Font Size
15px

Beberapa nit kemudian, Randika ncabut jarum yang masih nempel.

"Bagaimana tante?" Randika tersenyum kecil. "Seharusnya penyakit tante itu sudah hilang sepenuhnya. Aku jamin dia tidak akan kembali asalkan tante terus njaga diri."

Ibunya Christina lalu ncoba untuk berdiri dan mutar-mutar bahunya, dia benar-benar rasa ringan. Seakan-akan beban yang ada di pundaknya itu sudah diangkat, benar-benar ringan!

Rasa nyaman ini sudah lama tidak dia rasakan, senyum lebar segera nghiasi wajahnya.

"Apakah aku benar-benar sembuh?" Tanyanya sekali lagi.

Randika hanya ngangguk.

Christina juga terlihat tersenyum manis, dia sangat senang lihat ibunya itu lepas dari penyakitnya.

"Kamu mang lelaki yang luar biasa. Omong-omong kamu sudah makan belum? Tinggalah di sini dan makan bersama kita." Kata ibunya Christina dengan antusias.

Tinggal?

Randika mulai ragu, dia sudah tidak ingin ndengar rentetan pertanyaan itu lagi. Dia sudah tidak mau tertekan seperti itu lagi.

"Maaf tante, aku harus pergi karena masih ada urusan." Randika dengan cepat berdiri. Saat dia lihat jam, sekarang masih jam 11 mana mungkin orang makan siang di jam segini? Pasti ibu ini ingin njadi mak comblang untuk anaknya itu.

"Bisa-bisanya kamu nolak kebaikan tante?" Ibunya Christina ini ngerutkan dahinya. "Sudah makan siang saja di sini. Aku akan masakanmu masakan spesial tante, aku jamin kamu suka."

"Tintin, kamu temani Randika dulu ya. Mama mau belanja sebentar." Setelah nyukai sosok Randika ini, ibunya ini tidak akan lepasnya begitu saja. Dia dengan cepat makai sepatunya dan hendak belanja.

Randika benar-benar sudah tidak bisa lolos!

"Aduh tante jadinya malah ngerepotin gini. Aku sebentar lagi ada urusan penting jadinya tidak bisa lama-lama. Lain kali saja, aku juga nantikan masakan tante kok."

Apa pun yang terjadi, dia harus kabur.

lihat Randika yang berjalan nuju pintu, ibunya itu berkata pada Christina. "Setidaknya biarkan anakku ini ngantarmu pergi."

Ketika ndengar hal ini, Christina sedikit terkejut sedangkan Randika tersenyum. "Baiklah kalau begitu, aku dengan senang hati nerimanya."

Christina sedikit tersipu malu tetapi dengan cepat dia kembali normal. Buat apa dia malu? Dia hanya ngantar Randika pulang saja kan?

Keduanya ini lalu berjalan keluar dan ninggalkan ibu itu sendirian.

"Aku tidak nyangka kamu punya nama panggilan di rumah." Kata Randika sambil tertawa. "Tintin, benar-benar nama yang lucu."

"Ah! Cukup jangan manggilku seperti itu! Itu panggilanku saat masih kecil." Christina terlihat malu ketika ndengarnya.

"Baiklah aku tidak akan ngulanginya." Randika lalu berdiri di hadapan Christina. "Kalau aku nikahimu apa aku boleh manggilmu Tintin?"

"Kau!" Christina langsung marah ketika ndengarnya.

"Hahaha aku bercanda. Tapi serius, kamu setiap hari ditanya seperti itu sama mamamu?"

Christina masang ekspresi tidak berdaya. "Aku ngerti kekhawatirannya jadi aku hanya bisa terdiam."

"Tenang saja, jawabannya gampang kok." Randika lalu berkedip. "Kamu tinggal njadikanku pacarmu bukan? Dengan itu mamamu jadi tidak khawatir lagi dan aku bisa ncicipi makanannya."

"Kalau itu kamu yang mimpi." Christina malingkan wajahnya.

"Aku rasa mamamu tadi tidak ingin lepaskanku." Randika lalu tertawa. "Aku rasa mamamu berusaha njadikan aku nantunya dan dia juga sudah tidak sabar punya cucu."

"Kenapa? Kamu tidak mau?" Ini cuma sarkas dari Christina, dia bukannya ingin ndengar jawaban Randika! Kalian dengar? Ini cuma sarkas!

"Aku rasa itu tidak buruk." Kata Randika sambil berjalan. "Hidup denganmu aku kira cukup nyenangkan, selesai kita bekerja kita setiap hari akan disambut masakan enak ibumu dan kita bisa wujudkan impian ibumu untuk mpunyai cucu dengan cepat."

