Font Size
15px

Leah tersentak, njerit kecil karena terkejut. Tapi dia segera nenangkan diri dan buru-buru nyeka darah yang netes ke lengannya. "Diam. Perban sulit untuk diikat," katanya.

Namun, Ishakan sepertinya tidak mpedulikan lukanya. Sentara Leah berjuang untuk mbungkus lengannya, dia sibuk ncakar-cakar tubuhnya. Tangannya raba-raba seluruh tubuhnya. Lalu, dengan gerakan tangannya, dia lepas wig Leah dan lemparkannya ke samping. Setiap kali Ishakan bergerak, Leah bisa rasakan paha Ishakan bergerak di bawah pantatnya, mbuatnya tidak stabil.

"Jika kamu terus bergerak, aku tidak akan bisa lakukan ini dengan benar...!"

Alih-alih mahami kekhawatiran Leah, Ishakan ngabaikan keluhannya, rasa puas dengan tindakannya sendiri. "Terkadang, sakit tidak apa-apa."

Leah nyerah dan ngikat perbannya dengan kasar. rawat luka Ishakan dengan hati-hati saat dia masih nggeliat tidak ada gunanya, lebih baik segera selesaikan perawatannya.

Karena ketebalan lengannya, dia nggunakan lebih banyak kain daripada yang diharapkannya. Saat dia ngikat simpul terakhir, otot-ototnya berkontraksi. Dia mandangnya, bertanya, "Apakah tidak sakit?"

Dia njawab tanpa berpikir. "Itu nyakitkan."

"Apakah ini terlalu ketat? Apakah kamu ingin aku longgarkan perbannya sedikit?" tanya Leah, khawatir dia terlalu ceroboh.

"Tidak, bukan itu," kata Ishakan, suaranya terdengar serak. Dan ketika dia ngangkat pinggulnya, sesuatu yang besar, hangat dan kokoh nabraknya dari bawah. Dia bisa rasakan garis besar kejantanannya dan mbeku. "Di sini," bisiknya.

Leah masih seperti patung. Tangannya, yang sebelumnya bergerak dengan canggung di lengan Ishakan, berhenti nyentuhnya. reka tetap berada di udara dengan getar, saat Ishakan njilat telinga Leah dan berbisik, "Bisakah kamu ngobati ini juga?"

"...Diam sebelum aku ngikatnya dengan perban juga."

Wajah Leah rah saat dia selesai rapikan simpul penutup matanya, ngabaikan tawa Ishakan. Namun sebelum dia rasa puas dengan pencapaiannya, Ishakan dengan cekatan mbelai pipi Leah.

"Tolong sentuh aku, Leah," pintanya.

Leah tiba-tiba nyesal nawarkan bantuannya. Dia ingin ngambil semuanya kembali, tetapi pada saat yang sama, dia tidak lakukannya. Saat Leah berjuang dengan konflik batinnya, ereksi Ishakan nekan tubuhnya sekali lagi, dan panas yang hebat dari ereksi tersebut mbuatnya kehilangan kewarasannya.

Dia turun dari pangkuannya dan berlutut di lantai di depan Ishakan, di antara kedua kakinya. Leah bernapas dengan tekad. Dia ngulurkan tangannya yang getar ke depan dan perlahan mbuka bagian atas celananya. Dia ncoba ngingatkan dirinya sendiri bahwa dia lakukan ini hanya untuk mbantu Ishakan, yang nderita luka di lengan untuk nyelamatkannya, tapi dia cemas, bingung dengan tindakannya yang berani.

Saat dia hendak nurunkan celana dalamnya, penghalang terakhir antara dia dan kulit ntahnya, dia ragu-ragu untuk waktu yang cukup lama. Dia bisa lihat bentuk silinder yang jelas dari wujudnya, dan itu mbuatnya takut.

Namun, skipun dia mprotes secara internal, tangannya bergerak seolah-olah mpunyai pikirannya sendiri, narik-narik kain tipis celana dalam Ishakan. Keluarlah kejantanannya yang tebal dan berdenyut-denyut.

skipun dia pernah ngalaminya di dalam dirinya beberapa kali sebelumnya, ini adalah pertama kalinya dia nyentuhnya begitu saja. Mata Leah lebar saat kejantanannya semakin mbengkak. Sekarang setelah dia sadar, bentuk dan warna kejantanannya akan tetap terpatri di otaknya dengan sangat jelas.

