Font Size
15px

Dia malu karena dia begitu tertarik secara fisik kepadanya, tetapi dia juga ingin tahu ngapa dia tidak nolaknya seperti yang dilakukan semua pria lain. Dan sungguh, rasa ingin tahu hanyalah sebuah alasan. Bahkan dengan pertanyaan-pertanyaan itu, hasratnya tetap ada.

Dia ingin berbaring dengan pria ini.

Namun, begitu ia rasakan dorongan seksual itu, sebuah peringatan bergema di benaknya, dan ia teringat kenyataan reka. Pernikahannya sudah begitu dekat, dan ia bahkan belum ngizinkan tunangannya nyentuhnya...

Terlambat, kesadarannya bangkit dan jantungnya berdebar kencang. Namun Ishakan pun mahami dilema ini, tanpa harus ngucapkan sepatah kata pun.

"Pria itu sudah tidur dengan banyak wanita simpanan, kenapa kau harus setia?" tanyanya, dan wanita itu tidak bisa mbantah. Jari-jarinya mbelai bibir lembut wanita itu. "Aku hanya ingin kau rasa lebih baik sejenak."

Rasa ingin tahu mbuka jalan nuju neraka. Karena tidak mampu nahan godaan, Leah akhirnya nggigit apel yang ditawarkannya.

"...Ya, aku penasaran," katanya pelan, sambil natapnya. "Apa yang akan kau lakukan?"

Selimut yang nutupi tubuhnya terlempar ke samping dan Ishakan tiba-tiba berada di atasnya, dia berkedip. Dia seperti binatang buas yang nerjang mangsanya.

"Di pagi hari..." Tubuhnya negang ndengar kata-kata nggoda itu, dan Ishakan tersenyum. "...dan juga di malam hari, aku akan mbuatmu hanya mikirkan aku."

Tatapan dan suaranya begitu sum. Rasa panas njalar ke wajahnya, dan dia ngangkat tangannya untuk ndinginkan pipinya. Pria itu begitu lembut, dia tidak bisa nahan diri untuk tidak cemberut, sedikit tidak nyaman.

"Kedengarannya seperti sesuatu yang akan dikatakan seorang penggoda wanita."

"Tidak semua seperti yang terlihat."

"..."

Bibirnya ngerucut, dan dia gang tangannya. Cincin pertunangan yang berat terlepas dari jarinya.

"Kita kesampingkan masalah ini untuk sentara."

Untungnya, dia tidak mbuangnya atau nyembunyikannya, hanya naruhnya di nakas di samping tempat tidur. Tangannya terasa lebih ringan tanpanya, dan dia regangkan jari-jarinya.

Sambil gang ujung gaun tidurnya, Ishakan perlahan-lahan nggesernya ke atas, kainnya terasa geli saat nyentuh kulitnya. Leah tidak protes saat Ishakan nanggalkan pakaiannya, pertama-tama mperlihatkan pakaian dalamnya, lalu lekuk perutnya yang mbulat, dan akhirnya lepaskan gaun tidurnya sepenuhnya.

Payudaranya agak bengkak akhir-akhir ini, mbuat bra-nya ketat dan tidak nyaman, jadi dia lepas branya malam itu sebelum tidur di istana. Tanpa gaun tidur, payudaranya terlihat oleh Ishakan, yang riksa setiap inci tubuhnya seolah-olah sedang ncari luka.

Namun, saat pertama kali bertemu dengan pria ini, dia nangis di samping air mancur dengan pipi yang bengkak dan tegang akibat tamparan Blain. Mungkin pria itu khawatir bahwa dia akan diperlakukan buruk lagi sejak saat itu.

Sungguh nggelikan. Orang asing ini lebih ntingkan dirinya daripada tunangannya. skipun Leah berusaha untuk tidak mikirkannya, dia tidak dapat nahan diri untuk tidak mbandingkannya.

Namun setelah ia lihat bagian tubuh lainnya, matanya beralih ke payudara putihnya dan terpaku di sana. Di bawah matanya, puting rah mudanya ngeras, dan tangannya yang besar remas payudaranya.

Leah narik napas dalam-dalam. Saat mata reka bertemu, Ishakan perlahan nundukkan kepalanya untuk nggigit payudaranya, nandai kulit putihnya, njilati putingnya dengan rakus. Itu sangat malukan, dia jamkan mata, tetapi itu hanya mbuat indranya yang lain njadi jauh lebih tajam.

Matanya terbuka dan ndapati Ishakan masih natapnya. Lidahnya njilati lembut di sekitar kemaluannya, ngirimkan sensasi aneh yang nusuk jauh di dalam perutnya. Saat dia nghisapnya ke dalam mulutnya, nggigitnya, panas yang mbakar mbuncah di dalam dirinya.

"Ah..."

Punggungnya lengkung tanpa sengaja, tubuhnya negang saat sensasi aneh nyebar ke atas di antara kedua kakinya. Bagian dalam tubuhnya tiba-tiba basah dari suatu tempat yang dalam, seolah-olah tubuhnya sedang bersiap untuk apa yang akan datang.

Tangan yang remas payudaranya yang lain luncur ke bawah, dengan lembut lepaskan pakaian dalamnya. Seutas cairan tipis regang di antara kain tipis dan celah di antara kedua kakinya. Sangat malukan lihat basahnya pakaiannya, dia ingin nyambarnya dan nyembunyikannya di suatu tempat, tetapi untungnya Ishakan njatuhkannya dari sisi tempat tidur.

Satu tangan mijat lembut kakinya, lalu luncur ke atas ke pahanya dan rentangkan kedua kakinya.

Leah masih mikirkan kondisi pakaian dalamnya dan terlambat ncoba nutup pahanya. Ia tahu tubuhnya aneh dibandingkan dengan orang lain karena ia hampir tidak miliki bulu di tubuhnya. Ini adalah pertama kalinya ada orang yang lihat gundukan tubuhnya yang halus dan tidak berbulu, dan rasa malu mbakarnya.

Namun Ishakan tidak tampak terkejut. Ia raih tangan wanita itu dan letakkan jari-jarinya di tempat yang diinginkannya, di atas bibir bawahnya yang halus.

"Biarkan tetap terbuka," katanya.

"Apa...?"

"Kalau tidak, aku tidak akan bisa nyentuhmu dengan baik."

Leah lebih mahami bisnis ini daripada dirinya, dan jika Leah berkata bahwa ia mbutuhkannya untuk lakukan ini, Leah tidak tahu apa-apa. Leah rcayainya dan nurutinya.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 211: Naluri 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.