"Apaan sih!" Christina berusaha nutupi muka malunya itu, dia tidak nyangka Randika akan berkata seperti itu.

Lha kamu padahal yang nanya kenapa sekarang marah-marah? Aku cuma ngutarakan perasaanku saja, aku tahu kamu sama sekali tidak mikirkan diriku ini." Randika tertawa sambil terus berjalan.

Christina hanya terdiam selama beberapa waktu, dan setelah berjalan cukup lama dia ngatakan. "Terima kasih sudah nyembuhkan ibuku itu, penyakitnya itu sudah lama mbuatnya kerepotan."

"Sebentar, cara berterima kasihmu itu salah! Kamu harus nunjukannya dengan aksi bukan dengan kata." Kata Randika sambil tersenyum.

"Aksi?" Wajah Christina dipenuhi dengan kebingungan.

Sambil lihat tatapan bingung Christina, Randika nghampirinya dan luk pinggangnya. "Sini kuajari."

Randika langsung rasakan kelembutan bibir milik Christina.

Untuk sejenak Christina tidak bisa berpikir apa-apa.

Setelah 5 detik, Christina ndorong Randika. lihat senyuman nakal Randika itu, Christina rasa marah hingga dadanya nggebu-gebu. Bisa-bisanya dia dipermainkan oleh Randika lagi.

Randika ngusap bibirnya, rasanya tidak buruk. Kalau diberi nilai mungkin Christina ndapatkan angka 9.

"Itulah yang namanya balas budi yang benar." Kata Randika sambil tersenyum. "Lain kali aku akan nagihnya lagi, aku pergi dulu ya."

lihat Randika yang larikan diri itu, Christina nggigit bibirnya. Rasa dari bibir Randika masih mbekas di bibirnya.

......

Randika kembali nganggur, dia juga masih malas untuk pergi ke kantor. Jadi dia mutuskan untuk nghabiskan hari ini dengan berjalan-jalan.

Setelah bermain dan berjalan sekian lama, hari sudah njadi sore. Randika bermaksud untuk pulang ke rumah, seharusnya sebentar lagi Inggrid juga dalam perjalanan pulang.

Saat kembali ke rumah, Randika segera ngambil kuncinya dan mbuka pintunya. Anehnya, pintu rumahnya ini secara otomatis terbuka sendiri.

Randika langsung ngerutkan dahinya. skipun Ibu Ipah ada di rumah, pintu ini selalu terkunci jadi kejadian ini benar-benar ncurigakan.

Saat Randika masuk ke dalam rumah, adegan di depannya benar-benar mbuat dirinya terkejut bukan main.

Di dalam ruang tamu itu, lebih dari 12 orang yang berpakaian serba hitam sedang berdiri di sana. Terlebih, Yosef berada di antara reka!

Di bawah kaki Yosef ada Ibu Ipah yang berwajah pucat sedang terikat.

Bersamaan dengan bunyi pintu, Yosef dan anak buahnya itu langsung natap ke arah pintu.

"Wah wah wah, preman kecil kita sudah pulang?" Yosef tertawa keras sambil berwajah bengis. "Mana sifat aroganmu yang biasanya? Ups jangan macam-macam atau kubunuh orang ini."

Randika tidak njawab, wajahnya yang sekarang benar-benar mancarkan aura mbunuh yang pekat.

Randika berjalan perlahan ke arah Yosef, tetapi tatapannya jatuh pada Ibu Ipah. Ibu Ipah ngerti arti tatapan itu dan mohon pada Randika untuk tidak berbuat macam-macam. Lalu tiba-tiba Ibu Ipah ditendang oleh Yosef.

"Kamu sendiri juga jangan macam-macam, aku tahu niatanmu dari tatapanmu itu. Orang-orang ini adalah para elit yang dilatih oleh keluarga Alfred kalau kalian macam-macam nyawa kalian akan layang." Yosef lalu ndengus dingin dan natap Randika. "Aku sudah nyelidiki tentangmu. Kau itu cuma penjual mie ayam dengan kata lain orang rendahan. Aku tidak tahu kenapa nona Inggrid tiba-tiba nikahimu dan aku tidak peduli alasannya. Namun hari ini riwayatmu akan tamat."

Randika masih tidak berbicara, api kemarahannya hampir ncapai puncaknya.

"Di mana Inggrid?"

Randika tiba-tiba bertanya.

"Masih peduli dengan orang lain skipun nyawamu terancam?" Yosef ngerutkan dahinya. "Nona Inggrid sudah dibawa ke hadapan tuan mudaku."

