Font Size
15px

Ishakan lepaskan cengkeramannya.

Cerdina jatuh terduduk di lantai. Seluruh tubuhnya getar ketakutan, tetapi bibirnya terkatup rapat, seolah-olah telah dijahit.

"Saya telah mberikan hadiah kepada putra Anda."

"...!"

Kepala Cerdina terangkat ketakutan.

"Lain kali tidak akan berakhir dengan peringatan," bisik Ishakan sambil nunduk natapnya. "Jangan salah paham, Ibu Suri."

Itu saja. Raja Barbarian nghilang sepelan kedatangannya, dan Cerdina berbaring tak bergerak untuk waktu yang lama, nenangkan diri.

Kemudian dia bangkit berdiri dan berlari ninggalkan kamar itu, hanya ngenakan gaun tidurnya yang indah.

Begitu dia ncapai koridor, dia mbeku kaku seperti patung batu, nutup mulutnya dengan tangannya. Tomaris selalu berkeliaran bebas di istana kerajaan di bawah kekuasaannya. reka nyamar sebagai pelayan dan ndatangkan malapetaka pada tatanan istana.

Namun sekarang, saudara-saudaranya yang sedarah telah njadi mayat yang dingin. Tubuh reka sangat rusak, seolah-olah reka telah dicabik-cabik oleh seekor binatang buas.

"...Blain," katanya lemah, sambil lihat bencana itu.

Dia bahkan tidak berhenti untuk ngambil sepatu. Berlari tanpa alas kaki lewati istana utama, para pelayan terkejut saat lihat Ibu Suri yang anggun berlari dengan putus asa, dan Cerdina lambaikan tangan untuk ngusir reka, mata reka tidak fokus.

Setelah nyeberangi koridor panjang, dia sampai di kamar Blain. Bau busuk darah rembes dari balik pintu yang tertutup.

Dia getar saat ndorongnya hingga terbuka. Keadaannya bahkan lebih buruk daripada yang pernah dilihatnya di istananya sendiri. Ruangan gelap itu ngerikan, dengan puluhan kepala terpenggal berserakan di lantai. Sebagian besar kepala itu milik pria berambut pendek, tetapi pemandangan rambut emas panjang narik perhatiannya...

Lehernya sangat robek, seolah-olah seseorang telah ncabutnya dari tubuhnya dengan tangan reka. Rambut pirang yang berlumuran darah nyebar di lantai, dan wajah cantiknya sangat rusak sehingga hampir tidak dapat dikenali, tetapi Cerdina tahu siapa itu.

Nyonya Mirael.

Ekspresi wajah yang terluka mperlihatkan penderitaan atas kematiannya. Napas Cerdina terengah-engah saat ia noleh ke kaki tempat tidur, tempat Blain berdiri.

"...Ibu."

Seperti orang gila, dia berlari ke arahnya, hampir tersandung kepala-kepala di lantai untuk luknya dan luk putra kesayangannya. Dia tidak terluka. Tidak ada satu pun goresan di tubuhnya. Pingsan karena lega, dia mbelai wajahnya, tetapi Blain narik tangannya dengan dingin.

"Apa yang telah kamu lakukan?"

"...."

Blain ncengkeram bagian depan gaun tidurnya.

"Apa yang sebenarnya telah kau lakukan!?"

Dia tidak ngatakan apa pun, dan dia ngguncangnya tak berdaya.

Malam itu, bulan bersinar sangat terang, nerobos jendela dan nyinari banyak kepala orang yang sudah ninggal.

***

Leah tidak bisa tidur. Pikirannya terlalu penuh, dengan terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Untuk waktu yang lama, ia berguling-guling di tempat tidur hingga akhirnya nyerah.

Mungkin karena Ishakan sudah pergi. Saat bersamanya, dia tidak mikirkan kenyataan situasinya. skipun dia telah mutuskan untuk larikan diri, tidak mudah untuk lepaskan keterikatannya pada Estia.

Leah noleh ke belakang.

Apa yang terjadi pada para ksatria dan dayang-dayang...?

Sepertinya reka tidak terbunuh, tetapi dia tidak tahu apa yang terjadi pada reka. Dan yang lebih buruk lagi, Blain tiba-tiba muncul kembali dalam pikirannya. Saat dia bersama Ishakan, dia sama sekali tidak peduli padanya. Namun begitu Ishakan pergi, Blain nyerbu pikirannya.

Nalar mbuatnya ncela dirinya sendiri atas apa yang telah dilakukannya. Belum terlambat. Masih ada waktu untuk nebus kesalahannya.

Leah berkeliling ruangan, ncoba nyingkirkan pikiran-pikiran ngganggu itu dari benaknya.

"...!"

Tiba-tiba, seseorang luknya dari belakang, mbuatnya terkejut. Namun, kehangatan yang dirasakannya langsung nenangkannya.

"Ishakan." Dia berbalik dan lihat mata emasnya, pupil matanya lebar dan mbesar. Matanya sendiri lebar saat dia berbisik, "... baumu seperti darah."

Dia hanya luknya, seolah-olah dia pura-pura tidak ndengarnya.

"Apakah kamu terluka?" tanyanya sambil ndorongnya kembali.

"Tidak pernah," katanya sambil tersenyum. "Hanya kau yang bertanya apakah aku terluka."

Tidak ada gunanya bertanya kepada lelaki ini apa yang telah dilakukannya hingga kembali dengan bau darah. Dia pernah ndengar sebelumnya bahwa sifat orang Kurkan itu buas, seperti binatang buas. Bagi reka, wajar saja untuk nimbulkan luka berdarah dan renggut nyawa.

Namun, ia tidak nyangka bahwa tangannya akan berlumuran darah tanpa alasan. Leah bertanya-tanya siapa yang mungkin telah dibunuhnya, dan ngapa.

"Hanya saja..." Ishakan mulai berbicara perlahan, dan tersenyum nakal. "Aku mberi pelajaran pada beberapa orang jahat."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 230: Peringatan 4 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Love You Till the End cover
Similar genre

Love You Till the End

Xi Yan ·Romance

ShenChenstartslivingalifeofunrestrainedindulgencesincemarryingShiYu.Themostbeautifullovers’prattleshehaseverheardis“Iwillpunishthosewhomyouhaveoffe...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.