Saat lihat sekeliling, Leah noleh ke arah depan aula dan singgasana. Blain duduk di sana, ngenakan mahkota, dan Cerdina berdiri di sampingnya sambil tersenyum tipis.
Perlahan, Leah nutup matanya dan mbukanya lagi. Ia tahu masa depan yang nantinya. Terkurung dalam rumah boneka, njalani kehidupan yang lebih buruk daripada kematian. reka akan mpermainkannya seperti mainan sampai ia bosan, lalu reka akan mbuangnya.
Namun Leah telah rasakan kebebasan, dan rasakannya manis. Dengan hati-hati, ia gang belati di pinggangnya. Ia adalah sandera yang sangat berguna, sekarang setelah ia njadi pengantin Raja Kurkan. Namun ia tidak akan pernah mbiarkan reka manfaatkannya seperti itu. Di saat-saat terakhirnya, ia akan mbuat keputusannya sendiri. Tangannya ncengkeram belati dengan erat sambil mbisikkan kata-kata itu dalam benaknya.
Maafkan aku, Ishakan. Maafkan aku, aku ncintaimu.
narik belati dari sarungnya, dia ngarahkannya ke jantungnya tanpa ragu. Namun sesaat sebelum belati itu ngenai sasarannya, Blain bangkit dari singgasana dan ndorongnya.
"Ahhh!" Leah ngerang kesakitan, njatuhkan belatinya. Blain nendangnya njauh, mbuatnya layang ke sudut. Mata birunya yang berapi-api lotot.
Leah segera nancapkan giginya ke lidahnya. Ia dapat ndengar suara dagingnya sendiri terkoyak saat ia nggigit sekuat tenaga, rasakan darah. Namun, ia tidak mati. Sebelum ia dapat ncoba lagi, Blain telah masukkan jarinya ke dalam mulutnya.
"Kau benar-benar jalang sialan...!" Teriaknya saat wanita itu ncoba ludahkan jarinya.
Cerdina hanya tersenyum lihat kemarahannya. Perlahan, dia ndekat, nundukkan pandangannya ke arah Leah.
"Apakah kau bersenang-senang di padang pasir? Mantra itu sudah sedikit mudar." Dia ngeluarkan botol kaca kecil. "Tapi kau harus tinggal di rumah sekarang, Leah."
Blaise nyambar botol dari tangan Cerdina, mbungkuk di atas Leah. Leah lawan seperti orang gila. Leah nggigit jari-jarinya di mulutnya, ndorong saat lutut Blaise njepit pahanya, bergerak njauh darinya. Cerdina ngerutkan kening lihat pertunjukan yang tidak elegan itu.
"Jangan bergerak. Kamu tidak bisa lawan."
Tubuh Leah langsung mbeku. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berkedip. skipun ia berusaha keras agar anggota tubuhnya patuh, ia tetap tidak bergerak seperti boneka rusak.
Sambil terkekeh, Blain mbuka tutup botol. Leah natapnya, matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar saat ia mohon dalam hatinya. Kumohon. Kumohon jangan lakukan ini. Bunuh saja aku. Bunuh saja aku...
"..."
Mata Blain berkedut sesaat, tetapi hanya sesaat. Ia nuangkan cairan hitam itu ke dalam mulutnya, dan darah serta ramuan itu bercampur saat ngalir ke tenggorokannya.
Ia teringat padang pasir keemasan. Kenangan berharga yang telah ia buat ngalir seperti pasir di sela-sela jarinya.
Saat dia luknya saat dia nangis.
Tinggallah bersamaku di padang pasir.
Ketika dia nerima bunga peony itu darinya.
Kita harus ngadakan pesta pernikahan. Undang semua orang di padang pasir dan buat pestanya benar-benar riah...
Saat dia pertama kali manggilnya suami.
Aku ncintaimu, Leah...
Kenangan saat-saat reka bersama telah hilang ke jurang yang dalam. Seperti pasir, reka ngalir pergi, terkubur di suatu tempat yang dalam dan gelap, terkunci di balik pintu besi. Pintu itu tidak dapat dipindahkan. Pintu itu dililit rantai dan dikunci dengan gembok yang tidak miliki kunci.
Dia tidak dapat ngingat nama kekasihnya.
Di tempat-tempat yang tadinya ada kenangan, kini kenangan baru tercipta. Kenangan itu muncul secara acak pada awalnya, tetapi segera nyatu dengan mulus, nuhi pikiran Leah. Ia nangis tersedu-sedu, tetapi tiba-tiba Leah berkedip, bingung.
ngapa saya nangis?
ngangkat tangannya ke pipinya, dia ndapati pipinya basah. Kepalanya miring karena bingung, dan mata biru tiba-tiba muncul di hadapannya. Wajah Blain nunduk ke arahnya.
"Tersenyumlah," perintahnya.
Air mata netes dari dagunya. Dia masih tidak ngerti ngapa dia nangis, tetapi dia tersenyum patuh. Mata Blain berbinar.
"Leah, apakah kamu ncintaiku?" tanyanya.
Ada rasa sakit yang nusuk jauh di dalam hatinya dan Leah ringis. Tiba-tiba dia rasa sangat pusing, perutnya mual. Sakit. Jantungnya berdebar lebih cepat dan dia rasa sangat mual, tetapi dia masih tahu jawaban yang benar, dan ngucapkannya dengan wajar.
"...Ya."
Blain tersenyum penuh kasih sayang.
"Aku ncintaimu," bisiknya.
Reviews
All reviews (0)