Dengan penuh kasih sayang, Blain nyelipkan rambutnya ke belakang telinganya, dan Leah tanpa sadar nahan napas sejenak. Sesaat, ia lihat Cerdina dalam diri lelaki ini. Ketakutan njalar dalam dirinya seolah-olah lelaki itu bukanlah lelaki yang ia cintai, lainkan seseorang yang akan nyakitinya.
"Setelah pernikahan, kau boleh lakukan apa pun yang kau mau, jadi dengarkan aku sampai saat itu," bisik Blain sambil ncium punggung tangannya. "Aku akan sering ngunjungimu."
Ia ndorongnya ke dalam kereta. Pintunya tertutup dan rodanya langsung berputar. Setelah waktu yang lama, kereta itu tiba di sebuah kebun buah persik di pinggiran ibu kota. Di tengah kebun buah itu, ada sebuah rumah kecil yang nyaman.
Kebun buah yang luas itu mberi kesan seperti labirin, jadi seseorang yang tidak tahu jalan tidak akan bisa dengan mudah masuk atau keluar. Tempat itu tampak seperti tempat yang dibangun bangsawan yang tidak punya kegiatan lain untuk ngurung majikannya. Sekarang Leah terkunci di tempat ini, seperti burung dalam sangkar.
"..."
Ia tak dapat mpercayainya. Berdiri sendirian di kamar tidur yang tak dikenalnya, Leah tersenyum sedih. Sekarang siapa yang akan nangani semua urusan negara, dan berbagai tugas yang berkaitan dengan pernikahan? Bahkan jika ia dapat bekerja dari tempat ini, itu tentu tidak dapat dibandingkan dengan kenyamanan bekerja dari kantornya sendiri di istananya sendiri.
'Bagaimana bisa seseorang berperilaku seperti ini tanpa alasan!'
lepas cincin pertunangannya, dia lemparkannya ke tempat tidur. Bibirnya ngerucut saat dia mondar-mandir di sekitar ruangan.
Mungkin dia nyadari perubahan dalam dirinya. Dulu, dia selalu nempel padanya dengan sekuat tenaga. Apa pun yang terjadi, dia selalu berusaha nyenangkannya, dan nyalahkan dirinya sendiri saat dia marah. Dia tertawa dan nangis ndengar setiap kata, setiap gerakan, setiap tindakannya. Yang bisa dia pikirkan hanyalah nyenangkannya.
Namun tidak sekarang. Sekarang, ada orang lain yang lebih dipikirkannya daripada Blain. Begitu dia terkunci di sini, hal pertama yang ada di pikirannya adalah pria itu...
Leah berhenti. Lalu dia bertanya pada dirinya sendiri.
Apa yang ingin saya lakukan?
Mungkin dia sudah tahu jawabannya, tetapi sebagian kesadarannya nghindarinya. Kebenaran yang sulit dipahami itu terlepas dari genggamannya.
Di persimpangan jalan, dia lihat cincin pertunangan yang tergeletak di tempat tidur. Setelah mpertimbangkan cukup lama, dia masangkannya kembali ke jarinya.
Begitu amarahnya reda, dia kembali sadar. Blain seperti bom waktu sekarang dan bisa ledak kapan saja, tetapi itu berarti dia harus tetap tenang dan tidak langgar perintahnya.
Namun, tak lama kemudian, ia nemukan masalah besar lainnya. Kehidupan di kebun tidak seburuk itu, skipun kebebasannya telah direnggut sepenuhnya. Setidaknya kebun itu dipenuhi tanaman segar, tidak seperti istana. Bahkan udaranya terasa lebih bersih.
Masalahnya adalah teh Cerdina.
Setelah nyantap makanan Kurkan, perut Leah terasa jauh lebih baik, ia tidak rasa banyak ketidaknyamanan saat makan, jika ia makan dalam jumlah sedikit. Namun setiap kali ia minum teh, sakit perutnya semakin parah. Dengan dayang-dayang yang ngawasi setiap gerakannya, sulit baginya untuk minumnya lalu muntahkannya, seperti yang ia lakukan di istana. Jadi ia tidak punya pilihan selain nelannya setiap hari. Namun setelah nderita sakit perut yang parah, ia harus ngambil beberapa risiko.
Setelah beberapa hari pengamatan, dia ngetahui bagaimana beberapa dayang dan lima puluh ksatria njaga vila kebun. Sekilas, keamanan reka tampak sangat ketat, tetapi dia nemukan beberapa kekurangan yang signifikan.
Blain tidak pernah mperhatikan hal-hal seperti itu, jadi mungkin dia tidak nyadarinya. Jika dia nyadarinya, dia akan ningkatkan keamanan bahkan jika dia harus nyewa tentara bayaran.
Setelah mahami dengan jelas langkah pengamanan tersebut, Leah mberanikan diri. Di tengah malam, saat para wanitanya sedang tidur, dia diam-diam keluar dari tempat tidur. Dia ngambil selembar kertas kecil dan pena bulu, lalu nulis sebuah catatan di bawah sinar bulan.
Aku tahu kamu sedang mperhatikanku.
Hanya beberapa kata saja yang dibutuhkan. Dia hanya nulis satu kalimat lagi.
Tolong bantu saya.
Ia naruh catatan itu di ambang jendela, lalu mberatkannya dengan salah satu permatanya agar tidak tertiup angin. Ia berdiri cukup lama dan natap bulan yang bersinar di langit, lalu akhirnya nutup jendela.
Keesokan paginya, ketika dia lihat ke ambang jendela, catatan itu telah hilang.
Reviews
All reviews (0)