Hari Leah dimulai seperti biasa di istana. Ia bangun pagi-pagi sekali dan pergi bekerja di kantor vila, nangani beberapa tugas yang paling ndesak. Kenyataan bahwa ia tidak berada di istana mbatasi ruang lingkupnya. Ketika saatnya tiba, ia makan di bawah pengawasan dayang-dayangnya, dan dengan patuh minum teh yang dikirim Cerdina. Rasanya seperti ia nelan racun setiap kali nyesapnya, tetapi ia nahannya dengan tekad.
Ia nyaksikan matahari terbenam. Matahari warnai kebun buah itu hingga nghilang di balik pegunungan di sebelah barat, lalu kegelapan nyelimuti seluruh vila. Tidak seperti istana, yang diterangi lentera bahkan di larut malam, kebun buah itu diselimuti bayangan sunyi.
Begitu matahari terbenam, Leah terus ngawasi jendela. Pria yang ditunggunya selalu muncul di saat yang tidak diduganya.
Ia bertanya-tanya apakah kali ini ia akan masuk lewat jendela, atau mungkin lewat cara lain. Ia tidak rasa bosan nunggunya. Sungguh nghibur mbayangkan seperti apa kedatangannya nanti. Dengan sengaja, ia mbiarkan jendela terbuka, takut nghalangi jalan masuknya.
Sendirian di kamar tidur, ia rindukan malam seperti anak kecil yang nunggu hadiah. Ia tak dapat nahan kegembiraannya. Ia ncoba mbaca buku, tetapi matanya terus lirik ke jendela. Ketika ia tak dapat nahannya lagi, ia pergi ke jendela dan natap lama ke dalam kegelapan.
Ia sedang mbaca dengan cahaya lampu minyak kecil ketika tiba-tiba ia rasakan getaran di punggungnya. Leah letakkan buku itu.
"..."
Sambil ngangkat lampu dari ja, dia ndekati pintu, bayangannya mbentang jauh ke belakangnya. Suasana di luar sunyi. Dia tidak bisa ndengar apa pun, bahkan langkah kaki dayang-dayangnya atau gumaman para kesatria. Sepertinya semua orang sudah tidur.
Tiba-tiba ia punya firasat buruk, ketakutan yang naluriah. Ia ingin riksa, tetapi ketika ia mutar kenop pintu, pintunya terkunci. Para pembantunya nguncinya di kamarnya setiap malam agar ia tidak bisa keluar. Ketika ia berdiri di depan pintu, ia ndengar suara-suara.
- Carilah dia.
— Dia pasti ada di lantai dua.
Terkejut, dia berbalik. Itu bukan suara dayang-dayangnya atau para kesatria. Dengan cepat, dia pergi ke janya dan letakkan lampu, raih pembuka surat yang tajam dan ramping. lihat sekeliling ruangan dengan cepat, dia hanya lihat beberapa tempat untuk bersembunyi: di bawah tempat tidur, di lemari, atau di bawah janya. Dia akan segera ditemukan.
Tidak ada seorang pun yang bisa dimintai bantuan. Dia harus lindungi dirinya sendiri. Dengan gugup, dia mbuka jendela.
Di bawah jendela ada langkan tipis, hampir tidak cukup lebar untuk jari kakinya. Namun, jika dia berpegangan pada bingkai jendela, dia bisa tinggal di sana untuk waktu yang lama. Dengan pisau ramping di mulutnya, dia nginjakkan kakinya di ambang jendela.
"...!"
Mata emasnya natap tajam ke arah matanya dari kegelapan. Setelah beberapa saat, dia perlahan ngambil pisau dari mulutnya dan letakkannya di ambang jendela.
Ishakan ngulurkan tangannya ke arahnya tanpa berkata apa-apa.
Dia akan nangkapnya jika dia lompat. Aneh sekali dia sangat mpercayai pria ini.
Jarak dari kamar tidur di lantai dua ke lantai dasar cukup jauh, tetapi dia tidak rasa takut. Dia yakin Ishakan akan nangkapnya. Leah lompat dari ambang jendela, rambut peraknya berkibar di belakangnya, dan lengan Ishakan lingkari tubuhnya dengan lincah, tepat pada saat yang tepat.
Napasnya tidak teratur dan dia mbuka mulutnya untuk mulai ngatakan kepadanya bahwa reka harus pergi, bahwa ada orang asing di rumah itu, tetapi dia tidak dapat ngatakannya. Dia ketakutan, tetapi mata emasnya sangat tenang. Akan tidak masuk akal untuk nyuruh pria ini lari. Gagasan untuk larikan diri adalah kutukan baginya. Leah ngatupkan bibirnya.
"Kau ngejutkanku dalam banyak hal," kata Ishakan sambil ngangkat sebelah alisnya.
lalui jendela yang terbuka, dia bisa ndengar suara pintu kamarnya didobrak. Sesaat kemudian, terdengar teriakan dan umpatan dari banyak suara laki-laki. Sambil luknya, dia natap ke bawah, bersinar di bawah sinar bulan.
"Saya datang untuk mbantu Anda."
Reviews
All reviews (0)