Font Size
15px

Ishakan nggertakkan giginya ndengar kata-kata itu dan tatapan matanya njadi dingin. Leah tidak tahu harus berbuat apa karena suara-suara itu semakin jelas.

“Ah, di sana, hmm....Yang Mulia...”

“Leah...ahh, Leah...”

Suara-suara itu dengan cepat ningkat di luar pintu, dan njadi jelas bahwa Blain dan wanita itu sedang berhubungan seks di koridor.

Sekarang Leah ngerti ngapa tidak ada pelayan yang berkeliaran di lorong-lorong rumah besar Count Weddleton. Jika ada kemungkinan Raja lakukan hal-hal seperti ini, reka tidak akan diizinkan keluar.

Erangan keras bergema di koridor yang sunyi, dan Leah ingin nutup telinganya. Sungguh ngerikan ndengar wanita lain berpura-pura njadi dirinya saat dia berhubungan seks dengan Blain.

“Ah, jalang, remas lebih keras, Leah...!”

Blain ngucapkan kata-kata kasar itu sambil manggil wanita lain dengan nama Leah, dan untuk pertama kalinya, Leah nyadari apa yang dirasakan Blain. Campuran antara cinta dan benci dan rasa rendah diri yang ndalam, terbungkus dalam keinginan untuk naklukkannya. Hanya itu yang diinginkannya, agar Leah berada di bawah kendalinya.

“Leah...hmmm, ahh...”

Suara erangannya mbuatnya rasa sangat jijik. Namun, tidak ada waktu untuk nyiksanya. Semakin keras Blain keluar, semakin ganas ekspresi Ishakan. Dia tampak cukup marah untuk nerobos pintu kapan saja, tetapi jika reka ketahuan, tidak ada gunanya ngancam Count. Leah ncengkeram ujung kejanya, natapnya mohon.

Mata emasnya sedikit lembut, tetapi Blain tidak berniat mbuat segalanya mudah.

“Ah, sial Leah...”

Wanita itu njerit tak terkendali.

“Ahh, lagi, Yang Mulia...masuklah Leah!”

Tubuh Ishakan bergetar, dan Leah ngusap tangannya. Sambil ndesah, ia nyingkirkan tangan yang nutup mulutnya.

"Aku tidak pernah lakukan apa pun dengan Blain," bisiknya. Ia khawatir Blain akan salah paham, dan ngira bahwa ia telah berhubungan seks dengan Blain. Ishakan hanya tersenyum ndengar penjelasan itu.

“Aku tahu. Kalau dia mperlakukanmu seperti itu...” Matanya natap tajam ke arah pintu, tatapan yang mperjelas bahwa dalam benaknya, dia sudah ncabik-cabik tenggorokan Blain. “...dia tidak akan hidup.”

“......”

Bibir Leah ngerucut, dan saat Ishakan luknya lebih erat, dia nempel padanya. Sebagian pikirannya masih lekat pada Blain, dan keinginan untuk berlari kepadanya saat dia manggilnya masih ada. Namun dia bisa nahannya, karena dia bersama Ishakan. Bahkan di tempat yang sempit dan gelap, matanya mancarkan cahaya yang begitu terang.

Ketika ndengar erangan keras di luar, dan suara daging saling beradu, Leah hanya mbayangkan dirinya di ranjang bersama Ishakan. Dia tidak tahu apa saja yang telah dilakukannya bersama Ishakan, selama periode itu dia tidak bisa ngingatnya lagi. Saat ini, dia tidak ingat pernah berhubungan badan. Dan semua seks yang telah dilihatnya sejauh ini sangat njijikkan, bahkan adegan yang terjadi di luar pintu itu njijikkan baginya, dan yang bisa dia lakukan hanyalah nahannya.

Namun dengan Ishakan, semuanya berbeda. Ia ingin sekali nyentuhnya dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan saat ia terobsesi dengan Blain. Ia tidak rasa jijik atau bahkan tidak nyaman saat lakukan hal-hal seksual dengan Ishakan. Semuanya terasa nyenangkan, dan jika reka benar-benar berhubungan seks...

Tentu saja itu akan lebih baik.

“Apa yang kau pikirkan?” Ishakan bergumam, matanya nyipit. “Dengan tatapan nakal seperti itu...”

Lea ragu-ragu.

"Aku sedang mikirkanmu," jawabnya terus terang, lalu lingkarkan tangannya di leher pria itu dan berjinjit untuk nciumnya. Dialah orang pertama yang nempelkan lidahnya di antara bibirnya, di antara giginya yang tajam, seperti gigi binatang buas.

Matanya terpejam saat lidah reka saling beradu. Ia sangat nyukainya hingga seluruh tubuhnya bergetar karena kenikmatan. Ia benar-benar harus nahan erangan yang hampir keluar, kalau tidak Blain akan nemukan reka di balik pintu.

Namun, ia ingin lakukan lebih dari itu. Hasrat terhadapnya nyiksanya. Ia pasti telah njadi sum. Leah njilat bibirnya yang basah, ncicipi ludahnya.

"Aku hanya ingin lakukannya denganmu," gumamnya, suaranya bergetar karena gugup. "Aku tidak ingin orang lain nyentuhku. Selalu...hanya denganmu."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 249: Rumah Besar Count Weddleton (7) on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Love You Till the End cover
Similar genre

Love You Till the End

Xi Yan ·Romance

ShenChenstartslivingalifeofunrestrainedindulgencesincemarryingShiYu.Themostbeautifullovers’prattleshehaseverheardis“Iwillpunishthosewhomyouhaveoffe...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.