Ishakan luk Leah erat-erat, satu tangan lingkari punggungnya dan tangan lainnya narik pinggulnya ke arah Ishakan.
"Aku akan mbunuhnya nanti," bisiknya penuh kasih sayang di telinganya. "Tidak perlu lakukannya di depanmu."
Mata Blain lotot saat Ishakan sengaja ngabaikannya, seolah-olah dia serangga yang tidak layak ndapat perhatiannya.
"Kau pikir aku akan ninggalkanmu sendiri?" teriaknya dengan marah, dan kepala Ishakan noleh ke arahnya.
“Kau tampak begitu ingin mati. Tidak perlu,” jelasnya. “Aku sudah mikirkan hukuman yang lebih baik untukmu.”
Dia berhenti sejenak untuk mbiarkan makna kata-katanya resap.
“Tunggu sampai saat terakhir tiba.”
***
Cerdina segera nuju istana Leah. Ia ingin ncabut rambut perempuan jalang terkutuk itu. Perempuan jalang itu perlu dididik, dan Cerdina tidak peduli jika ia akan hancur karena terlalu banyak nggunakan kekuatannya.
Dia akan nunjukkan padanya apa artinya patuh. Ketika dia sudah selesai dengannya, Leah tidak akan pernah berani bersikap sombong lagi.
Cerdina masih tidak percaya bahwa Leah benar-benar berani nentangnya.
ngingat mon ketika Leah mberinya botol kaca itu, Cerdina langkah lebih cepat. Namun, sebelum ninggalkan istananya sendiri, ia terhuyung-huyung dan berhenti di tengah koridor. Ia harus nahan teriakannya.
"......!"
Terjatuh ke lantai, dia luk dirinya sendiri dengan lengan yang getar, muntah-muntah saat nggaruk dadanya dengan kuku-kukunya sendiri. Dia tersedak lagi dan lagi, tercekik, tercekik, dan akhirnya muntahkan darah hitam ke lantai marr putih.
Dengan perlahan, dia nyeka darah itu dengan punggung tangannya.
“Tidak mungkin...” gumamnya dengan pusing.
Sebagian mantranya baru saja hancur. Leah telah kehilangan cintanya pada Blain.
ngapa itu rusak? Bagaimana dia lakukannya?
Mantra yang nanamkan perasaan sangatlah rumit. Cerdina harus ngubah ingatan Leah agar ia ncintai Blain, nggantikan orang biadab gurun itu dengan putranya. Setiap kali Leah natap Blain, ia rasakan perasaan yang sama seperti yang ia miliki terhadap Ishakan.
Namun Leah mulai bangkit. Ia hanya lepaskan emosinya untuk saat ini, tetapi kemungkinan besar kenangan yang lekat erat padanya akan segera nyusul. Cerdina belum mampu mberikan perhatian yang dibutuhkan mantra itu akhir-akhir ini, karena ia ngalami kesulitan ngendalikan kekuatannya.
Itu masih mantra yang berbahaya. Itu tidak akan mudah dipatahkan. Saat ini, tidak ada penyihir yang bisa lampaui Cerdina. Mungkin sebelumnya, beberapa penyihir barbar mungkin telah nantangnya, tetapi dia tahu tidak ada seorang pun yang hidup yang seharusnya dapat nyainginya. Tapi kemudian...
Bagaimana mantra itu bisa dipatahkan?
Itu tidak mungkin. Bingung, Cerdina terus berjalan nuju istana sang putri, tetapi kemarahan yang telah nguasainya telah sirna. Dan dalam perjalanan, dia bertemu dengan orang lain.
“Blain...” bisiknya. Leah berdiri sendirian di taman di luar istana Leah, dan hatinya berdebar lihat putranya dalam keadaan yang nyedihkan. “reka...lakukan ini padamu?”
Dia tampaknya tidak ndengarnya, lalu dia ncengkeram bahunya dan ngguncangnya.
“Blain, ceritakan padaku apa yang terjadi?” jeritnya. “Ceritakan padaku!”
Blain tidak berkata apa-apa. Ia bahkan tidak lihat ke arahnya saat ia njabat tangannya, lalu akhirnya ia nepis tangan wanita itu dengan nyakitkan. Punggung tangannya rah.
Dia tidak peduli. Semua perhatiannya terpusat padanya, tanpa peduli pada dirinya sendiri.
“Blain...” pintanya putus asa. “Tolong, beri tahu ibumu...”
"Aku tidak akan nunggu sampai hari pernikahan," katanya, sambil perlahan ngalihkan pandangannya ke arahnya. Ia bisa lihat dirinya terpantul di matanya, dalam keserakahan yang tak berujung.
Blain mbencinya. Selama ini, dia ngira dirinya berbeda dari Cerdina, lebih baik dari ibunya, tetapi hubungan kekerabatan reka tidak dapat disangkal. Bagaimanapun, dia sama seperti Cerdina.
“Aku tidak peduli lagi dengan hatinya. Tubuhnya sudah cukup,” katanya, dan mberi perintah. “Jadikan dia bonekaku. Sekarang juga.”
Reviews
All reviews (0)