Cerdina tidak bisa tidur. Di tengah malam yang pekat, ia duduk di kamarnya ngenakan gaun tidur yang indah, sambil minum anggur. Saat dayang-dayangnya sedang tidur, ia nuangkannya sendiri, gelas bening berisi anggur, rah seperti darah. Biasanya ia akan minum perlahan dan nikmati aroma anggur, tetapi malam ini, ia nghabiskannya dengan cepat.
Dia ingin mabuk, tetapi ski mabuk alkohol, pikirannya jernih.
Cerdina berdiri dan naruh gelas di atas ja. Berjalan ke sisi lain ruangan besar itu, dia nyingkap tirai dan ndorong jendela hingga terbuka, lalu duduk di ambang jendela. Di malam yang tenang dan tenteram itu, dia natap istana kerajaan dengan tatapan dingin.
Dia gang Estia di telapak tangannya, tetapi itu tidak cukup. Ambisinya tidak berakhir dengan satu kerajaan kecil.
Pernikahan Blain akan njadi kesempatannya untuk mulai berekspansi ke negara lain. Dia akan nggulingkan reka satu per satu hingga seluruh benua berada di bawah kakinya...selama Blain mainkan perannya.
Tetapi Blain tidak bertindak seperti yang diharapkannya.
Lea, Lea, Lea...
Cerdina ngulang nama itu dengan gugup. Jika gadis itu patuh, maka Blain akan tetap tenang. Pernikahan itu akan njadi kenangan. Orang-orang barbar itu mungkin sedikit ngganggu, tetapi pada akhirnya reka tidak akan ncapai apa pun.
Sekarang aku seorang dewa.
Cerdina tersenyum, nikmati angin malam yang sejuk. Namun sesaat kemudian, dia ngerutkan kening.
"Aku tidak ingat pernah ngundang siapa pun," desahnya, lalu noleh sambil tersenyum tipis. "ngapa Raja Kurkan datang ngunjungiku malam-malam begini?"
Sosok tinggi muncul di ruangan di belakangnya, dan saat awan mulai nghilang, cahaya bulan nyinari seorang pria yang telah nyatu dengan kegelapan seolah-olah dia adalah bayangan. Wajahnya yang tanpa ekspresi sedingin baja.
Cerdina berharap bertemu dengannya sebelum pernikahan, tetapi kunjungan ini ngejutkan. Penampilannya sama seperti saat pertama kali ngunjungi Estia. Tatapan arogan yang sama. Cerdina njilat bibirnya.
"Seorang pria yang masuki kamar tidur wanita di malam hari hanya bisa berarti satu hal..." Perlahan, dia rentangkan kakinya, dan gaun tidurnya bergeser untuk mperlihatkan pahanya. "Aku tidak pernah berfantasi tentang kawin dengan binatang buas, tetapi karena kamu seorang raja, kurasa aku akan ncobanya sekali."
Ishakan tidak berkata apa-apa. Perlahan, ia ndekati Cerdina yang tengah tersenyum, dan tiba-tiba terdengar ledakan rasa sakit di pipinya dan suara tamparan yang berdering.
"...!"
Kepalanya terbentur bingkai jendela, dan suara itu bergema di ruangan yang sunyi. Pipinya terasa seperti terbakar, tetapi dia bahkan tidak punya waktu untuk bereaksi sebelum Ishakan ngangkat tangannya lagi dan mukul pipinya yang lain, njatuhkannya ke lantai.
"Ahhh!!!"
Cerdina tidak sempat rasakan sakit itu sebelum rasakan sakit lain saat tangan besarnya ncengkeram rambutnya, ngangkatnya, dan ngguncangnya dengan keras. Cerdina nggaruknya dengan kukunya, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kulitnya yang keras.
Namun setelah teror awal itu, Cerdina berhasil nguasai dirinya. Ia bertindak seolah-olah ia adalah manusia biasa, seekor serangga yang tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, ia tidak demikian. Terlambat, ia ngingat kekuatannya, dan asap hitam berputar-putar di sekelilingnya, terbelah njadi benang-benang dan nyerbu Ishakan.
Tidak terjadi apa-apa. Asap hitam lewati tubuhnya tanpa nyentuhnya. Rahangnya ternganga.
"ngapa...?"
Ishakan hanya tersenyum sinis. Ia terkejut. Ia tidak pernah rasa setidak berdaya ini sejak ia njadi penyihir.
"..."
Cerdina nggertakkan giginya. Asap hitam ngepul tebal, nuhi seluruh ruangan, dan hembusan angin kencang nyapu, njatuhkan benda-benda. Namun saat benda-benda itu pecah dan terpotong di udara, tidak ada goresan sedikit pun pada pria itu.
Angin pun reda. Asap hitam pun nghilang.
Dia tidak dapat mpercayainya. Cerdina natapnya dengan mata getar, dan dia ngangkatnya dengan mudah dengan njambak rambutnya hingga kakinya tergantung dan dia njerit kesakitan, rasa seolah-olah kulit kepalanya akan terkelupas. Jika dia lawan, dia mungkin akan kehilangan semua rambutnya. Cerdina njerit kesakitan tetapi tidak berani bergerak.
" Dengar ." Binatang itu lotot ke arahnya dengan mata emas, dan mulutnya otomatis tertutup. "Aku ninggalkanmu dalam damai karena itu perlu."
Peringatannya dingin dan jelas.
"Jangan mbuatku marah lagi."
Reviews
All reviews (0)