"Karena kamu sedang terkena kutukan."
"..."
"Mantra yang mbuatmu lupakanku...dan lupakan segalanya."
Ia ngatakannya dengan pelan. Namun, seperti bau darah yang nguar dari tubuhnya setelah ia nyampaikan pelajaran, ia tidak dapat nyembunyikan kesedihannya, skipun ia berusaha berpura-pura tidak rasakannya.
"Tapi sekarang tidak penting." Ia njelaskan bahwa karena keadaan rumit akibat mantra itu, pilihan terbaik tampaknya adalah agar ia tetap tinggal di Estia sampai ia ndapatkan kembali ingatannya. Ia telah berencana untuk nunggu. Jika ia mbawanya pergi sebelum itu, ada kemungkinan ia tidak akan pernah ngingatnya.
Namun sekarang, dia bersedia ngambil risiko itu.
Leah teringat perkataannya, bahwa dia tidak peduli jika dia ncintai orang lain, bahwa bahkan saat itu dia ingin larikan diri bersamanya. Dia tidak ngerti ngapa dia begitu berbakti padanya. Apakah dia benar-benar nikahinya pada suatu masa yang tidak dapat dia ingat?
mori...
Pikirnya. Ia teringat Baroness Cinael yang nangis. Gaun wanita itu rapi, tetapi kuno, dan lengannya sudah usang di bagian tepinya. Ia tidak kaya secara finansial, dan pastinya mbutuhkan uang, tetapi ia nolak pembayaran yang ditawarkan Ishakan.
Leah tahu betapa sulitnya nolak uang saat sangat dibutuhkan. Itu bukti bahwa Baroness Cinael benar-benar setia kepada Leah. reka pasti telah nghabiskan banyak waktu bersama untuk miliki hubungan seperti itu.
Namun Leah tidak dapat ngingatnya. Dan kini ada kemungkinan ia akan kehilangan kenangan itu selama sisa hidupnya. Ia tidak yakin itu keputusan yang tepat. Namun ia sangat ncintai Ishakan, ia rela larikan diri bersamanya dan ninggalkan segalanya, bahkan gelar Putri Estia. Ia benar-benar jatuh cinta padanya, tanpa alasan apa pun.
Pikiran tentang Blain terus muncul di benaknya. Dia tidak ngerti ngapa dia tidak bisa lupakannya. Seolah-olah dia terikat padanya dengan rantai, dia tidak bisa lepaskannya.
Ekspresinya serius, dan dia ngusap wajahnya untuk nyembunyikannya, berpura-pura nyeka keringat. Dia tidak ingin Ishakan tahu siapa yang sedang dipikirkannya.
"...Lea."
Ishakan sangat tanggap. Sambil ndesah, ia nariknya ke dalam bak mandi. Tubuhnya tenggelam ke dalam air hangat dan rambut peraknya ngapung di permukaan.
"Baiklah," katanya, ndudukkannya di pahanya dan mbelai pipinya dengan tangannya yang hangat. "Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan..."
Leah nciumnya. Setelah beberapa saat, ia mundur dan berbisik kepada pria yang tahu segalanya itu.
"Aku ingin lupakannya." Sambil ncondongkan tubuhnya untuk nciumnya, dia berbisik lagi. "Ini sangat negangkan..."
Kata-kata itu terputus oleh ciuman Ishakan yang tiba-tiba dan dalam, lidahnya ndorong di antara bibirnya ke dalam mulutnya. Napasnya yang panas bercampur dengan uap di kamar mandi.
"Ah, Ishakan...ahh..."
Dia luknya erat-erat seolah-olah dia adalah tempat berlindungnya. Dengan kulitnya yang nempel di kulitnya, dia bisa lupakan Blain untuk sentara waktu. Namun, dia tahu lebih dari siapa pun bahwa ini hanyalah solusi sentara.
***
Keesokan harinya, Leah mbuka matanya saat matahari terbit, terbangun karena sakit kepala luar biasa.
Dia terbangun sambil gangi kepalanya dan lihat Ishakan berdiri di ambang pintu dengan tangan disilangkan, hanya ngenakan sehelai kain yang lilit pinggangnya, mperlihatkan tubuh bagian atasnya. Tepat di luar pintu yang terbuka berdiri Haban, wajahnya kaku.
"Raja Estia datang bersama para kesatria."
Leah ncoba berpura-pura tidak peduli. Namun, dia tidak bisa. Tubuhnya bereaksi skipun dia tidak peduli, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang saat kenangan lintas di benaknya. Berdasarkan semua akal sehat dan logika, orang yang dicintainya seharusnya adalah Blain. Itulah yang diingatnya.
Sakit kepalanya bertambah parah begitu dia nyangkalnya, dan Leah nahan erangan karena rasa sakit itu. Bau samar terbakar tercium lewati hidungnya yang sensitif. Dari mana bau itu berasal? Pertanyaan itu ngalihkan perhatiannya dari rasa sakit cukup lama hingga dia ndengar Haban berbicara dengan kesal.
"Kau yang mbakar kebun itu?"
Reviews
All reviews (0)