Perlahan, Leah rentangkan kakinya, nahan tubuhnya agar tetap terbuka dengan jari-jarinya. Udara nyentuh daging rah mudanya yang terbuka dan mata pria itu natapnya, mbuatnya rah karena malu dan gembira. Basah nyelimutinya dan dia rasakan geli yang kuat di dalam.
"Ah..."
Ia bisa rasakan cairan ngalir dari dalam dirinya. Ishakan dengan lembut ngusap-usap cairan itu dengan jarinya, ngalirkannya ke bibir bawahnya yang bengkak.
"Apakah kamu sudah bersemangat?" tanyanya sambil tersenyum saat jari-jarinya yang basah perlahan nembus vaginanya. Paha Leah bergetar karena sensasi jari-jari yang panjang dan keras itu bergerak di dalam dirinya. "Kamu basah."
Dia ingin mbela diri, tetapi dia tidak bisa mbantah. Dia begitu basah, siapa pun mungkin ngira dia telah ngompol. Dinding bagian dalam yang rapat nempel pada jari-jarinya, remas. Itu adalah upaya untuk ngusir para penyusup, tetapi dia tidak mundur. Sebaliknya, dia hanya ndorong lebih dalam.
Ketika jari-jarinya yang panjang sudah masuk jauh ke dalam, ia mulai nggesernya masuk dan keluar, jari-jarinya nggeliat cepat dan panik untuk rangsang kenikmatannya. Setiap kali jari-jarinya ncapai bagian dalam, seluruh tubuhnya terasa geli, dan napasnya terengah-engah, suara keluar dari tenggorokannya.
"Hmm, ahhhh..." Leah ngerang, kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tangannya, yang tadinya nahan kedua kakinya, terlepas.
"Hmm, aku tidak kuat lagi nahannya...!" Ucapnya putus asa.
"Kalau begitu sentuh ini..." Ishakan ngubah posisinya, nyodorkan sesuatu ke tangannya, lalu nertawakan ekspresi terkejutnya.
Leah nerimanya tanpa berpikir, dan sekarang dia ternganga karena terkejut.
Ya Tuhan, apa ini? Seekor ular...?
Dia hanya pernah lihat kejantanan Blain sebelumnya, dan Mirael yang ngerang sering nyatakan bahwa kejantanannya lebih besar daripada kejantanan pria lain. Namun, kejantanannya tidak sebanding dengan kejantanan Ishakan. Dia belum pernah lihat yang seperti itu dan natapnya seolah-olah itu adalah ular berbisa.
"Ini milikmu," kata Ishakan padanya, dan dia rasakan panasnya benda itu di tangannya. "Kamu suka ini."
Leah begitu kurang ajar saat ia berbaring tak bergerak, begitu bingung hingga ia bahkan tidak bisa mbantah, ternganga lihat kejantanannya di tangannya. Erangan keluar darinya saat ia perlahan ngusap kejantanannya di telapak tangannya. Pemandangan kejantanan yang sangat besar di tangan putih mungilnya benar-benar tidak senonoh. Leah rasa seolah-olah wajahnya akan terbakar.
"Ini, ini, ini, ini berlebihan..." Dia tergagap. Dia bahkan tidak bisa ngucapkan kata-kata itu. Namun kemudian dia natapnya.
"..."
Itu bukan sekadar gairah di mata emasnya yang cerlang. Matanya dipenuhi kasih sayang. Ia berbaring miring di sampingnya, perlahan-lahan masukkan dan ngeluarkan jari-jarinya.
"Gerakkan tanganmu, Leah," erangnya, dan saat Leah mulai ngusapnya dengan canggung, dia ngerang lagi, dahinya berkerut karena kenikmatan.
Tangannya yang lain luncur ke pantatnya, mbelai punggungnya untuk nangkap lehernya dan mbawanya kepadanya untuk dicium. Saat reka berciuman dengan penuh nafsu, jari-jarinya terus luncur masuk dan keluar darinya, dan jari ketiga bergabung dengan dua jari pertama di dalam dirinya.
Ia ngembuskan napas panas dan njilati bibirnya. Leah gang kejantanannya dengan kedua tangannya, pusing karena gairah. Namun, semakin kuat kenikmatannya, semakin besar rasa bersalah yang ia rasakan, dan nama Blain terus muncul di benaknya.
Emosi mbanjiri dirinya, begitu rumit dan mbingungkan hingga akhirnya ia nangis. Ishakan langsung berhenti.
"Apakah sakit?" tanyanya lembut, dan wanita itu nggelengkan kepalanya. Tidak sakit. Itulah masalahnya. Wanita itu tidak rasa jijik, hanya kenikmatan yang liar dan nakutkan. Wanita itu begitu bingung hingga kebenaran itu terungkap tanpa bisa dihentikan.
"Aku lakukan ini... ngkhianati tunanganku..."
Mulut Ishakan terpelintir. Jari-jarinya kembali luncur ke dalam dirinya, raih jauh ke dalam dirinya.
"Kamu salah."
"Ahh...!" Erangan itu ledak darinya saat jari-jarinya bergerak dengan panik di dalam dirinya. Seolah-olah dia baru saja nggodanya sebelumnya, dan dia dibanjiri kenikmatan, jari-jarinya ngeluarkan suara basah saat bergerak. Tubuhnya kejang dan tangannya ngencang, ncengkeram kejantanannya, yang nghasilkan aliran cairan bening sebelum ejakulasi.
Dia ingin lepaskannya, namun Ishakan ncengkeram satu tangannya di atas kedua tangannya, nggerakkannya seirama dengan usapan jari-jarinya di dalam dirinya.
"Kau tidak tahu apa-apa..." bisiknya sambil natap matanya. "Kau seharusnya tidak ngatakan itu."
Reviews
All reviews (0)