Font Size
15px

Saat dia berjalan pergi, Leah noleh ke belakang dan lihat mata emasnya ngikutinya, bahkan saat Blain raih pergelangan tangannya, nariknya ke atas kudanya di depannya. Ditemani oleh para kesatria, reka berlari kencang lewati kebun buah. skipun api nyala luas, masih ada beberapa tempat yang belum dijangkau.

Sebuah kereta kuda nanti di luar kebun. Para pelayan ndudukkan Leah di dalamnya dengan selimut, dan jari-jarinya getar saat ia gangnya. Begitu pintu tertutup, kereta kuda itu pun laju, dan ia terpaku di jendela sambil lihat api mbumbung ke langit.

Dia tahu Ishakan tidak akan terluka, tetapi dia tidak bisa ngalihkan pandangannya. Dia khawatir padanya. skipun Ishakan miliki kekuatan untuk nahannya dengan paksa, dia telah mbiarkannya pergi. Ishakan selalu nghormati keinginannya.

"Lea."

Dia negang, ngalihkan pandangan dari jendela. Blain duduk di sampingnya dan narik napas dalam-dalam sebelum berbicara.

"Apa yang dilakukan Lady Mirael padamu?"

Jantungnya berdegup kencang. Sebagian dirinya secara otomatis bersikap seolah-olah dia senang dengan kedekatannya, tetapi sekarang dia yakin. Apa yang dia rasakan terhadap Ishakan sama sekali berbeda.

"Jawab!" teriak Blain. Leah lotot ke arahnya.

"Jika aku tidak njawab, kamu akan namparku?"

"Anda...!"

"Apakah kau akan ngancam akan mbunuh orang lain, agar aku patuh? Atau ngancam akan bunuh diri?" Dia raih pergelangan tangannya, dan dia lepaskannya. "Lepaskan aku . "

Ia tampak terkejut, natap dari tangannya ke Leah dan kembali lagi. Wajah Leah dingin dan tanpa ekspresi.

"..."

Dia nggigit bibirnya begitu keras hingga berdarah, tetapi dia tidak lagi rasa sakit lihat penderitaannya.

"Pernikahan, jika pernikahan itu terjadi..."

Leah berbalik dan nutup telinganya. Ia tidak ingin ndengar gumamannya. Matanya kembali natap jendela, dan ia rasa sangat tidak nyaman terjebak di ruang sempit ini bersama Blain. Ia tidak percaya bahwa ia pernah ingin berada di dekatnya.

Kereta itu terus laju cukup lama. Akhirnya dia lihat istana di kejauhan. Dia telah lihatnya ratusan kali, tetapi sekarang istana itu tampak sangat asing baginya. Tempat itu tidak lagi indah tanpa taman dan tumbuhan hijau. Istana itu tampak asing dan suram.

skipun ia tumbuh di sana, tempat itu tidak lagi terasa seperti rumah. Saat penjaranya ndekat, ia berpikir, Aku akan nemukan jalan kembali kepadanya.

***

Haban mperhatikan Leah berjalan pergi. skipun sudah njadi keputusannya untuk pergi, dia noleh ke belakang lebih dari sekali.

Para kesatria Estia bergegas ngejarnya dan Raja Blain, dan api terus berkobar, begitu panas dan dekat sehingga berbahaya. Pohon persik tumbang di sekeliling reka. Suku Kurkan akan terperangkap dalam api jika reka tidak segera pergi.

Namun reka tidak bergerak. reka nunggu perintah Raja reka.

Ishakan masih natap ke arah hilangnya Leah dan tidak bergerak sedikit pun saat Haban ndekatinya.

"Tahukah kau?" Pertanyaan itu muncul sebagai ganti peringatan bahwa reka harus pergi. Pandangan Ishakan perlahan beralih ke Haban, dan skipun semua yang lain bersinar dalam api, matanya gelap, seolah-olah tidak dapat mantulkan cahaya.

"Apakah kau tahu Leah akan pergi?" Haban ngulang pertanyaan itu skipun ia takut. Bibir Ishakan bergerak perlahan.

"...ngapa kamu berpikir seperti itu?"

"Itulah satu-satunya alasan untuk njaga orang-orang itu tetap hidup."

Sang Raja tidak njawab. Ia hanya tersenyum pahit. Suku Kurkan telah pergi bersama Ishakan ke istana malam sebelumnya. reka telah mbantu mbunuh Lady Mirael dan para kesatria reka dan ninggalkan kepala-kepala yang dipenggal di kamar Blain. reka telah mbunuh setiap Tomari yang lintasi jalan reka tanpa pandang bulu. Namun, reka tidak lukai Cerdina atau Blain, yang lebih pantas mati daripada siapa pun.

Ishakan telah mbiarkan reka tetap hidup, untuk berjaga-jaga seandainya Leah ingin ndapatkan kembali ingatannya.

Tentu saja, dia ingin mbawanya ke padang pasir. Dia tidak peduli apa yang terjadi pada Estia atau orang-orang di sana. Dia ingin mbawa istrinya ke tempat yang paling aman. Satu-satunya perhatiannya adalah kesejahteraannya. Dia akan mikirkan hal lainnya setelah Leah lahirkan dengan selamat dan njadi kuat kembali.

Kemudian dia akan kembali dan naklukkan Estia.

Namun Leah tidak mau larikan diri. Atas kemauannya sendiri, ia kembali ke istana untuk ncoba ngambil kembali ingatannya yang hilang. Ia milih untuk nghadapi bahaya itu secara langsung.

Dan dia pergi dengan bayinya di rahimnya.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 235: Alasan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.