Tatapan mata Randika njadi tajam, kepalan tangannya sudah ngepal keras. Aura mbunuhnya terfokus pada Yosef yang sedang duduk di sofa.

Jika seekor naga lihat Randika, maka naga itu akan lari ketakutan!

rasakan aura mbunuh Randika yang pekat itu, Yosef terkejut. Dia benar-benar rasa sedang lihat iblis pembunuh di hadapannya. Dia belum pernah lihat aura mbunuh yang sebesar ini.

Namun, ada 12 orang lebih bawahannya yang rupakan pendekar elit di sampingnya, Yosef jelas rasa tidak takut. "Kenapa? Kau ingin mbunuhku? Mari kita lihat seberapa tangguhnya kamu hari ini."

"Nak Larilah"

Ibu Ipah ngeluarkan sisa tenaganya untuk nyuruh Randika lari, sepertinya dia sudah dipukuli cukup parah sebelum Randika datang.

Randika narik kembali api kemarahannya dan berjalan kembali ke arah Ibu Ipah.

"Kau tidak perlu khawatir, Ipah tidak akan mati tetapi kau akan mati." Yosef tertawa keras. Pada saat ini, para elit ini sudah waspada ketika Randika sudah berjalan ndekati Ibu Ipah. reka mau tidak mau nyerang Randika.

Randika sama sekali tidak bergerak, para pendekar itu sudah nerjang ke arahnya dari segala sisi.

Yosef yang lihat ini sudah tertawa bagaikan penjahat yang sudah nang, hari ini dia akan mbuang mayat Randika di sungai.

Ketika para pendekar itu sudah dekat dan layangkan pukulannya, Randika bergerak. Tangannya bergerak dengan cepat dan tidak ada orang yang bisa lihat sosoknya. Kemudian dia nghantam tenggorokan salah satu pendekar!

DUAK!

Di bawah tatapan orang-orang, pendekar itu layang jauh dan terbenam di dalam tembok. Sudah dipastikan bahwa tinju Randika langsung newaskannya. Dari dalam tembok muncul genangan darah.

Untuk sejenak semua orang terdiam dan natap pendekar tersebut. Tawa liar Yosef itu berhenti dan natap diam salah satu anak buahnya itu.

Para pendekar lainnya mulai ketakutan terhadap lawannya ini. Kekuatan dan aura yang dia tunjukan benar-benar sudah jauh di atas level reka.

Randika, seakan-akan tidak terjadi apa-apa, hanya ngambil kembali tangannya dan berjalan kembali ke arah Ibu Ipah.

Keheningan yang ncekam!

Para pendekar elit ini herannya mberi jalan pada Randika untuk lewat, reka tahu bahwa reka bukan tandingannya.

Randika lalu ngambil tangan Ibu Ipah dan riksa denyut nadinya. Dia lalu ngeluarkan jarum akupunturnya dan nusukannya. Setidaknya dia telah mberikan pertolongan pertama.

"Di mana Inggrid?" Tanya Randika. Namun, Ibu Ipah nampak nangis, sepertinya dia telah gagal lindungi nona mudanya itu.

Pertanyaannya itu aslinya mbuat hati Randika rasakan rasa sakit yang bukan main.

Inggrid dan dia awalnya hanya njalani kawin kontrak dan Randika ngikuti pengaturannya karena tergiur oleh imbalannya. Namun, hari demi hari hidup bersama, perempuan cantik, keras kepala, independen, dan berhati lembut itu telah ngisi kekosongan hatinya.

Randika suka senyumannya, wajah marahnya, aroma tubuhnya, sikap cueknya, semuanya tentang Inggrid. Dialah kryptonite nya!

Yosef yang sudah njauh dari Ibu Ipah itu tiba-tiba ngatakan. "Hari ini mayatmu akan ngapung di sungai, bersiap-siaplah nyambut ajalmu!"

Randika tidak njawab, dia hanya terus ngobati Ibu Ipah.

Ibu Ipah sendiri sudah rasakan aura mbunuh Randika dan dia benar-benar terkejut. Pada saat ini, Randika bagaikan singa yang tertidur. Setiap saat dia bisa ngeluarkan kekuatan serta seluruh kemampuannya dalam sekejap. Hal ini bisa-bisa mbuat bumi terguncang.

"Nona sudah dibawah oleh tuan muda kelima dari keluarga Alfred bernama Henry." Kata Ibu Ipah sambil nenangkan diri. "reka baru saja pergi."

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 151: Singa yang Tertidur on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.