Font Size
15px

Jantungnya berdebar kencang, tetapi kali ini bukan karena perasaan yang dipaksakan. Ketika Ishakan ngulurkan tangannya padanya, dia mbeku. Seluruh tubuhnya lumpuh karena apa yang baru saja terjadi, dan dia natap tangan Ishakan dengan tatapan kosong, tidak mampu nerimanya. Terlalu gugup untuk ngulurkan tangan.

"Cepat," kata Ishakan, perintah yang sangat lembut, dan saat dia nurut, dia nariknya erat-erat ke arahnya, lengannya lingkari pinggangnya erat-erat. "Cepat, cepat."

Bibirnya bergetar. Lelaki ini begitu tidak sabar, ia tidak sabar nunggu saat berikutnya untuk ndengar hal yang telah lama ia nanti-nantikan.

“...Aku ncintaimu,” katanya, dan lihat kegembiraan nuhi mata emasnya, kegembiraan yang nyilaukan seperti matahari. Tangannya terangkat untuk nyentuh wajahnya, bertanya-tanya. “Apakah aku pernah ngatakan itu padamu?”

Pastilah dia sudah nceritakannya. Dia pasti sudah nceritakannya berkali-kali sehari dalam ingatannya yang telah hilang, begitu seringnya sampai dia kelelahan ndengarnya.

"Tidak," katanya tiba-tiba. Ia nggigit bibirnya. "Itu pertama kalinya."

"Benar-benar?"

“Ya. Kamu tidak pernah ngatakannya sebelumnya.”

Mulutnya bergerak lebih dekat ke bibirnya dan Leah mbuka bibirnya untuk mbiarkan lidahnya bergerak di antara keduanya, rasa seolah-olah seluruh tubuhnya terbakar oleh panas itu. Berpegangan padanya, dia lupakan segalanya kecuali Ishakan.

“Ucapkan lagi...” bisiknya sambil nciumnya dengan penuh gairah. “Sekali lagi, katakan lagi.”

Dia ngatakannya lagi. Dia akan ngatakan apa pun yang diinginkannya, tetapi nafsunya untuk hal ini tidak ada habisnya. Aku ncintaimu , bisiknya, dan semakin dia berbisik, semakin dia nyuruhnya untuk ngatakannya lagi, dan lagi.

Setiap kali bibir reka berpisah, aku ncintaimu. Setiap ciuman, aku ncintaimu. Ciuman yang tak terhitung jumlahnya dan tak terhitung kali dia ngucapkan kata-kata, aku ncintaimu, aku ncintaimu, aku ncintaimu.

Mon ini begitu manis, pasti hanya ilusi. Tidak mungkin ini nyata. Leah rasa seperti sedang hanyut dalam mimpi, sampai teriakan nyadarkannya dari mimpi itu.

"Lea!"

Di dekatnya, Blain terhuyung berdiri, dan berteriak lagi.

“Lea! Lea!!! ”

Suaranya terdengar nakutkan dan tak terkendali saat ia neriakkan namanya, dan baru berhenti saat akhirnya ia noleh untuk lihatnya. Kepala Ishakan noleh untuk lihatnya hanya saat ia lakukannya.

Selama beberapa saat, kedua pria itu saling natap, tatapan reka terkunci dan tegang karena ketegangan. Dalam kegilaan dan cederanya, Blain lupa untuk rasa takut, dan dia tidak tampak akan nyerah.

Sambil ndorong Leah di belakangnya, Ishakan langkah ke arah Blain, yang matanya bersinar liar saat jarak di antara reka nyempit.

“Apakah aku tidak diizinkan di sini?” Ishakan tersenyum pada pria itu. “Bukankah kau ngundangku sebagai tamumu?”

Blain-lah yang ngundang orang-orang Kurkan ke pesta pernikahan. Ia senang mprovokasi reka. Dan ke sinilah kesombongan telah mbawanya, ke akhir yang nyedihkan ini. Bahkan mantra yang reka pikir begitu sempurna pun hancur berantakan.

Namun Blain tidak mau ngakui kekalahan ski kekalahan itu sudah di depan matanya.

“Kau bertingkah seolah-olah kau telah ncintainya selama seribu tahun padahal kau baru saja bertemu dengannya, dasar bajingan njijikkan!” teriaknya. Matanya rah padam. “Kau sama saja seperti bajingan itu, Byun Gyeongbaek! Kau hanya ingin niduri Putri Estia!”

Ishakan tampak ndengarkan dengan penuh minat.

"Jadi, apa bedanya antara kamu dan aku?" tanyanya.

“Saya sudah bersamanya sepanjang hidup kami,” jawab Blain segera.

Ishakan tertawa keras dan panjang. Lalu dia berhenti. Humornya hilang dan wajahnya ngeras, dan udara di sekitarnya berderak dengan energi dingin dan matikan.

Leah tahu ekspresi itu. Dia sudah nunjukkannya saat berjalan lewati gang gelap yang dipenuhi mayat. Jika dia mau, dia bisa matahkan leher Blain dalam sekejap.

Namun sebaliknya, dia ngalihkan tatapan keemasannya ke Leah, dan Blain ngerutkan kening saat dia ngikuti pandangan Ishakan ke perutnya.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 263: Konfrontasi 3 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.