Sekali lagi, Leah berdiri di padang pasir yang luas.
Hamparan pasir keemasan begitu familiar, dan terik matahari begitu nyengat, tetapi dia tidak rasa kepanasan. Itu karena dia sedang bermimpi.
Leah berjalan, ninggalkan jejak kaki di pasir halus. Beberapa saat berlalu sebelum dia berhenti. Ada sesuatu yang gelap numpuk di cakrawala.
Itu adalah rantainya.
Secara otomatis, tubuhnya negang. Namun, di atas rantai itu duduklah sebuah sosok kecil berwarna perak, dan dia bergegas nghampirinya. Sosok itu adalah bayi serigala, yang duduk di atas rantai, dan Leah nghela napas lega saat lihat anak serigala itu tidak terluka. Anak serigala itu bahkan ngibaskan ekornya saat dia ndekat, ngangkat dagunya yang kecil dengan bangga saat dia mukul rantai dengan kaki depannya.
"Apakah kamu lakukan semua ini?" tanyanya.
Ia nganggukkan kepalanya, bersemangat untuk markan trofinya, seolah-olah ia ingin mbanggakan betapa sulitnya perburuan itu dan bagaimana ia berhasil mbunuhnya. Hatinya mbuncah, lihat bayi serigala yang nggemaskan itu.
Dia ingin luknya. Namun, dia tidak bisa begitu saja nggendongnya; bagaimana jika anak singa itu tidak nyukainya? Dengan lembut, dia ngulurkan tangannya, dan anak singa kecil itu berdiri dengan kaki belakangnya dan ngulurkan kaki depannya, seolah-olah minta untuk digendong.
Kemudian Leah nggendong serigala kecil itu di tangannya. mbelai bulunya yang berwarna perak, yang warnanya sama dengan rambutnya. Rambut perak itu tidak biasa; itu praktis rupakan simbol legitimasi keluarga kerajaan Estia. Dan bukan hanya itu pertama kalinya dia lihat serigala dengan bulu perak seperti ini, dia juga miliki mata emas.
Sambil mbelai bulu lembutnya, dia natap matanya, dan saat reka saling mandang, rahang serigala kecil itu terbuka dan mata emasnya nghangat, persis seperti mata Ishakan.
Si bayi serigala telah berjuang sendirian di tempat ini sekian lama, namun tidak ada tanda-tanda kebencian dalam senyum anjingnya, hanya kasih sayang.
“Mama!” kata serigala kecil itu.
Leah terdiam. mbeku saat anak serigala itu miringkan kepalanya ke satu sisi, dengan polosnya heran karena Leah tidak nanggapi. Dia ingat apa yang dikatakan Ishakan, dia ngatakan bahwa Leah hamil, dan Leah terkejut, tetapi dia tidak rasakan apa pun. Seolah-olah itu adalah berita tentang orang lain, hal seperti itu tidak akan berpengaruh padanya.
Tapi ndengar anak serigala manggil ibunya...
Itu tertanam di hatinya.
Dia selalu ingin lindungi bayi ini, tanpa tahu alasannya. Dia begitu peduli, dia minta Ishakan untuk mbantunya wujudkan mimpinya. ngapa dia berusaha begitu keras?
Dia gang jawaban atas pertanyaan itu di tangannya, kebenaran akhirnya terungkap.
“Sayang...” bisiknya.
Angin bertiup kencang, pasir berhamburan ke atas, badai pasir yang mbuatnya jamkan mata rapat-rapat. Ketika ia mbuka mata lagi, semuanya gelap, dan pintu besi berdiri di hadapannya. Pintu besi yang dililit rantai, terkunci dengan gembok yang tidak miliki kunci.
Leah natapnya dengan tatapan kosong.
Giginya terkatup rapat. Dan dia nyerbu ke pintu, geram, ncabik-cabiknya seperti orang gila, narik rantai dan mukul pintu besi itu sekuat tenaga.
“Buka!!!” teriaknya. “Buka sekarang juga!!!!!”
Ini yang njadi penyebab semuanya. Kalau saja pintu itu terbuka, kalau saja dia bisa mbukanya...
Air mata ngalir di pipinya saat amarah nuhi dirinya. Pikiran tentang semua yang telah diderita bayinya ncabik-cabik hatinya. Dia tidak tahu apa-apa. Dia rosot di pintu besi, dan sesuatu narik ujung gaunnya.
Ketika ia nunduk, ia lihat serigala kecil itu telah ngikutinya, dan ia segera nghapus air matanya. Leah mbungkuk untuk ngangkat bayinya lagi dan luknya, tetapi serigala kecil itu njauh, njilati tangannya yang rah.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa lakukannya?" tanyanya lembut, dan serigala kecil itu nepuk kakinya dengan kaki kanannya dan mbuatnya tertawa di tengah air matanya. Si kesayangan berusaha nghiburnya.
lihat wajahnya, serigala kecil itu tiba-tiba ndongakkan kepalanya dan lolong. Seberkas cahaya jatuh ke tempat yang gelap itu, nyinari anak serigala itu dan nyelimutinya.
"......!"
Leah terkesiap saat anak serigala itu tiba-tiba tumbuh, bukan lagi bayi yang rapuh, lainkan serigala perak besar seukuran rumah besar. Dia lolong lagi, kakkan telinga, dan bulu kuduknya rinding.
Serigala itu nyerbu ke arah pintu besi, gigi-giginya yang tajam robek rantai yang tidak dapat digerakkan Leah, skipun dia ngerahkan seluruh kekuatannya.
Dengan bunyi logam patah, rantai itu putus.
Reviews
All reviews (0)