Font Size
15px

Lady Mirael bersenandung gembira sambil ngangkat gaun baru yang akan dikenakannya. Berdiri di depan cermin, saat ini hanya kalung dan anting mahal yang nghiasi tubuh telanjangnya. Dia bangga dengan bentuk tubuhnya yang nggairahkan dan berpose beberapa kali di depan cermin, sambil mikirkan Cerdina. skipun dia telah lakukan beberapa kesalahan dalam upayanya untuk lakukan yang terbaik, Cerdina selalu nghiburnya dengan penuh kasih sayang.

"Bagaimanapun juga, Ibu Suri ada di pihakku."

Cerdina-lah yang manggil Mirael ke istana. Ia bahkan telah nemuinya secara pribadi dan rintahkan Mirael untuk nyerahkan dirinya kepada Yang Mulia dengan sepenuh hati. Dan usahanya telah mbuahkan hasil. Hanya Lady Mirael yang tetap berada di sisi Blain, skipun ia nggantikan pendampingnya yang lain hampir setiap hari.

Namun akibatnya, dia njadi serakah.

Sambil bercermin, Lady Mirael ngagumi pesona seksualnya sendiri, terutama jika dibandingkan dengan tubuh ramping Putri Leah. Wanita itu tampak seperti akan tertiup angin. Tidak mungkin tubuhnya sanggup nghadapi kehamilan dan persalinan. Mual di pagi hari saja sudah mbuatnya pingsan.

Mirael ingin nggantikan Ratu. Namun, jika ia tidak bisa, jika saja ia bisa miliki Putra Mahkota di dalam perutnya...hidupnya akan berubah total.

Namun, saat teringat bagaimana sang putri nghinanya, Mirael ngerutkan kening. Putri Leah tidak nyukainya sejak pertama kali reka bertemu. Ia selalu bersikap kasar saat lihat Blain berhubungan seks dengan Mirael, seolah-olah itu adalah sesuatu yang njijikkan. Namun, Blain selalu bersikap baik kepada sang putri, jadi Mirael tidak lakukan apa pun untuk mperbaiki perilakunya itu.

Dia tahu bagaimana nangani anjing-anjing betina itu. Setelah reka dihajar dengan benar, reka jinak dan patuh.

Sambil tersenyum, Lady Mirael ngenakan gaunnya. Di belakangnya, seorang pria diam-diam ndekat dan ncengkeram pantatnya, tersenyum nakal karena keterkejutannya. Awalnya, dia cemberut, tetapi segera tersenyum.

Dia adalah seorang ksatria yang bekerja di istana sang putri. Awalnya Lady Mirael njalin hubungan hanya karena dia rasa itu perlu, tetapi dia justru manfaatkan keuntungannya.

"Apa yang akan kamu lakukan malam ini?" tanyanya sambil tersenyum.

"Oh, aku ingin nghabiskan waktu bersamamu..." Dia nggelengkan kepalanya dengan penuh penyesalan. "Tapi tidak malam ini. Kami semua bersiaga sentara sang putri dikurung.

"Terkurung?" tanyanya heran.

"Ya, dia akan dibawa ke sebuah vila di luar istana. reka mungkin akan mbawanya kembali sebelum pernikahan. Aku akan ke sana hari ini."

Ksatria itu natapnya dengan waspada saat berbicara. Dia tampak khawatir hal ini akan mbuatnya marah, tetapi pikirannya tertuju pada hal lain.

"Di vila, keamanannya akan lebih lemah daripada di istana, kan?" tanyanya, setelah berpikir sejenak.

"Kurasa begitu."

"Hmm... begitu." Lady Mirael tersenyum penuh arti.

***

Leah tahu Blain tidak stabil secara ntal. Namun, dia tidak pernah nyangka Blain akan lakukan hal seperti ini.

Beberapa saat setelah dia dipenjara, Blain datang ke istananya.

Ia pikir ia bisa berbicara dengan pria itu dengan cara yang masuk akal. Ia berharap akan ada penjelasan yang bisa nyelesaikan situasi aneh ini. Namun harapan-harapan kecil itu hancur berantakan.

"Ikuti aku."

Begitu dia tiba, Blain ncengkeram pergelangan tangannya, mbuatnya terhuyung saat dia nyeretnya ke arah pintu.

"Yang Mulia! Yang Mulia...!" teriaknya berulang kali, tetapi Blain ngabaikannya. Matanya mbelalak saat dia nyeretnya keluar dari istana. Sebuah kereta kuda nunggu di luar. – Hanya diposting di Novel Utopia

"Aku sudah mbeli sebuah vila, jadi kau akan tinggal di sana sampai hari pernikahan," katanya sambil nariknya ke kereta kuda. "Aku mbelinya dengan tergesa-gesa dan belum ada renovasi yang dilakukan, jadi mungkin ada beberapa kekurangan..."

"Yang Mulia!" Akhirnya, dia berhasil lepaskan diri dan ndorongnya. Tubuhnya negang begitu mata reka bertemu. Tatapan mata birunya dipenuhi kegilaan.

"Kau ncintaiku, Leah." Ia remas bahu Leah dengan kedua tangannya. "Kau harus lakukan apa yang kukatakan."

Dia terengah-engah. Leah natapnya.

"Bukankah Yang Mulia juga ncintaiku?" tanyanya.

"..."

"ngapa kamu selalu mbuatku lakukan hal-hal yang tidak kusuka? Aku tidak ngerti..."

Tiba-tiba, senyum muncul di wajahnya yang tanpa ekspresi. Hal itu mbuat Leah rasa sangat tidak nyaman.

"Lea."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 217: Terkunci 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.