Font Size
15px

Tangga kayu berderit keras saat reka nuju lantai dua penginapan. Ishakan naikinya dengan mudah, skipun tangga itu tampak akan runtuh di bawahnya dengan satu langkah yang salah, lalu pergi ke kamar di ujung koridor panjang.

Kamar itu lebih kumuh daripada kandang kuda, tetapi anehnya rapi, dan entah ngapa terasa lebih nyaman daripada istana yang glamor. Ishakan lepas jubahnya dan mbaringkannya di tempat tidur, lalu dengan santai berbaring di sampingnya. Ketakutan dan masih sedikit linglung, dia langsung bergerak ke tepi tempat tidur, punggungnya nempel di dinding yang dingin.

Ishakan ngerutkan kening sambil mperhatikannya.

"Aku tidak akan lakukan apa pun," katanya sambil nariknya ke dalam pelukannya. "Tidurlah. Saat kau mbuka matamu, kau akan kembali ke istana sang putri."

Anehnya, kata-kata itu langsung nenangkan pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Leah jamkan matanya.

Apakah dia benar-benar kehilangan ingatannya?

Ada kemungkinan bahwa pria ini ncoba manipulasinya. Namun, sekeras apa pun ia berusaha, ia tidak dapat nemukan alasan ngapa pria itu lakukannya.

Leah nyadari dengan terkejut bahwa dia mungkin benar-benar mpercayainya.

Sedikit. Sulit untuk ragukannya. Entah ngapa, dia rcayainya. Entah bagaimana, kehadiran pria ini mbuatnya rcayainya. Perlahan, matanya terbuka, dan nemukan mata emas itu natapnya. Dalam keheningan, napas reka saling bertautan.

Dia natapnya tanpa berkedip, dan dia nelan ludah. ​​Ada ketegangan aneh di tubuhnya, dan naluri rasa bahaya. Semakin lama reka saling natap, semakin gugup dia, dan akhirnya dia terpaksa ngalihkan pandangan terlebih dahulu.

"..."

Jantungnya berdetak sangat cepat saat ia maksakan diri untuk ngembuskan napas pelan. Ada sensasi geli di perutnya.

Dia selalu berpikir bahwa dia jijik dengan tubuh pria. Itulah satu-satunya penjelasan yang mungkin ngapa dia tidak bisa maksakan diri untuk berhubungan seks dengan Blain. Namun, dia salah.

Ia ingin nyentuh pria di hadapannya. Ia ingin mbelainya dengan tangannya, njilatinya dengan lidahnya, nggigitnya dengan giginya. Ia belum pernah rasakan dorongan ini terhadap Blain.

Dia akan nghancurkan hidupnya jika dia mbiarkan dirinya nyerah pada emosi-emosi berbahaya ini. Namun, skipun dia tahu persis masa depan suram yang akan dihadapinya, dia tidak dapat nahannya. Dia ncengkeram selimut itu seperti perisai, tetapi akhirnya, dia tidak dapat nahannya lebih lama lagi.

Bibirnya terbuka. Napasnya tersengal, dan dia natap mata pria itu. Dan saat mata reka bertemu, pria itu nerjang ke arahnya seolah-olah dia baru saja nunggunya.

"Hm..."

Ciuman reka begitu liar. Pria ini mbuatnya rasakan kenikmatan yang sama seperti sebelumnya. Tidak, ciumannya bahkan lebih nikmat dari sebelumnya. Saat dia nggigit bibir dan ngusap lidahnya, dia ngerang dalam-dalam di tenggorokannya. Tubuhnya nggeliat malu karena kenikmatan. Dia belum pernah rasakan hal seperti ini sebelumnya.

Tangannya yang besar ncengkeram payudaranya, remasnya dengan kuat. Putingnya ngeras di antara jari-jarinya, nonjol lalui gaun tidurnya yang tipis saat dia ngusapnya. Kenikmatan yang nggetarkan terpancar dari putingnya yang kecil dan kencang dan Leah ngangkat bahunya, ncoba untuk nariknya kembali. Namun Ishakan tidak mundur. Pahanya ndorong di antara kedua kakinya dan ke atas, nggeseknya.

"Ah...!"

Leah narik diri, mutus ciuman. Nalarnya telah ninggalkannya dalam luapan kenikmatan, tetapi nalar itu langsung muncul kembali.

Mata Ishakan lengkung saat dia tersenyum.

"Tidakkah kau ingin lakukan sesuatu yang lebih baik?" tanyanya, dan nggerakkan pahanya sedikit, rangsang tempat terlarang di antara kedua kakinya. Leah nggigil. Ketika ia remas kedua kakinya, ia hanya mbuat pahanya basah, dan ia bisa rasakan kelembapan yang aneh dan malukan.

Nalar bertarung dengan naluri, badai rasa bersalah dan kesenangan. Pikirannya kacau saat dia nggodanya, dengan lembut remas salah satu puting ketat yang nonjol di balik gaun tidurnya dengan jari-jarinya.

"Aku akan mbuatmu rasa lebih baik." Tangannya yang lain nyelinap ke balik gaun tidurnya dan Leah nutup mulutnya dengan tangannya karena sentuhan itu terasa sangat nikmat. Jika tidak, dia akan ngerang seperti binatang buas.

Jari-jarinya nyentuh bagian tubuh yang paling intim. Tubuhnya terasa geli saat dia ngusapnya lalui pakaian dalamnya. Matanya terpejam, nyembunyikan rasa lapar yang ingin lahapnya seketika.

"Apakah kamu tidak penasaran, Leah?"

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 210: Naluri on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.