Font Size
15px

ndengarkan Ishakan, Leah teringat cerita yang diceritakan Genin padanya. Hal itu terus berputar-putar di kepalanya sejak Genin pertama kali njelaskan sifat sebenarnya dari seorang Kurkan saat bulan purnama. Hanya satu kata yang terlintas di benaknya sekarang, bergema lalui ingatan yang mbingungkan.

Perkawinan...

lihat Leah terdiam mbuat Ishakan tertawa. Matanya terbuka lebar, dan bibirnya hampir tidak bisa ngucapkan kalimat lengkap.

"Tapi lukanya..."

"Itu akan sembuh bahkan jika aku tidak lakukan apa pun," dia ngangkat bahu.

Ishakan ndekati anak laki-laki yang dilemparnya, yang tergeletak tak bergerak di tanah. Dia riksa denyut nadinya dan mastikan bahwa bocah itu masih bernapas. "Dia belum mati," gumamnya.

Namun, dia mastikan kemungkinan besar anak tersebut masih belum sadarkan diri hingga keesokan harinya. Karena anak laki-laki itu telah dianiaya begitu lama, wajar saja jika dia nghabiskan seluruh kekuatannya setelah lompat ke arah Leah.

Ishakan ngangkat anak laki-laki itu dan mbaringkannya di sudut sebelum nghela nafas. Dia telah maksakan dirinya untuk tidak lakukan kontak mata dengan Leah. Karena prihatin, dia perlahan mundur dan bersandar pada jeruji besi jendela.

"Haa..."

Dia nghela nafas dan ngangkat tangannya untuk nyentuh rambutnya. Saat jari-jarinya nyentuh helaian rambut coklat tua, darah ngalir ke lengannya. Lukanya terlihat, dan benang darah berwarna rah tua netes ke sikunya, mbentuk genangan air di lantai.

Leah perlahan ndekati Ishakan yang rasa terkejut dengan tindakannya sendiri. Sepanjang interaksi reka, Ishakan selalu njadi orang pertama yang ndekat. Pikirannya teringat saat dia pergi njemputnya untuk makan siang. Senyuman jahatnya yang nawan dan mata emasnya yang magnetis tertanam dalam benaknya.

Bersandar pada jeruji besi, Ishakan natap Leah, ingin dia berhenti. Dia ncoba nahan diri, tapi itu tidak cukup untuk nyembunyikan hasrat tak tergoyahkan yang mbara di matanya.

"Jangan datang, Leah," gerutunya, suaranya tertahan. "Apakah kamu nyadari apa yang kamu lakukan?"

"Aku tahu," bisiknya, wajahnya rah. "Terakhir kali... Itu karena kamu mbantuku terakhir kali." skipun dia tidak tahu seperti apa rasanya seorang Kurkan yang sedang kepanasan, Leah dapat dengan jelas ngingat apa yang dia rasakan ketika dia minum minuman palsu itu. Rasa sakit yang luar biasa nyulut tubuhnya, mbuatnya demam, gatal, dan putus asa untuk mbebaskan diri. Ishakan mungkin juga ngalami rasa sakit yang sama. "Jadi, kali ini, aku akan mbantumu."

"Dengan tubuhmu?"

'Haruskah kamu ngatakan sesuatu yang begitu jelas dengan suara keras?' Leah rasa sedikit malu, tapi ngangguk ragu.

"Kamu baik hati, Lea." Mata Ishakan nyipit saat dia tersenyum, berusaha nyembunyikan ketidaknyamanannya. "Tapi bukankah kamu punya alasan lain?"

"..."

Lea tidak njawab. Faktanya, dia sudah siap. Dia tergoda olehnya, oleh pria di depannya. Alasannya mungkin nentang keterlibatan dengan Ishakan, tapi tubuhnya ngingat kesenangan yang bisa diberikannya padanya. Dia nariknya, jadi dia ingin mbalasnya. –

Leah rasakan panas di lehernya. Dia nikmati sensasi kulitnya di kulitnya, keintiman hangat dari sentuhannya. Dia nyukai cara reka terikat njadi satu, dia nyukai bagaimana pria itu dapat mbebaskan pikirannya dan nghilangkan kekhawatiran atau pikiran apa pun. Hanya saat itulah dia bisa lupakan beban dan situasi rumit yang nyelimuti kehidupan sehari-harinya, ski hanya sentara.

'Sekali lagi, sekali lagi. Ini yang terakhir.'

Dengan alasan yang tidak sempurna yang ndorongnya, Leah ndekati Ishakan. Mata Ishakan bersinar nyeramkan saat dia mperhatikannya. Leah berhenti di depan Ishakan sebelum lihat ke atas. Dengan ekspresi paling tegas dan suara paling tegas yang bisa dia keluarkan, dia berkata sambil ndekat.

"Kita harus nangani ini dulu," katanya. Kemudian, dia natap langsung ke mata Ishakan dan dengan berani, ski dengan lembut, gang lengannya di tangan kecilnya.

Ishakan narik lengannya. "Tidak apa-apa," dia bersikeras.

Kebohongan itu begitu jelas sehingga bahkan anak paling naif di dunia pun tidak akan mpercayainya. Leah ngabaikannya dan dengan lembut nyuruhnya duduk di lantai. Lalu dia duduk di seberangnya.

Karena bagian dalam gaunnya terbuat dari kain lembut, akan mudah untuk mbalut lukanya. Namun, Leah berjuang untuk beberapa saat, ncoba robek sebagian besar namun tidak berhasil.

Ishakan nertawakan usahanya yang lemah sebelum lakukan intervensi, nghentikan tangannya yang canggung. Dan kemudian, dia robek sebagian.

"..."

Potongan panjang dengan cepat dirobek oleh Ishakan, mbuat Leah tersipu. nyadari perbedaan kekuatan reka, Leah diliputi rasa malu. Dia telah ncoba untuk robek sepotong, sentara Ishakan berhasil lakukannya secara instan.

Leah ngambil kain robek itu dan mbungkusnya dengan hati-hati, namun erat di lengan Ishakan. Pendarahannya berhenti, tapi kemudian, Ishakan lingkarkan lengannya yang tebal di pinggangnya.

"Kemarilah," gumamnya.

Ishakan nyuruh Leah duduk sambil dia masih terkejut. Punggung tangannya mbelai lehernya, narik napas dalam-dalam.

"Ada aroma manis...mancar darimu..."

Ishakan pasti ncium wangi anggur yang disajikan oleh budak Kurkan sejak lama. Leah ngangkat bahunya sedikit, rasa sedikit geli. Namun, Ishakan segera mpererat cengkeramannya pada wanita itu.

ndekatkannya sekali lagi, dia ngusap wajahnya ke lehernya. Ishakan nghela nafas dalam-dalam, nafas hangatnya nyentuh kulitnya.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 80: Permohonan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Mr. CEO Has a Crush on Me cover
Similar genre

Mr. CEO Has a Crush on Me

Mu Anan ·Romance

Shewasframedbyhersisterandaccidentallyhadaone-nightstandwithhim.Later,hefoundvariousunreasonableexcusestoforcehertolivewithhim.Toseekrevenge,sherel...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.