Font Size
15px

Perlahan, Blain berjalan lalui istana yang gelap dan suram. lalui jendela-jendela tinggi yang mbentang dari lantai hingga ke langit-langit, hujan turun tanpa henti. Kilatan tiba-tiba nerangi malam dan kilat itu seperti bekas luka di langit hitam, diikuti oleh gemuruh yang ngguncang langit dan bumi.

Blain terus berjalan, acuh tak acuh terhadap badai.

Para Tomari yang duduk di lantai koridor natapnya saat dia lewat. skipun reka berpakaian seperti pelayan, perilaku reka tetap saja kasar dan tidak sopan. reka bahkan tidak nunjukkan rasa hormat yang pantas, hanya nyenandungkan lagu dalam bahasa yang tidak dia ngerti.

mbuka pintu kamar Cerdina, dia ndapati bagian dalamnya hangat, dan lihat siluet tubuh wanita lalui tirai tempat tidur.

"Bukankah kau bilang aku akan ndapatkan hatinya?" tanyanya serius.

Sambil turun dari tempat tidur, Cerdina ngenakan sepasang sandal. Ia hanya ngenakan gaun tidur satin, tetapi ia tidak ngontari fakta bahwa lelaki itu baru saja mbangunkannya di tengah malam. Ia hanya ngerutkan kening.

"Kenapa? Leah tidak mau ndengarkanmu? Dia tidak ngatakan kalau dia ncintaimu?"

Bibir Blain ngerut. "Itu berbeda."

Setelah Leah dibawa kembali ke istana, Blain hanya rasa puas selama seminggu. Tidak butuh waktu lama untuk nyadari ada yang salah. Ini bukanlah cinta yang diharapkannya. Tidak ada senyum cerah, tidak ada percakapan akrab, tidak ada lelucon penuh kasih yang diinginkannya.

Ketika dia bertanya, Leah akan berkata bahwa dia ncintainya, seperti narik tali pada boneka yang rusak. Cintanya sepenuhnya didasarkan pada apa yang telah dialaminya dengan orang biadab itu. Kenangannya tentang pria itu telah digantikan oleh Blain. Karena itu, dia masih belum ndapatkan apa yang diinginkannya.

Dua bulan telah berlalu sejak dia kembali ke istana. Namun hubungan reka mandek. Dia tidak benar-benar ncintainya. Rasa frustrasinya terhadap ketidaksesuaian itu ndorongnya ke tepi jurang, dan kegilaan dalam darahnya semakin mburuk setiap hari.

"Dia tidak ncintaiku seperti dia ncintai pria itu."

Cerdina natapnya tanpa bersuara. Ia telah berganti pakaian, tetapi rambutnya masih basah karena hujan, dan tetesan air netes di wajahnya. Sambil lirik ke jendela, bulu matanya yang panjang berkibar saat ia lihat hujan lalui celah-celah tirai.

"Kau bersikap terlalu lembut. Kau juga tahu itu." Ada sedikit nada kesal dalam suaranya. "Gadis itu milikmu, Blain. Kendali ada di tanganmu."

Sambil langkah ndekati Blain, dia ngusap rambutnya yang basah.

"Jangan biarkan Leah ngalahkanmu. Oke?"

Dia tidak njawab, dan dia ndesah.

"Mungkin kau khawatir karena dia masih hidup," gumamnya. Sambil nggoyangkan jari-jarinya, asap hitam muncul di ujung jarinya. "Aku akan ngubah utusan dari setiap negara yang nghadiri pernikahanmu njadi boneka. Orang-orang barbar akan berlutut di hadapanmu."

Asap hitam ngepul lalui celah-celah kecil di jendela, dan suara hujan pun reda, lalu nghilang. Sambil nyingkap tirai, Cerdina lihat ke luar jendela. Hujan telah berhenti. Sambil tersenyum, ia kembali natap Blain.

"Sekarang aku tidak ada bedanya dengan dewa."

"Kau bahkan tidak bisa mberikan hatinya kepadaku," kata Blain dengan nada ironis. "Kau terlalu banyak bicara."

Senyumnya mudar. Kata-katanya keluar dengan arogan, seolah-olah seluruh dunia sudah njadi miliknya.

"Jika kita mbunuh orang barbar itu..."

Namun, dia terdiam. Angin sepoi-sepoi yang sejuk berhembus ke dalam ruangan dari jendela saat kehangatan nghilang di luar.

"Aku tidak butuh mahkota, takhta, atau benua. Itu keinginanmu. Aku hanya nginginkan satu hal sejak awal." Blain ngancam. "Tolong tepati janjimu, Ibu."

***

Ironisnya, setelah namparnya, Blain telah nunggunya di depan istananya untuk waktu yang lama. Setelah dia ngeringkan tubuhnya dan berganti pakaian, dia ngoleskan salep ke pipinya yang bengkak, dan baru ninggalkannya setelah dia tertidur.

Keesokan paginya, Leah bangun pagi-pagi sekali. Namun, alih-alih segera bangun, ia berbaring di tempat tidurnya beberapa saat sambil berpikir.

Biasanya, dia akan ngabaikan apa yang telah dilakukannya, atau maafkannya karena dia ncintainya. Namun kali ini tindakannya mbekas dalam benaknya. Dia telah mperlakukannya seperti objek. Dia telah mpermalukannya.

Mungkin karena pria aneh yang ditemuinya.

Raja Kurkan...

Ia berusaha keras nyingkirkan lelaki bermata emas itu dari pikirannya. Sepertinya keamanan di sekitar istana perlu ditingkatkan.

Harinya dimulai seperti biasa. Countess lissa datang untuk nemaninya, dan Leah ndengarkan jadwal hariannya dan mutuskan untuk sarapan ringan di kamarnya.

Namun, begitu makanan dibawa ke kamarnya, Leah ngerutkan kening. Dagingnya sangat bau, sangat tidak enak. skipun dia belum makan apa pun, dia rasa ingin muntah.

Tepat saat dia sedang nimbang-nimbang apakah akan nghabiskan sarapannya, pintu kamarnya terbuka tiba-tiba, tanpa ada yang ngetuknya.

"Selamat pagi, Leah."

Sambil tersenyum, Cerdina masuki ruangan itu seolah-olah ruangan itu miliknya sendiri. Pandangannya beralih ke piring-piring di depan Leah.

"Kamu sedang makan?"

Sebuah pikiran spontan terlintas di benak Leah.

'Dia tidak bisa ngetahuinya.'

Leah tidak ngerti ngapa Cerdina tidak boleh tahu, tetapi dia nyembunyikan rasa mualnya di balik senyuman santai.

"...Ya, aku sudah makan."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 194: Sembuyikan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Abandoned Woman Busy Farming cover
Similar genre

Abandoned Woman Busy Farming

Qingka ·Romance

Thecharmoffarminglifeinspringtimeisprofound. Transmigratedintothelifeofapregnantabandonedwife,BaiRuozhuresolvedtoliveofftheland,thewater,andthespac...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.