Font Size
15px

Leah bangkit dari tempat duduknya dan ngenakan jubah mandi. Begitu dia njauh dari makanan, dia rasa seolah-olah hidup kembali. Namun Cerdina pindah ke ja sarapan dan duduk.

"Kita ngobrol dulu sambil makan," katanya pada Leah sambil tersenyum. "Aku tidak mau ngganggu sarapanmu. Blain akan mbuat keributan."

Jika Leah nurunkan berat badannya, Blain akan nyalahkan ibunya. Cerdina nggelengkan kepalanya saat Leah dengan enggan duduk kembali.

"Bisakah kau nuangkan teh untuk kami?" Leah bertanya pada Countess lissa.

"Ya, Putri."

Leah tak berdaya ngangkat peralatan makannya, berusaha sebisa mungkin untuk tidak ncium bau makanan. Ia bisa rasakan tatapan tajam ke arahnya.

"Kamu terlihat tidak sehat."

"Saya sedikit sakit kepala. Terima kasih sudah ngkhawatirkan saya." Leah dengan santai masukkan sesuap makanan ke dalam mulutnya dan nelannya. Kemudian dia maksakan senyum.

Cerdina yang tidak bergerak dan tidak berkedip, mperhatikan tangan Leah yang bergerak secara kanis di bawah tekanan tatapan Ibu Suri. Sepanjang ingatan Leah, Cerdina selalu bersikap baik dan lembut padanya, tetapi Leah takut padanya tanpa tahu alasannya. Setiap kali dia berada di dekatnya, rasa takut ncengkeramnya seolah-olah telah terukir di tulang-tulangnya.

Leah tidak bisa mahaminya. Kepribadian dan cara berpikir reka benar-benar berbeda satu sama lain.

Setelah Blain naik takhta, Cerdina diberi gelar Ibu Suri, skipun tidak suka dipanggil demikian. Ia yakin gelar itu mbuatnya tampak tua.

Mungkin karena obsesinya dengan kemudaan dan kecantikannya, Cerdina tampak jauh lebih muda dari usianya yang sebenarnya. Sering kali ia suka rayu para kesatria muda di istana, dan kadang-kadang ia bahkan ngadakan pesta seks yang libatkan wanita lain. Itu bukan rahasia. Cerdina tidak berusaha nyembunyikannya, jadi bahkan Leah pun ndengarnya.

Itulah hal lain yang mbuat Cerdina sangat berbeda dari Leah. Terkadang dia bertanya secara terbuka apakah Leah pernah berhubungan seks dengan Blain. Namun, itu pun tidak terlalu ngganggu dibandingkan dengan kebencian murni yang terkadang terlihat di mata Leah.

Tanpa berkedip, Ibu Suri mperhatikan Leah yang ngunyah dan nelan pelan.

"Apakah ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Lea.

Senyum muncul di wajah Cerdina yang tanpa ekspresi.

"Tidak. Aku hanya nikmati lihatmu makan." Dia lirik makanan di depan Leah dan nunjuk. "Kau tidak suka itu?"

Itu adalah irisan tipis daging ham kering. Leah nghindarinya karena baunya yang tidak sedap, tetapi sekarang setelah Cerdina nunjukkannya, dia harus makannya. Sambil nusuk potongan daging tipis itu dengan garpu, dia naruhnya di atas sepotong roti dan nggigitnya. Cerdina mperhatikan saat dia ngunyah, nelan, dan nggigit lagi.

Countess lissa muncul sambil mbawa secangkir teh dan letakkannya di hadapan Ibu Suri, dan ia ngalihkan perhatiannya ke sana, lihat ke sekeliling ruangan alih-alih ke Leah. Begitu ia berhenti mperhatikan, Leah letakkan peralatan makannya, ngukur jumlah makanan yang telah ia konsumsi. Itu adalah jumlah yang biasa ia makan di pagi hari, tetapi ia ingin makan lebih sedikit.

Ada sensasi tidak enak di mulutnya begitu Countess mberi Leah secangkir teh, tetapi Leah minumnya dengan tenang, ndengarkan Cerdina mulai berbicara. Tidak ada yang berarti dalam ceritanya yang bertele-tele; dia hanya ngisi keheningan sentara Leah minum. Akhirnya, Cerdina bangkit dari kursinya.

"Aku harus pergi. Aku mbawakanmu teh herbal, kamu harus minumnya tiga kali sehari." Cerdina ngulurkan tangannya untuk nggenggam pipi Leah, natap matanya. "Jika kamu punya masalah, ceritakan padaku."

"...Ya, aku akan lakukannya. Terima kasih sudah rawatku."

Sebuah jari dengan lembut ngusap pipi yang ditampar Blain.

"Aku ncintaimu seperti anak kandungku sendiri." Cerdina ncium pipi yang rah dan bengkak itu, lalu pergi.

Begitu dia pergi, Leah noleh ke arah Countess.

"Ayo jalan-jalan sebentar."

reka berdua berjalan di taman di belakang istananya. Karena letaknya dekat, para wanita lain tidak perlu nemaninya.

Taman itu tampak kumuh. Semua bunga dan pohon telah mati, hanya nyisakan semak berduri berwarna abu-abu kehijauan. lihat keadaan taman yang nyedihkan itu, Leah noleh ke Countess.

"Saya kedinginan. Bisakah Anda mbawakan saya selimut? Dan teh untuk diminum? Saya akan berada di ja teh."

Perut Leah bergejolak saat ia lihat Countess kembali ke istana, dan ia berbalik untuk berjalan dengan tenang lewati taman. Begitu ia yakin Countess telah pergi, ia nghitung sampai tiga puluh dalam benaknya dan pergi ke semak-semak.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 195: Mual on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Love You Till the End cover
Similar genre

Love You Till the End

Xi Yan ·Romance

ShenChenstartslivingalifeofunrestrainedindulgencesincemarryingShiYu.Themostbeautifullovers’prattleshehaseverheardis“Iwillpunishthosewhomyouhaveoffe...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.