Saat pinggul Leah mulai bergerak-gerak karena senang, Ishakan ngerahkan seluruh kesabarannya untuk tidak bersikap terlalu kasar padanya.
“Ah, Leah, ahhhh...”
Suara lelaki itu yang ngerang manggil namanya ngirimkan perasaan aneh ke dalam dirinya. skipun dia telah tenggelam dalam sensasi yang ditimbulkan lelaki itu, mata Leah terbuka lebar.
“Oh, tidak, Ishahan...”
Dengan tergesa-gesa, ia ncoba ndorongnya njauh karena ia rasa akan terjadi, sensasi keperakan yang ledak di antara kedua kakinya yang malukan karena ia akan nyemprotkan sperma. Dengan panik, ia ncoba nghentikannya, tetapi Ishakan pura-pura tidak mperhatikan. Ia suka saat ia mbuatnya basah.
“Cukup, ahh, berhenti, sekarang, ahhh...”
Saat ia ncoba larikan diri, ia nindihnya di bawah tubuhnya agar ia tidak bergerak. Payudaranya nempel di dada kokohnya dan ia njepit pergelangan tangannya di atas kepalanya. Tubuh reka saling nempel erat saat ia mulai bergerak lebih cepat, begitu keras dan cepat hingga tempat tidur berderit seolah-olah akan runtuh. Mulutnya nyerap semua perhatiannya saat ia njilati air liur dari bibirnya dan ngusap lidahnya tanpa malu-malu.
Leah negang. Matanya yang ungu basah tidak fokus saat punggungnya lengkung dan dia nggigil.
“Hmm, ahhhhh...”
Di dalam, dinding bagian dalamnya ngencang dan mata Ishakan terpejam rapat saat ia ncengkeram kejantanannya dengan kuat, lalu ada semburan cairan panas ke tubuhnya saat ia ngejang dan nyemprot lagi dan lagi. Dengan perlahan, Ishakan ndorongnya saat ia ngejang, ndorongnya ncapai klimaks.
Setelah itu, saat ia kembali sadar, Leah mulai terisak-isak. Ia basah lagi, karena ia telah mbuatnya lakukannya lagi.
“Hck, hck, ahh...”
Ishakan ngira dia mungkin malu dan mbelai payudaranya untuk nghiburnya. Saat dia ncabuti putingnya dengan jarinya, dia mulai getar lagi.
“Sudah kubilang berhenti...” Dia terisak karena malu. “Kenapa...kenapa kau terus lakukannya...hck...”
Dia telah lakukan ini beberapa kali sebelumnya karena Ishakan, tetapi dia tidak ngingatnya. Ishakan tidak dapat nahan senyum. Dia selalu salah paham tentang apa yang terjadi, dan ngira bahwa Ishakan telah mbuatnya ngompol.
Leah yang geram, ninju dadanya saat dia tersenyum, dan sekali lagi karena reaksinya tampak nghiburnya. Namun, mukulnya dengan tangan terkepal bahkan tidak nggelitiknya, dan bibirnya ngencang.
"Aduh," kata Ishakan terlambat, berpura-pura terluka yang hanya mbuatnya semakin marah. Itu sangat lucu, dia tidak bisa nahan diri untuk tidak nggigitnya, gigitan lembut di pipinya yang tidak ninggalkan bekas. "Istriku kuat."
“Ishakan, kau benar-benar begitu...!” katanya, suaranya bergetar karena terisak karena frustrasi yang tidak dapat ia ungkapkan. skipun ia ingin terus nggodanya, Ishakan tidak ingin mbuatnya marah. Ia mbelai rambut peraknya.
“Maaf. Apa kau takut?” tanyanya lembut, lalu nundukkan kepalanya untuk njilati pipinya yang basah oleh air mata, lalu daun telinganya, lalu bibirnya yang sedikit pecah-pecah, sambil berbisik. “Aku akan bersikap lebih lembut.”
Leah ngerjapkan bulu matanya yang basah. Matanya yang penuh air mata tampak seperti bunga di tengah hujan, dan Ishakan natapnya, terpesona. Dipenuhi emosi, matanya berubah njadi warna yang begitu mikat.
Awalnya, dia selalu tanpa ekspresi, dan mancarkan aura tenang. Namun, sekarang dia terkadang runtuhkan temboknya untuk nunjukkan perasaannya yang sebenarnya.
Peristiwa itu begitu nyentuh hatinya, hingga mbuat Ishakan sulit bersikap rasional.
Dia begitu cantik, orang-orang tidak akan mbiarkannya sendirian. Tentu saja, Ishakan adalah salah satu dari orang-orang itu, dan dia sering nyiksanya.
“Aku akan bersikap selembut yang kamu mau...”
Bedanya, dia ingin mbuatnya bahagia. Dia tidak peduli jika jalannya sulit. Dia ingin mberinya kebahagiaan yang paling sempurna.
Ishakan ncium matanya yang basah. Suaranya penuh cinta, seolah setiap kata rupakan pengakuan cintanya padanya.
“Jangan nangis, Leah.”
Reviews
All reviews (0)