Font Size
15px

Leah terbangun dari tidurnya seolah-olah dia baru saja terlempar, gangi kepalanya dengan kedua tangannya. Rasa mual ncengkeramnya.

Sakit kepalanya begitu parah, rasanya seperti tengkoraknya hancur. Seolah-olah seseorang telah mukulnya dengan palu. Namun, skipun dalam penderitaan, Leah ncoba mahami potongan-potongan kenangan yang berputar-putar di benaknya.

—Jadikan aku istrimu.

Ada taman bunga peony. Dia ingat betul saat dia mberanikan diri untuk nyatakan cintanya kepada Blain. Namun kali ini berbeda. Seorang pria lain berdiri di hadapannya, gang bunga peony di tangannya.

—Benarkah ...kamu sangat berubah-ubah...

Suara lelaki itu mudar. Sosoknya kabur. Namun satu hal yang jelas, yaitu senyum Leah, dan senyum bahagia lelaki di hadapannya. Suaranya terdengar paling manis di dunia saat ia berbicara.

— Tunanganku...

Ingatan itu tidak bertahan lama dan mudar dengan cepat.

“......”

Dengan keringat dingin, Leah nyingkirkan rambut basah yang nempel di dahinya. Ketika ia ncoba ngingat kembali kenangan itu, sakit kepalanya malah bertambah parah. Sambil nutup mata, ia ncoba bernapas dalam-dalam. Ia masih rasa mual.

Bukankah dia sudah ngaku pada Blain?

Bukan hanya ingatannya yang asli yang hilang, tetapi ingatan palsu pun nggantikannya. Sudah berapa lama ingatannya terdistorsi? Dia tidak bisa percaya pada... apa pun .

Tetapi dia tahu pasti kepada siapa dia benar-benar nyatakan cintanya di taman peony itu.

Ishakan sangat marah saat dia ngatakan telah ngaku pada Blain.

Leah nutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Bahkan setelah ingatannya pulih, butuh waktu yang sangat lama untuk nebus kesalahannya.

Leah yang sedang duduk di tempat tidur nyadari bahwa dia masih berada di rumah besar Count Weddleton, dan Ishakan tidak terlihat di mana pun. Dan masih terdengar suara hujan yang turun di luar, nghantam jendela. Dia pikir hujan akan segera berhenti, tetapi ternyata semakin deras.

skipun hujan dan awan gelap mbuatnya sulit untuk lihatnya, ia ngira hari sudah hampir fajar. Leah ngintip ke dalam kegelapan.

Tidak ada yang bisa dilihat di sana. Kegelapan tak berujung. Namun, suatu saat nanti, matahari akan terbit.

Leah letakkan tangannya di perutnya, rasakan perutnya yang tadinya rata njadi sedikit mbulat. Perutnya tidak terlalu terlihat, jadi dia ngabaikannya sampai sekarang. Dia hanya ngira berat badannya bertambah.

Dengan jelas, ia ngingat adegan dalam mimpinya. Anak serigala kecil bermata emas itu telah tumbuh sebesar rumah dan kemudian nyerbu gerbang besi.

Bagaimana mungkin dia tidak nyadarinya sampai sekarang? Siapa pun yang lihat anak singa bermata emas itu pasti tahu bahwa itu adalah anak laki-laki itu.

Leah ndesah. Pikirannya kacau, gembira, senang, takut, kewalahan... dan sangat sedih. Ia bahkan tidak bisa nikmati saat-saat ngenal bayinya karena ia rasa sangat tidak lengkap. Hanya seorang anak dengan ibu yang buruk yang akan ngalami begitu banyak kesulitan bahkan sebelum ia lahir. Kalau saja ia lahir sedikit lebih lambat, saat ia aman...

Namun dalam benaknya, ia mbayangkan dirinya bersama Ishakan, nggendong putra reka.

Dia akhirnya akan miliki keluarga.

Dia rasakan hal-hal aneh. Untuk waktu yang lama, dia duduk dengan tangan di perutnya, dan baru tersadar dan noleh saat ndengar suara kenop pintu berderak.

“...Lea?”

Sambil ndorong pintu hingga terbuka, Ishakan masuk sambil mbawa setumpuk pakaian di tangannya. Ia tampak terkejut saat lihat gadis itu sudah bangun. Gadis itu ndapat kesan bahwa Ishakan telah berencana untuk diam-diam mindahkannya kembali ke istana setelah ia ndandaninya.

Dia hanya telanjang karena dia telah robek semua pakaiannya.

Namun Leah tidak peduli jika dia telanjang. Sambil luncur keluar dari tempat tidur, dia ndekatinya dengan kaki yang goyah dan berdiri berjinjit, lingkarkan lengannya di leher Ishakan untuk luknya. Dengan kaku, Ishakan mbungkuk untuk luknya, dan dia rasakan kehangatan pakaian Ishakan di kulitnya yang seputih salju.

“Apakah kamu bermimpi buruk?” tanyanya.

Leah natap matanya, mata emas yang sangat cocok dengan gelarnya. Raja Gurun.

Saat keheningan mulai terasa, dia ngangkat sebelah alisnya.

"Atau kamu mau lakukannya lagi? Kalau begitu, kamu akan terlambat."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 257: Fragmen on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Mr. CEO Has a Crush on Me cover
Similar genre

Mr. CEO Has a Crush on Me

Mu Anan ·Romance

Shewasframedbyhersisterandaccidentallyhadaone-nightstandwithhim.Later,hefoundvariousunreasonableexcusestoforcehertolivewithhim.Toseekrevenge,sherel...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.