"Ahhh...!" Count Valtein jatuh ke tanah, darah ngalir rah di rerumputan. Leah nahan napas saat nyaksikannya.
"Satu per satu, Leah. Valtein dulu, lalu Laurent, lalu para kesatria..." Senyum Blain kejam. "Kalau begitu, aku akan bunuh diri terakhir."
Dia tidak waras. Leah natapnya, pucat pasi saat dia ngacungkan pedang berdarah di tangannya dan tiba-tiba berteriak panik.
"Aku akan bunuh diri, Leah! Pria yang kau cintai akan mati!"
Gema yang berderak terdengar di telinganya, gerincing rantai yang diikuti oleh sakit kepala yang begitu hebat, dia nutup telinganya dengan tangannya, kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Dan tiba-tiba, dia rasakan seseorang luknya.
Perlahan, ia mbuka matanya, air mata ngalir deras karena rasa sakit yang luar biasa. Saat ia natap mata emas itu, air mata ngalir di pipinya.
"Ishakan..." Dia harus nanyakan pertanyaan itu. "Jika aku ninggalkan Estia, ingatanku tidak akan kembali, kan?"
"..."
Ishakan tidak berkata apa-apa, tetapi mata emasnya njadi gelap. Dia rasakan jantungnya berdegup kencang.
Matanya natap api yang berkobar di bahunya, Blain dengan pedangnya yang berlumuran darah, dan Valtein serta Laurent yang ketakutan. Ia tidak ingin ndatangi reka. Pikiran tentang istana yang dipenuhi orang-orang yang kosong seperti boneka mbuatnya rasa tercekik. Ia ingin lupakan segalanya dan larikan diri ke padang pasir bersama Ishakan.
Namun jika ia larikan diri, semua orangnya akan hidup seperti ini sepanjang hidupnya. Ia tidak bisa terus bertanya-tanya dan ngkhawatirkan orang-orang yang telah ditinggalkannya.
Dan dia mikirkan pintu yang terkunci.
Dia masih belum nemukan kuncinya. Jika dia kabur, dia tidak akan pernah bisa mbukanya. Semuanya akan seperti sekarang, dan dia tidak akan pernah tahu apa yang ada di baliknya. Serigala kecil yang dia lihat dalam mimpinya telah mpertaruhkan nyawanya, lawan rantai yang ngikatnya. Akan njadi pengecut baginya untuk kabur.
Dan dia teringat apa yang dikatakan suara yang didengarnya di balik pintu.
Aku bisa lakukannya...tidak, aku harus lakukannya.
Leah nguatkan diri dan natap Ishakan. Rahangnya sudah terkatup rapat saat ia nggertakkan giginya. Ia tahu apa yang akan dikatakan Leah.
"...Lea."
Dia ngucapkan kata-kata yang tidak ingin didengarnya.
"Aku tidak bisa pergi sendiri."
Suaranya tercekat saat dia berbicara.
"Tidak, Lea..."
Leah telah njalani kehidupan yang damai. Ia tumbuh tanpa masalah, bertemu dengan cinta dalam hidupnya, dan reka akan segera nikah. Dan kemudian di tengah-tengah kehidupan yang tak ada kejadian penting ini, pria ini muncul seperti batu di jalan yang mulus itu.
Jika dia tidak pernah bertemu Ishakan, dia tidak akan njalani kehidupan yang buruk. Dia akan rintah sebagai Ratu Estia, ndukung Blain. Apa hubungannya dengan Raja Kurkan? ngapa dia begitu tertarik padanya? Demi dia, dia rela nyerahkan gelarnya, cinta pertamanya, dan semua yang dimilikinya.
"Aku sudah lupakanmu." Ia natap lurus ke mata Ishakan. Begitu ingatannya yang hilang kembali, ia akan tahu ngapa pikirannya begitu mbingungkan Blain dan Ishakan. Ia akan nemukan jawabannya. "Aku akan kembali padamu. Jadi sekarang..."
Dia natapnya dan mohon dengan lembut.
"Biarkan aku pergi."
Ishakan terdiam lama sekali.
"...Kau selalu nguji kesabaranku," katanya akhirnya. Suaranya begitu tenang, jauh dari api, barisan kesatria dengan pedang di tangan, dan bau darah. Dengan lembut, ia mbelai wajahnya, nyeka air matanya.
"Aku tidak pernah kalah," katanya dengan getir. "Tapi aku tidak akan pernah bisa lawanmu."
Aneh ndengar pria ini ngucapkan kata itu. Mungkin itu pertama kalinya dia ngaku kalah dalam hidupnya. Mata emasnya natap tajam ke arah mata wanita itu.
"Kau tidak akan punya banyak waktu. Pada hari pernikahan, aku akan datang njemputmu. Kali ini bukan penculikan pengantin. Aku akan ngambil kembali istriku." Tangannya yang besar ncengkeram dagu Leah saat matanya terbelalak. Namun, dia belum selesai. "Aku tidak akan mbiarkanmu nolak. Bahkan jika kau nangis dan mohon, Leah, aku tidak akan pernah mbiarkanmu pergi."
Reviews
All reviews (0)