapan serbu, hal ini mbuat Randika tidak mampu berkata apa-apa. Dia hanya bisa natap tanpa daya pada Christina.

Tatapan mata Randika seakan-akan minta maaf karena tidak bisa ladeni ibunya itu. Sepertinya ibunya Christina ini sudah tidak sabar lihat anaknya nikah.

Christina sendiri rasa sedikit bahagia, baru pertama kali ini dia lihat ekspresi Randika yang kewalahan.

Namun pada saat ini, ibunya Christina nyadari tas belanjaan yang banyak di atas ja.

"Nak, aku senang dengan idemu mbawa hadiah saat pertama kali bertemu dengan rtua. Tetapi yang aku ingin lihat adalah kalian cepat njalin hubungan ini secara resmi. Kapan kalian ingin mpunyai anak?" Tanyanya sambil tersenyum.

lihat ekspresi senang ibunya Christina ini, Randika hanya bisa berkeringat dingin. Bukankah barusan dia ditanya kapan nikah? Kenapa sekarang lenceng jadi punya anak? Semua itu butuh proses dan aku bahkan belum pernah raba Christina!

"Ma cukup" Christina yang ndengar hal ini njadi tersipu malu.

"Tintin, mama ini sudah takut kamu akan hidup sendirian dan sudah nunggu mon ini sejak lama. Biarkan mama nikmati mon ini."

"Ma, dia itu bukan pacarku." Kata Christina dengan wajah datar.

ndengar kata-kata itu, ibu berusia 60 tahun ini rasa rambutnya makin putih.

Bukan pacarnya?

lihat ekspresi bingung ibu ini, Randika juga berkata sambil tersenyum pahit. "Tante, kami ini hanya teman. Untuk saat ini hubungan kami tidak lebih dari itu."

"Oh.." Ibunya Christina ini sepertinya mahami maksud Randika. Dia lalu tersenyum sambil ngatakan. "Terus sampai kapan kalian ingin berteman? Anakku ini sedang tidak bersama siapa-siapa."

Kenapa tiba-tiba ibunya sepertinya njual dirinya seperti itu?

Randika lumayan terkejut ndengarnya, ibu ini benar-benar gigih.

Christina sudah tidak tahan dengan sandiwara ini, dia lalu berteriak keras. "Ma, cukup! Jangan bahas itu lagi, dia ke sini untuk lihat penyakit rematikmu."

"Baiklah, baiklah, mama tidak akan mbahasnya lagi. Mama cuma khawatir sama usiamu saja, umur 28 sudah waktunya untuk seorang perempuan nikah." Katanya sambil nghela napas.

"Namamu Randika ya? Penyakit rematikku ini sudah bertahun-tahun dan aku sudah riksakannya ke rumah sakit berkali-kali. reka hanya mberikan aku obat dan jujur saja tidak terlalu manjur. Tapi tante bingung, obat apa mangnya yang kamu punya?"

"Tante jangan khawatir, aku akan nyembuhkan tante." Kata Randika sambil tersenyum.

"Selama ini tante sudah berusaha ngobatinya dengan pergi keluar negeri dan bahkan ke orang-orang pintar. Penyakit itu mang hilang tapi lama-lama penyakit ini akan balik lagi. Jadi maafkan tante kalau tidak percaya dengan omonganmu itu."

"Lagipula anakku ini sudah mbelikan obatku jadi kamu tidak usah repot-repot nolongku, dengan obat itu biasanya rasa sakitnya tidak terlalu terasa kok."

"Maaf aku tidak bisa ngindahkan anjuran tante itu. Aku sudah berjanji dengan temanku ini kalau aku akan nyembuhkanmu." Kata Randika dengan wajah penuh percaya diri. "Jangan khawatir, sekali aku ngobatinya maka penyakit rematik ini tidak akan pernah kembali."

"Sekali? Jangan bercanda seperti itu." Ibunya Christina ini nggelengkan kepalanya.

"Ma sudahlah, coba saja dulu. Kan tidak ada salahnya ncoba." Kata Christina dari samping.

"Baiklah kalau begitu." Jawab ibunya. "Bagaimana kamu akan ngobatiku?"

"Sebentar tante, aku akan riksa denyut nadimu dulu." Kata Randika sambil tersenyum.

Setelah riksanya, Randika berkata pada Christina. "Tolong ambilkan air hangat satu ember dan bawakan alkohol sama korek api."

Christina dengan sigap ngambilkan semua barang yang dibutuhkan Randika.

"Rematik itu bukan penyakit serius, tetapi rasa sakitnya itu luar biasa." Kata ibunya Christina ini. "Dan juga aku sudah tua."

"Ah tante masih muda gini." Randika lalu ngobrol sebentar sebelum akhirnya Christina mbawakan semua barang yang dibutuhkan Randika.

Kemudian Randika nuangkan alkohol itu ke dalam air hangat dan ngambil korek api lalu nyalakan api di ember yang berisi air dan alkohol. Dalam sekejap, api nyala dengan kuat dan permukaan air itu penuh dengan api.

Randika lalu ngeluarkan jarum akupunturnya dan berkata pada Christina. "Tolong kamu angkat baju mamamu itu."

"Baik." Christina lalu ngangkat baju ibunya. Randika lalu ncelupkan tangan kanannya ke dalam ember, dia sepertinya ngambil api yang berkobar. Api tampak nyala kuat di telapak tangannya lalu dia dengan cepat nempelkannya pada pinggang si ibu.

Teknik ini mirip dengan bekam tetapi bedanya adalah Randika nggunakan telapak tangannya. Dan pada saat yang bersamaan, dia nyalurkan tenaga dalamnya itu ke dalam tubuh si ibu. Hasilnya akan jauh lebih besar daripada tode bekam biasa.

Ketika Randika nempelkan tangannya, ibunya Christina ini rasakan panas yang nyaman. Pada saat yang sama, dia rasakan sensasi ratusan semut yang njalar dari pinggangnya itu ke seluruh tubuhnya.

Randika lalu ngangkat tangannya dan nusukan beberapa jarum ke titik akupuntur tertentu.

Seluruh jarum ini sudah ngandung tenaga dalam Randika dan sekarang ngalir dengan lembut.

Setelah rasakan jarum itu nancap di tubuhnya, ibunya Christina ini rasakan rematiknya mulai nghilang dan dia mulai bisa bergerak dengan bebas.

Perasaan ini benar-benar nyenangkan, bagaikan lihat matahari setelah musim salju.

Randika lalu ngulangi proses ini, dia kembali ngambil api dan kali ini nempelkannya di punggung. Setelah itu dia nusukannya dengan beberapa jarum lagi.

Waktu terus berjalan dan tanpa sadar pengobatan tradisional ini sudah lebih dari 5 nit. Akhirnya, jarum yang berada di punggung ibunya Christina ini tampak berhenti bekerja dan api di dalam ember juga ikut padam.

Setelah ndapatkan perawatan dari Randika ini, ibunya Christina rasa segar bugar. Dia rasa bisa jungkir balik sekarang. lihat dari reaksinya, sepertinya penyakitnya ini benar-benar sudah hilang. Christina rasa lega lihat ibunya yang sudah tua itu sembuh.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 150: Kapan Kalian Akan Menikah? on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Devour Deities cover
Similar genre

I Devour Deities

Love Pea ·Harem

Thirtyyearsago,ameteorfellandthedivineruinsappeared!Somedeitiesemergedfromit,feedingonhumans.Sincethatday,humanshavebecomefoodforthedeities,exceptf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.