Ini adalah pertama kalinya dia keluar di malam hari sejak dia datang ke vila. Di bawah sinar bulan, kebun buah persik itu sunyi, buah-buah hijau yang belum matang tergantung di pohon-pohon, nambahkan bayangan bundar reka ke cabang-cabang dan daun-daun. Ishakan nundukkan kepalanya ke arah kepala wanita itu.
"Saat ini saya sangat termotivasi," gumamnya, dan tersenyum, bayangannya bersinar di matanya. "Ketika seseorang minta bantuan, itu mbuat Anda ingin lakukan yang terbaik, bukan?"
Dia bisa mbayangkan dia mbaca catatannya dengan senyuman kecil yang sama.
"Itu dia!"
"Dia seharusnya dikurung! Siapa dia?"
Para penyusup yang telah ndobrak pintu itu ngintip ke luar jendela ke arah Ishakan dan Leah, dan tidak diragukan lagi lebih banyak dari reka yang kembali nuruni tangga. Namun Leah tidak mpedulikan reka. Pria di depannya mikatnya, dan bagi Ishakan, tidak ada orang lain. reka saling mandang seolah-olah reka adalah satu-satunya orang di dunia.
Ada begitu banyak pertanyaan yang harus ia ajukan kepada reka. Jika ia ncoba nghitungnya, ia akan kehabisan jari tangan dan kaki. Namun, ketika ia mbuka mulutnya, yang keluar hanyalah omong kosong belaka.
"Sepanjang waktu aku mikirkanmu," bisiknya, sambil raih pipi pria itu dengan tangannya, pria yang tampak seolah terbuat dari semua benda padat di dunia. "Pagi dan malam..." Dia ragu-ragu dan ngaku, "dan sepanjang hari, setiap hari..."
"Aku juga," katanya setelah beberapa saat. Mata emasnya lebih terang dari cahaya bulan. "Aku mikirkanmu sepanjang hari."
Leah jamkan matanya. Hati dan pikirannya tidak selaras. Ia goyah, berdiri di persimpangan tempat dua jalan terbentang di hadapannya, mberi isyarat agar ia terus maju. Namun sejak ia mutuskan untuk nulis catatan itu, atau mungkin bahkan sebelumnya...keseimbangan telah condong ke arah hatinya.
Ujung jarinya nyentuh wajahnya. Ia mbelai dahinya, alisnya, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tegas, bahkan dagunya yang tegas. Dan ia ngizinkannya, jamkan mata saat ia nyentuh wajahnya, seperti binatang buas yang dibelai oleh tuannya. Saat ia tunduk pada sentuhannya, ia tiba-tiba berpikir:
Entahlah. Kurasa aku suka pria ini.
Sungguh malukan untuk sampai pada kesimpulan itu, tetapi sejak pertama kali bertemu, dia telah begitu cepat naklukkan hatinya. Cinta yang telah dibangunnya sepanjang hidupnya telah hancur, dan dia harus nerima cinta baru yang baru ditemuinya beberapa hari yang lalu.
Itu gila. Banjir kritikan nerjang pikirannya, nuntutnya untuk mikirkan Blain, ngingatkannya betapa dia ncintainya, tetapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luapan emosi yang ngalir deras dalam dirinya untuk pria ini. Luapan emosi itu ngalir deras dalam dirinya, luap lewati tepiannya, dan luap.
Aku ingin dia njadi suamiku.
Ia begitu terpesona dengan lelaki ini, ia bahkan mbiarkan lelaki itu mbodohinya dengan kebohongan yang konyol. Namun ia lupakan semua itu, hanya ndengarkan suara hatinya.
"Aku ingin nciummu," bisiknya.
"Apapun yang kamu inginkan."
Ishakan miringkan kepalanya ke arahnya, dan Leah nciumnya, gangi wajahnya dengan kedua tangan. Bulu matanya bergetar karena kenikmatan ciuman Ishakan. Dia rasa sangat bahagia bersamanya. Lidah reka saling bertautan saat reka saling nghisap bibir, dan Leah ngerang, mabuk.
"Hmm, ahh..."
Ketika suara itu nghilang, dia terlambat ngingat pengejarnya dan ncoba noleh ke belakang, tetapi Ishakan segera nangkap dagunya.
"Jangan berpaling, Leah," katanya, dan nciumnya lagi, lidahnya nggali dalam-dalam. Leah nggigil karena belaian lidah, dan bibir reka terbuka dengan suara lembut dan basah. Matanya bertemu dengan matanya, penuh gairah, dan dia ncium seluruh wajahnya.
"Isha..." Nama itu terucap lemah, dan matanya dipenuhi rasa puas, pupil mata emasnya mbesar. Dan dia mbuat keputusan.
Dia tidak lakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Dia tahu apa yang salah. Namun, saat dia bimbang di antara dua jalan di hadapannya, Leah, Putri Estia, milih jalan yang salah. Dia akan ninggalkan segalanya.
"A...aku ingin pergi jauh."
Reviews
All reviews (0)