Sudah netes di ujungnya, ereksi Ishakan tampak berdenyut dan semakin besar semakin dia mandangnya. Dia lihatnya manjang hingga ncapai perutnya.

'Bahkan dalam keadaan seperti ini, aku harus lakukan sesuatu...'

Dia bertanya-tanya bagaimana dia bisa mbantunya kembali normal. Kemudian, dia mikirkan kepribadian Ishakan, seorang pria tanpa hati nurani, dan ingin masukkannya ke dalam dirinya.

"Kamu terlihat seperti akan makannya."

"..."

Leah nghindari lihat kejantanannya sebelum dengan hati-hati ngulurkan tangan untuk nyentuhnya dengan ujung jarinya. Itu hangat. skipun dia tidak tahu harus berbuat apa, dia gangnya dengan tangan kecilnya. Ukurannya luar biasa besar, dan sulit dipegang dengan satu tangan, jadi dia ngambilnya dengan kedua tangan, tidak yakin bagaimana cara lanjutkannya. Selain rasa ingin tahunya, dia tidak tahu apa-apa, jadi dia minta bimbingan Ishakan.

Dia natapnya, ngamati setiap gerakan dan ekspresinya.

"Coba gerakkan tanganmu," katanya. "Tanpa terlalu ndadak..."

Atas permintaannya, jari-jarinya yang panjang nyentuh bagian depannya.

Leah rasakan panas njalar ke pipinya, nghangatkan tubuhnya. Dia nundukkan kepalanya untuk nyembunyikan rona rahnya dan nutup matanya agar tidak lihat tangan pria itu pada kejantanannya. Tapi dia tidak bisa nghalangi suara belaiannya, atau suara serak Ishakan, yang dipenuhi kenikmatan.

"Oh, haaa..."

Suara-suara berat dan pelan mbujuk telinganya. Seolah berusaha ngendalikan diri, Ishakan raih pinggang Leah, nampar pantatnya beberapa kali, mbisikkan namanya seperti mantra.

"Lea..."

Setiap kali dia nyebut namanya, Leah rasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Sensasi kesemutan ncengkeramnya, ngacaukan isi perutnya. Gigi tajamnya nggigit leher Leah dengan ringan, nggores permukaan halus kulitnya sebelum lepaskannya. Tindakan pria itu mbangkitkan hasrat aneh dalam dirinya.

Ishakan perlahan ngangkat kepalanya dan Leah dengan lembut mbuka matanya. Saat tatapan reka bertemu, dia tidak bisa nahan diri. Dia bergegas maju, ncium bibirnya.

Ishakan nempelkan mulut Leah ke mulutnya, dan nggigitnya. Bahkan ketika dia ndengus dan rasa sesak, dia tidak mbiarkannya pergi. Air liur netes dari sudut bibir Leah saat dia dengan rakus lahap mulutnya.

Tubuhnya bergetar. Secara tidak sengaja, dia nggosok ujung penisnya dan nggerakkan jari-jarinya di sepanjang ujung itu. Sepertinya ada sesuatu yang keluar dari Ishakan karena dia tegang, dan tangan Leah berdenyut-denyut. Ishakan berhenti nciumnya dan nangis dengan keras.

"Ih, Lea..."

Semburan panas s3m3n lengket nyembur dari ujungnya, rcik ke wajah Leah.

"Ah..." Leah tertegun, tak mampu berkata-kata karena zat panas yang kini nutupi kulitnya. Sensasi panas dan basah mbuatnya tak mampu bergerak. Dia berbaring diam, dan hanya bisa berkedip seperti burung hantu.

Ishakan natap Leah seolah-olah sedang terpesona. Kemudian wajahnya berkerut dan matanya bersinar terang.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 81: Permohonan 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Lucky Farmgirl cover
Similar genre

The Lucky Farmgirl

Bamboo Rain ·Romance

TheFourthBrotherhadsquanderedhiswealththroughgambling,leavingtheirmotherinacriticalstate.Tomakemattersworse,thecreditorsevenaskedthemtosellManbaoto...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.