Sambil nggendong Leah, Ishakan berjalan ke tempat orang-orang Kurkan lainnya nunggu. Tidak ada keraguan saat reka ninggalkan istana. Bahkan tidak perlu berbicara. Berbaring tenang di pelukannya, Leah nyandarkan kepalanya di dada Ishakan dan ndengarkan detak jantungnya yang kuat.
Dia baru tersadar ketika Ishakan akhirnya berhenti di depan sebuah penginapan tua di dekat pusat kota yang terasa asing. Banyak orang Kurkan nunggu di sana, dan skipun Ishakan telah nutupi pakaiannya yang robek dengan jubah, dia otomatis nyusut di hadapan puluhan mata.
Atas lambaian tangan Ishakan, seluruh orang Kurkan yang nunggu nundukkan kepala.
reka tentu tidak bermaksud jahat; reka hanya ingin tahu. Namun, tidak seorang pun dari reka ngucapkan sepatah kata pun atau ngangkat mata saat Ishakan lewati reka dan naiki tangga.
Ketika dia berjalan ke kamar di ujung koridor, ruangan itu juga terasa aneh dan familier, dan begitu dia nurunkannya, dia mbantunya berganti pakaian. Gaun tidur bergaya Kurkan yang nyaman itu longgar nutupi perutnya yang sedikit mbulat.
“Ingatanku masih belum pulih,” ungkapnya.
"Aku tahu."
Dia gang tangannya dan mbelainya.
"Tapi kau lakukan sesuatu yang semua orang pikir mustahil," bisiknya, dan ngangkat tangan wanita itu ke bibirnya. "Aku bangga padamu."
“......”
Leah nundukkan kepalanya, secara otomatis. Ia tidak terbiasa ndengar pujian, dan ujung telinganya rah di antara rambut peraknya.
Dan Ishakan hanya mbelainya lebih erat, sambil tersenyum ketika jari-jarinya bergerak di atas tulang-tulang ramping pergelangan tangannya.
Bahkan tanpa ndapatkan kembali ingatannya, dia rasa bebas.
ninggalkan Blain, dia sama sekali tidak rasakan apa pun. Hatinya sedingin salju. Dia bahkan sampai mbencinya. Dia belum sepenuhnya terbebas dari kutukan itu, tetapi ngetahui bahwa perasaannya kembali njadi miliknya mbuatnya gembira.
Leah teringat pintu besi yang dilihatnya dalam mimpinya. Berkat bantuan si bayi serigala, ia berhasil mutus rantai yang lilit pintu itu. Sekarang ia hanya perlu mbuka kuncinya. Tampaknya mustahil. Bagaimana ia bisa mbuka kunci yang tidak miliki kunci? Namun, pikiran itu tidak mbuatnya takut lagi.
Dia akan lakukannya. Dia akan ngambil kembali ingatannya.
***
Malam itu, Leah nginap di penginapan. Ia bahkan tidak yakin kapan ia tertidur; tampaknya begitu ketegangan akibat konfrontasinya dengan Blain akhirnya reda, ia langsung tak sadarkan diri. Leah terbangun keesokan paginya saat matahari terbit.
Dan Ishakan adalah hal pertama yang dilihatnya.
Sungguh malukan namun muaskan lihatnya saat dia mbuka mata, dan reka mandi bersama, lalu sarapan.
reka mbicarakan hal-hal yang tidak bisa reka lakukan kemarin. Sebagian mantranya telah rusak, tetapi masih banyak masalah yang tersisa untuk diselesaikan dengan mudah. Ishakan bahkan nolak untuk lepaskan tangannya.
“Aku tidak akan ninggalkanmu sendirian,” katanya, dan Leah teringat pada orang-orang di istana, yang bergerak ke sana kemari seperti boneka yang diikat dengan tali.
Entah bagaimana, dia punya firasat bahwa dia akan njadi salah satu dari reka.
Blain akan lakukannya untuk ndapatkan Leah. Dengan amarahnya yang tak terkendali, dia akan lakukan apa saja, dan sekarang setelah Leah ngatakan bahwa dia tidak ncintainya, dia tidak akan ragu. Leah terdiam cukup lama.
“Apa isi ramuan yang diberikan wanita tua Toma kepadaku?” tanyanya akhirnya.
“Ramuan sederhana,” jawab Ishakan. “Ramuan ini digunakan untuk ngubah warna rambut. Morga juga bisa mbuatnya.”
Yah, Leah tidak nyangka wanita tua itu punya kekuatan besar. Kalau mang punya, dia mungkin tidak akan minta bantuan Leah sejak awal. Tapi mungkin ramuan itu adalah petunjuk untuk sesuatu yang lain.
Begitu mikirkan hal itu, pikiran Leah mulai bekerja panik.
Tujuannya adalah untuk matahkan kutukan pada orang-orang di istana dengan maksa reka nyadari ada sesuatu yang salah. Dan ngapa wanita Toma mberinya ramuan yang ngubah warna rambut? Bahkan saat dia berspekulasi, Ishakan ngatakannya dengan lantang.
"Kurasa aku tahu apa gunanya ini," katanya, dan ngulurkan tangan untuk narik seikat rambut Leah, sambil natap rambut perak berkilau yang lingkar di telapak tangannya. "Blain. Kedengarannya lebih seperti nama pria berambut pirang."
Saat dia ngatakannya, Leah ngerti apa yang dia usulkan. Seolah-olah seseorang telah mukulnya dengan keras di belakang kepalanya.
Leah nutup mulutnya dengan tangannya.
Banyak hal yang terlintas di benaknya, tetapi yang paling berkesan adalah sosok Blain. Seorang pria yang sama sekali tidak mirip Leah, atau ndiang Raja yang seharusnya njadi ayahnya.
Dia hanya tampak seperti Cerdina...
Reviews
All reviews (0)