Font Size
15px

Ia tidak nyangka Blain akan lepaskannya dengan mudah. ​​Leah tahu tidak ada yang tidak akan dilakukannya. Namun, ia tidak pernah nyangka Blain akan lakukan hal seperti ini.

Leah ada di vila, dan dia masih saja mbakar kebun buah di sekitarnya, ski tahu itu akan mbahayakan dirinya.

Ishakan ndecak lidahnya.

"njengkelkan." Sambil noleh ke belakang, dia mbungkuk dan ncium kening Leah. "Kamu sudah bangun."

Matanya masih sedikit linglung, lalu dia ngangguk.

"Mura," kata Ishakan. Tidak ada tanda-tanda urgensi atau kekhawatiran dalam suaranya, dan Mura njulurkan kepalanya dari belakang Haban, tersenyum saat matanya natap mata Leah. Wanita Kurkan itu setenang rajanya.

"Tidak ada yang serius, jadi jangan khawatir," Ishakan nambahkan sambil ngenakan jubahnya, dan rintahkan Mura untuk tetap bersama Leah saat dia pergi bersama Haban.

"Udara di sini tidak bagus," Mura ngamati sambil segera mbantu Leah ngganti pakaiannya. "Lebih baik kita nunggu Ishakan di tempat lain."

Sambil nyerahkan sapu tangan basah kepada Leah untuk nutupi hidungnya, reka pergi, tetapi saat reka berjalan nyusuri koridor, Leah tiba-tiba berhenti di dekat jendela.

"...Lea?"

Ada beberapa kesatria yang ndekat, dan dia bisa lihat orang-orang Kurkan berkumpul di depan rumah. Asap hitam dari pohon persik yang terbakar ngepul ke langit, dan api nyebar, tertiup angin ke segala arah. Sebentar lagi, api akan ngelilingi reka.

reka harus ninggalkan tempat ini sekarang.

Namun, tidak ada seorang pun yang tampak cemas dengan kebakaran itu. reka tidak bergerak untuk larikan diri. Saat lihat Ishakan bergerak di depan Kurkan dengan Haban dan Genin di sisinya, Leah tahu bahwa dia tidak bisa pergi seperti ini.

"Lea!"

Tanpa ragu, Leah berbalik dan berjalan kembali, dan Mura hanya ragu sejenak sebelum ngikutinya.

"Kurasa itu bisa dingerti," gumamnya. "Dia tidak akan larikan diri dan ninggalkan suaminya di dalam api..."

Bersama-sama kedua wanita itu bergegas nuruni tangga, dan saat reka ncapai bagian depan rumah, kedua belah pihak telah bersiap untuk bertempur. Para kesatria Estian yang ngenakan baju besi perak berbaris dalam satu garis, dan tidak ada rasa takut di wajah reka, skipun api hampir njilati tumit reka.

Atau lebih tepatnya, tidak ada ekspresi sama sekali di wajah reka. Mata reka tidak fokus, seperti para ksatria mainan yang berbaris nunggu untuk dikerahkan ke dan perang. Di belakang reka ada Blain di atas kuda putihnya dengan busur di punggungnya dan pedang di tangannya, mperhatikan kebun persik yang terbakar dengan mata acuh tak acuh.

Daun-daun hijau dan buah-buahan yang belum matang telah njadi abu. Pohon-pohon ngerang dan tumbang saat terbakar, hangus oleh api. Kekacauan pemandangan itu tampaknya nandai berakhirnya peristiwa itu.

Blain telah mbakar hutan ini skipun Leah masih dipenjara di sini. Pandangannya beralih dari pohon-pohon yang terbakar ke barisan orang Kurkan di depannya.

reka juga siap bertempur, mata reka yang cerlang mantulkan api, pupil mata reka mbesar. Tidak ada rasa takut di mata reka, hanya antisipasi yang besar. Pada provokasi sekecil apa pun, reka akan nyerbu para kesatria Estian.

Ishakan-lah yang berbicara lebih dulu, dalam keheningan yang sepertinya sepatah kata saja dapat ngarahkan keseimbangan ke arah kekerasan.

"lihat kedatanganmu, sepertinya kau nikmati hadiahku tadi malam," katanya sambil miringkan kepalanya ke satu sisi.

Mata Blain nyipit, lotot ke arah Ishakan sampai sesuatu di belakangnya narik perhatiannya.

Leah berdiri di pintu depan rumah.

Begitu dia natap mata Blain, sakit kepalanya bertambah parah, begitu nyiksa sehingga dia bahkan tidak bisa berdiri tegak dan terpaksa bersandar pada Mura, pusing karena sakit. Ishakan ngerutkan kening saat dia ngikuti pandangan Blain dan lihat Leah mucat.

"Bagaimana mungkin orang biadab kotor sepertimu berani nginginkan sang putri?" teriak Blain dengan geram.

"Haruskah itu njadi perhatianmu?" tanya Ishakan, sambil noleh ke arahnya. "Kau bukan bangsawan. Bukankah pembuluh darahmu dipenuhi darah Tomaris yang rendah hati?"

"...!"

Wajah Blain berubah, dan Ishakan tersenyum saat natap mata pria itu yang rah dan marah.

"Lakukan. Kali ini aku akan nggal kepalamu."

"Diam!!!" teriak Blain, dan mberi isyarat ke arah para kesatria di belakangnya. reka nyeret dua orang yang terikat dan lemparkan reka ke hadapannya. Pangeran Valtein dan nteri Laurent.

"Putri!" Kedua pria itu berteriak saat reka lihat Leah, dan Blain ngangkat pedangnya dan nusukkannya ke paha Count Valtein.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 233: Keputusan Sulit on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.