Font Size
15px

Pada saat itu, sesuatu yang panas dan keras nyentuh perutnya. Tidak ada tempat untuk pergi di lemari sapu yang sempit itu. nempel pada Ishakan tanpa jarak satu inci pun di antara reka, ketika Leah lihat ke bawah, dia bisa lihat tonjolan kejantanannya yang seperti ular nempel padanya.

“......”

Ishakan nyembunyikan sesuatu yang matikan di antara kedua kakinya. Rahang Leah ternganga saat matanya perlahan terangkat ke wajahnya.

"Ini salahmu," katanya sambil ngangkat alisnya.

Leah berkedip, malu karena dia terang-terangan nyalahkannya atas...kondisinya. Di luar pintu, lorong itu sunyi. Tampaknya Blain dan pelacur itu telah pergi begitu reka selesai.

Ishakan ninggalkan lemari dengan Leah di pelukannya dan nuju kamar tamu terdekat.

Kamar itu sedikit berdebu, tetapi secara keseluruhan tampak bersih. Dan Leah tidak punya waktu untuk riksanya lebih detail. Ishakan nutup pintu dan langsung nuju tempat tidur, mbaringkannya di atasnya.

Suara rintik hujan di jendela semakin keras saat hujan semakin deras, dan Leah narik napas dalam-dalam. Tidak ada suara sama sekali, selain napas reka, dan dia rasa jantungnya akan ledak. Dia tidak bisa nahan kegembiraannya, tangannya raihnya. Dia ingin nyentuhnya. Dia ncoba lepaskan bajunya, tetapi Ishakan nangkap tangannya dan ngangkatnya ke bibirnya. Saat dia ncium jari-jarinya, dia lepaskan pakaiannya dengan tangannya yang lain.

Dalam keadaan telanjang, Leah terduduk di ranjang saat Ishakan ndorong pahanya agar berbaring di antara reka, dan dia hanya lingkarkan kakinya di pinggang Ishakan. Tak dapat nahan kedekatan bibir reka, reka berciuman lagi, penuh gairah.

Ciuman yang intens. Hampir seperti binatang buas, nggigit, ngisap, dan njilati, didorong oleh naluri. Tangan Ishakan bergerak di sekujur tubuhnya, remas dan mbelai, dan Leah nggigil saat Ishakan remas payudaranya dan nangkup pantatnya. Dan dia tidak bisa nahan diri untuk tidak nyentuhnya, dipenuhi dengan hasrat.

Tubuhnya terasa sangat sensitif, sentuhan sekecil apa pun mbuatnya ngerang, dan dia luknya erat-erat. Dia rasa pusing, hampir seperti sedang mabuk.

“Ah, cepat... ahh, hmm...”

Rasa geli di dalam dirinya tak tertahankan. Paha Leah bergerak njauh, berharap dia akan lakukan... sesuatu. Segera.

"Leah..." Ishakan berbicara untuk pertama kalinya, dan Leah nyukai cara Blain ngucapkan namanya, suaranya penuh dengan hasrat seksual. Ketika Blain ngucapkan namanya seperti itu, itu njijikkan, tetapi ketika Ishakan lakukannya, itu hanya mbuatnya bergairah.

Dia njilat bibirnya. skipun dia ingin segera ndorong dirinya ke dalam dirinya, dia nahan diri.

“Sudah lama sekali kita tidak lakukan ini...” katanya. “Kamu tidak bisa lakukannya secepat ini...”

Sambil gang kedua pahanya, dia nundukkan kepalanya di antara kedua pahanya, dan mulutnya nyentuh di antara kedua kakinya.

"Ah...!"

Leah terkejut karena Ishakan akan lakukan hal yang sangat cabul, dan kakinya ndorong bahu Ishakan dengan gugup saat dia njilatinya. Ishakan ndongak, dan permintaannya agar Ishakan lakukannya sedikit lebih lambat tidak terucap. Begitu mata reka bertemu, Ishakan nangkap pergelangan kakinya dan njilatinya.

“Aku juga ingin mbuatmu rasa baik...” katanya tanpa berpikir.

Ishakan terkekeh, lidahnya njilati pergelangan kakinya.

“Kamu bertindak begitu berani karena kamu tidak tahu apa-apa,” katanya.

“Tidak, aku hanya ingin kita berdua nikmatinya...” Dia mulai, dan Ishakan nggigit pergelangan kakinya.

“Hanya bersamamu mbuatku bahagia.”

"Saya juga."

ngingat belaian yang pernah dilihatnya pada Blain dari para istri dan pelacurnya, Leah raih Ishakan, nggenggam kejantanannya. Ia ngerang.

"Bagaimana kau bisa mpelajari semua ini jika kau sudah lupakan semuanya?" tanyanya sambil ngerutkan kening, dan Leah mbelainya, ngabaikan pertanyaan itu. Jika dia ngatakan yang sebenarnya, bahwa Blain telah maksanya untuk nonton sentara wanita lain lakukannya padanya, Ishakan akan segera pergi untuk nggal kepalanya.

Sambil ndecak lidahnya, Ishakan ngangkatnya.

"Jika kita terus seperti ini, kemungkinan besar kita akan hamil anak kedua sebelum anak pertama lahir," gumamnya, dan berbaring di bawah Leah, nindihnya.

Leah terpaku saat lihat kejantanan lelaki itu di hadapannya, lalu harus ngangkat pinggulnya karena kenikmatan yang tiba-tiba.

“Kau juga harus lakukan hal yang sama,” kata Ishakan sambil njilati klitorisnya.

Cairan bening netes di ujung penisnya, dan Leah ragu sejenak lalu njilatinya. Kejantanannya bergerak, dan dia segera raihnya, terkejut. Tangannya langsung manas.

Saat dia njilatinya lagi dengan hati-hati, dia ndengar suara tawa di belakangnya.

"Apa yang kau lakukan, Leah? Hanya itu yang bisa kau lakukan?" Jari-jarinya luncur ke dalam tubuh Leah. "Kau harus mbuatku rasa senang."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 250: Rumah Besar Count Weddleton (8) on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Abandoned Woman Busy Farming cover
Similar genre

Abandoned Woman Busy Farming

Qingka ·Romance

Thecharmoffarminglifeinspringtimeisprofound. Transmigratedintothelifeofapregnantabandonedwife,BaiRuozhuresolvedtoliveofftheland,thewater,andthespac...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.