Font Size
15px

Rencana awal Leah adalah nyelamatkan para budak yang ditangkap secara diam-diam. Bebaskan reka semua, termasuk orang Kurkan, lalu kabur sebelum pelelangan dimulai. Namun, rencananya nyimpang saat Ishakan terlibat. Tiba-tiba, dia harus nerima semua perubahan yang disebabkan oleh kehadirannya.

Dia ramalkan pertumpahan darah...

ngikuti gadis Kurkan, Ishakan dan Leah masuki ruang bawah tanah, nghindari deteksi karyawan mansion.

"Berapa banyak orang yang akan kau bunuh?" Leah bertanya sambil berbisik pada Ishakan.

"Semua pedagang budak. Sedangkan untuk pelanggannya... Yah, yang beruntung akan selamat, kurasa."

Ishakan yang sedang berjalan tanpa suara sambil nggendong Leah, berhenti sejenak dan tiba-tiba noleh ke belakang. Teriakan jauh terdengar dari rumah lelang.

"Kita harus bergerak cepat," katanya.

Budak Kurkan terakhir sepertinya dikurung di suatu tempat di bagian terdalam rumah labirin. Rute reka mulai berubah perlahan seiring kemajuan reka, dari tembok yang sudah jadi njadi tembok batu yang basah. Tangga kayu busuk berderit di setiap langkah.

Penerangannya tidak cukup, jadi reka tidak bisa lihat ke depan, tapi Ishakan dengan terampil mandu jalan.

"Aku tidak percaya dia dikurung di tempat seperti ini," bisik Leah dalam pelukan Ishakan.

Itu tampak seperti penjara kereta bawah tanah. Seperti kandang kuda, hanya saja lebih luas. Dia pikir reka setidaknya miliki kesopanan untuk nyimpannya di tempat yang lebih bersih jika reka ingin njualnya.

"Saya kira reka tidak akan mberinya seteguk air sedikit pun sampai dia pingsan," kata Ishakan singkat, tanpa tergesa-gesa." Hanya ketika seorang Kurkan tidak tahan lagi dan berada di ambang kelaparan, barulah reka akan nawarinya sepotong roti. Tindakan diberi makan adalah sarana untuk numbuhkan ketaatan."

( TL . Kelaparan: penderitaan atau kematian yang disebabkan oleh kelaparan.)

Dia berbicara secara alami, dan nadanya yang ringan hanya semakin nekankan sifat tidak manusiawi dari perlakuan terhadap budak.

"Alasan saya sampai sejauh ini hari ini adalah karena saya yakin ada pelanggan yang nginginkan budak yang galak," dia ngakhiri pidatonya dengan kata-kata tersebut.

"Kamu... berbicara seolah-olah kamu sendiri yang pernah ke sana."

Ishakan tertawa singkat. Bukannya njawab, dia malah lanjutkan. Berbeda dengan jalan yang reka lalui sejauh ini, reka berada di area yang lebih terang. Itu miliki jendela kecil di bagian atas atap yang gelap.

Dengan sinar bulan yang nyinari dan obor yang digantung, sekeliling reka perlahan nyala saat reka masuk lebih jauh. Di tengah ruang bundar ada sel besi.

Di dalamnya ada seorang anak laki-laki Kurkan kecil. Dia dirantai dengan kuat, dan sebuah bola baja besar diikatkan padanya. Dia sepertinya tidak sadarkan diri, tapi begitu dia rasakan kehadiran lain di ruangan itu, dia bergerak. Dia berdiri, dengan postur yang ngancam dan garang. ski matanya terlihat lelah, Leah masih bisa rasakan kebencian yang terpancar dari tatapannya. Anak laki-laki itu tampak tidak berbeda dengan binatang buas.

"..."

Ishakan nurunkan Leah dari pelukannya dan mandang anak laki-laki itu dalam diam sejenak. Cahaya bulan yang nyinari wajah Ishakan mbuat matanya tampak lebih dingin dari biasanya.

Bibirnya yang tertutup bergerak perlahan. "Kamu..." Mata emas Ishakan mikat Leah. Ishakan mancarkan energi aneh, dan dia rasa bisa terus natap iris emasnya selamanya. Sejak dia lepas topengnya, matanya njadi lebih jernih. Dia rasa seolah dia bisa rasakan semua emosi di dalam dirinya.

"Apakah kamu ingat semua orang Kurkan yang kamu selamatkan?" dia bertanya pelan.

Itu adalah pertanyaan yang aneh. Ishakan mandang Leah seolah dia ingin dia mberikan jawaban yang dia inginkan. Namun, dia tidak tahu apa yang diinginkan Ishakan, jadi dia hanya bisa jujur.

Beberapa kenangan sudah terlalu lama. Ada juga terlalu banyak situasi ndesak, di mana dia tidak bisa lihat dengan baik wajah orang-orang Kurkan yang dia lepaskan. ngatakan bahwa dia ngingat semuanya adalah sebuah penipuan. Saat dia perlahan nggelengkan kepalanya, kepahitan terpancar lemah di mata Ishakan.

"Saya ngerti."

Ishakan tidak berkata apa-apa lagi. Kemudian, dia ngambil kunci dan berdiri di depan sel, mbuka tiga kunci atau lebih secara berurutan. Saat kunci besi berbunyi, Leah bertanya-tanya.

'Haruskah aku nganggukkan kepalaku skipun aku berbohong?'

Senyum pahitnya ngganggunya. Dia ndekatinya dengan keraguan. Ishakan lempar kunci terakhir ke lantai dan natap Leah. Saat dia mbuka bibir untuk berbicara dengannya, pintu besi terbuka.

Anak laki-laki itu berlari cepat ke arah Leah dan lompat tengkurap. Dia terjatuh, kaget dengan serangan ndadak itu. Anak laki-laki itu natapnya dengan tajam, kegilaan terlihat jelas di wajahnya. Saat anak laki-laki itu bergerak untuk robek leher Leah, Ishakan ngintervensi dengan lengan bawahnya, nghalangi gigitan anak laki-laki itu.

Darah ngalir dari Ishakan ketika suara gigitannya terdengar sangat aneh di lokasi tersebut. Ishakan mbuang anak itu. Dia terbang seperti bola karet, nabrak dinding dan kemudian luncur tak bergerak ke tanah. Gerincing rantainya nghilang.

Sebuah suara getar berbicara dengan keras.

"Ishakan..."

Darah netes dari lengannya dan tumpah ke lantai. Leah lihat lukanya, hanya nemukan bekas gigi di sekitarnya. Hatinya hancur.

"Kita harus nghentikan pendarahannya," desaknya. "Aku bisa nghentikan pendarahannya dengan pakaianku..."

"Tidak, Lea."

Ishakan mundur beberapa ter, ncegah Leah nyentuhnya. Dia ngerutkan kening, khawatir dan frustrasi. "Kamu harus njauh dariku. Tahukah kamu, ada bulan purnama malam ini."

Saat dia berbicara, cahaya bulan nyinari reka. Dalam cahaya dingin yang nyeramkan, reka berdua saling mandang. Leah tanpa berpikir panjang ngangkat tangan ke mulutnya.

"Itu akan sulit...terutama ketika saya lihat darah."

Bagian depan celana Ishakan mulai mbengkak.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 79: Darah 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.