Font Size
15px

Dalam salah satu kenangan masa kecil Blain, ia teringat sesuatu yang pernah diceritakan ibunya kepadanya, saat ia masih berambut pirang.

—Mulai hari ini dan seterusnya, kau akan njadi bangsawan Estian.

Bahkan saat masih kecil, Blain tahu bahwa para bangsawan Estia terlahir dengan rambut perak. Namun, setelah Cerdina nyuruhnya minum cairan aneh, rambutnya mulai berwarna perak. Tiba-tiba, ia masuki istana, dan semua orang manggilnya Pangeran.

Tempat itu dipenuhi orang-orang yang iri dengan perubahan statusnya yang tiba-tiba dan mbencinya karena dia adalah hasil hubungan gelap. Sulit bagi seorang anak kecil untuk nghadapi perlakuan seperti itu. Blain mbenci istana. Dia minta Cerdina untuk pulang, tetapi Cerdina nolak. Cerdina berkata dia akan lakukan apa pun yang diminta Blain, tetapi tidak untuk ini.

Hari-hari itu ngerikan. Suatu hari, ia dipanggil untuk makan bersama ayahnya, sang Raja. Blain berjalan ke istana utama, wajahnya tanpa ekspresi. Ia tidak suka harus manggil seorang lelaki tua sebagai ayahnya, terutama ketika reka tidak miliki darah yang sama. Ia tidak ngerti bagaimana ibunya bisa masuk ke istana dengan kebohongan yang begitu kentara.

Saat dia berjalan, para pelayan di belakangnya tiba-tiba lihat ke arah yang sama dan mulai bergumam. Blain ngikuti mata reka dan lihat pohon persik di kejauhan, di sisi istana, di tempat yang tersembunyi. Di antara bunga-bunga rah muda yang sedang kar, ada tangan putih kecil.

Tangan itu ncoba raih bunga di ujung dahan, dan akhirnya tiknya tepat saat dahan itu patah. Semua petugas tersentak dan berteriak serempak.

- Putri!

reka ngira dia akan jatuh, tetapi sang putri tiba-tiba muncul kembali di antara bunga-bunga dan dedaunan, sambil gang bunga itu. Rambut peraknya bersinar seperti air terjun di bawah sinar matahari musim semi. Sambil tersenyum, gadis berambut ungu itu nyapa Blain.

— Halo...! Katanya ramah. Anda pasti Blain.

Cabang-cabang pohon bergoyang, njatuhkan hujan kelopak bunga. Blain ternganga natap gadis itu tanpa nyingkirkan kelopak bunga yang jatuh di wajahnya. Ia tidak bisa ngalihkan pandangan dari pipi rah muda gadis itu, selembut buah persik.

Bagi Blain, dia tampak seperti buah segar. Saat gadis itu manjat pohon dengan tangan kecilnya dan jatuh ke tanah, salah satu petugas dengan lembut marahinya.

— Kenapa kau datang ke tempat ini sendirian? Sesuatu bisa saja terjadi padamu jika kau lakukan itu...

Olan itu penuh dengan kasih sayang, dan sangat berbeda dari cara reka berbicara kepada Blain. Gadis itu ngerutkan kening, bibirnya ngerucut.

- Saya minta maaf.

— Jangan katakan itu, Putri. Keluarga kerajaan tidak perlu minta maaf secara tidak perlu.

Gadis itu tersenyum tipis, dan skipun para pelayan berusaha terlihat serius, reka akhirnya tersenyum balik. Gadis itu tiba-tiba nyodorkan bunga itu ke arah Blain.

— Kamu bisa milikinya.

Dia hampir terjatuh dari pohon untuk ngambil bunga itu. Sambil ngulurkan tangannya kepada Blain, dia nambahkan,

—Lain kali aku akan tik buah persik untukmu.

— ...

Tanpa berkata apa-apa, Blain ngambil bunga persik itu. Jantungnya berdetak sangat kencang. Sejak hari itu, ia selalu mbawa bunga itu di sakunya.

Bunga itu akhirnya mati, tetapi dia tidak mbuangnya sampai ulat-ulat muncul di kelopaknya dan bunga itu mulai berbau tidak sedap. Setelah itu, dia pergi nemui ibunya.

— Saya nginginkannya.

Cerdina ngerti apa yang diinginkannya. Dia tersenyum tipis.

—Itu adalah sesuatu yang tidak bisa Anda miliki saat ini, jawabnya. Tapi...

—Lalu , apa yang harus saya lakukan?

Senyumnya semakin lebar. Sama seperti saat dia ngatakan bahwa dia akan njadi bangsawan, dia berkata dengan tenang,

— Jadilah raja. Maka kamu akan miliki semua yang kamu inginkan di bawah kakimu dan kamu akan mandang rendah orang lain.

Ia telah lakukan segalanya untuk wujudkan kata-kata itu. Namun, bahkan setelah ia njadi Raja, ia masih belum ndapatkan apa yang diinginkannya. Yang telah dilakukannya hanyalah mbuat wanita itu, yang segar dan rah muda seperti buah persik, mulai mbusuk.

"..."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 193: Pohon Persik on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.