Font Size
15px

Saat lihat asap hitam berputar di sekitar pergelangan kakinya, pikiran Leah mbeku. Suara samar rantai yang nghantuinya selama ini tiba-tiba terdengar keras dan jelas, berdenting di telinganya.

Cerdina ncoba mbawanya kembali ke Estia.

Dia nyadarinya secara naluriah dan tiba-tiba rasa seolah-olah semuanya runtuh di sekelilingnya dan dia jatuh ke dalam kegelapan, dingin dan dalam. Dia tidak bisa bernapas. Penglihatannya njadi gelap dan dia dicengkeram oleh teror seperti itu, dia jatuh...

"...Lea!"

Seluruh tubuh Leah bergetar. Bibirnya bergerak, tetapi dia tidak bisa berteriak. Suaranya hilang.

"Lea!!!"

Suara yang manggilnya mbuatnya tersentak. Ia layang, diselimuti asap hitam, sentara Morga dan penyihir lainnya ngelilinginya, berteriak dalam bahasa Kurkan. Karpet beludru rah telah dipindahkan dan di tempatnya ada pola ajaib yang pasti telah digambar sebelumnya.

Lautan bunga putih telah berguguran dan terinjak-injak dalam kekacauan itu, dan Ishakan berjalan lintasi bunga-bunga yang patah itu, ngulurkan tangannya kepada wanita itu.

Tangannya nembusnya seakan-akan dia adalah ilusi.

Yang lain ncoba. Tidak seorang pun dapat nyentuhnya.

Leah yang ketakutan ngulurkan tangan untuk raih tangan Ishakan, berpegangan erat padanya, tetapi entah bagaimana Ishakan tidak dapat raihnya. Entah bagaimana hanya Leah yang dapat gangnya sentara asap semakin ngepul di sekelilingnya. Entah bagaimana ia tahu bahwa jika ia lepaskannya, ia akan terseret ke Estia. Lengannya negang seolah-olah akan putus, tetapi ia berpegangan erat padanya dengan sekuat tenaga.

"Ishakan! Darahnya...!" teriak Morga.

Ishakan ncabut belatinya dan ngiris lengannya sendiri. Darahnya ngalir rah dan jatuh, nyerap pola sihir yang bersinar di tanah.

Asap di sekitar Leah surut.

Salah satu pesulap yang berdiri di sudut pola itu pingsan dan muntah darah.

"Itu tidak cukup!" teriak Morga. Wajahnya pucat. "Itu perlu lebih, jauh lebih dari yang kukatakan!"

Dia berhenti, tersedak seperti sedang mual, dan nutup mulutnya dengan tangannya. Darah nyembur di antara jari-jarinya dan penyihir Kurkan itu nyekanya dengan punggung tangannya.

"Kami baik-baik saja. Jangan khawatir. Beri kami lebih banyak."

Ishakan segera nebas dirinya lagi. Setiap kali belatinya nyala, darah nyembur keluar, langsung terserap ke dalam pola sihir. Para penyihir itu jelas nderita, tetapi reka tetap berdiri teguh.

Mata Leah berkaca-kaca saat ia nyaksikan. Ia nyaksikan suaminya berdarah. Ia nyaksikan suaminya ngiris tubuhnya berulang kali dan pola itu nyerapnya.

Namun, asap hitam itu tidak lemah. Sebaliknya, asap itu malah semakin tebal.

Tiga luka lagi di kulit keemasan Ishakan. Jantungnya berdegup kencang dengan setiap luka baru di tubuhnya. Dia telah ngeluarkan begitu banyak darah, terlalu banyak, cukup untuk njadi berbahaya. Namun, bahkan jika dia ngeluarkan lebih banyak darah, tidak akan ada yang berubah. Bahkan jika dia numpahkan semuanya. Asap hitam rayapi tubuhnya.

reka berdua tahu hal ini tidak bisa dihentikan dengan cara ini. Namun Ishakan tidak akan nyerah bahkan jika itu ngorbankan nyawanya.

Ia bahagia. Kebahagiaannya di Kurkan bagaikan mimpi. Dan kini saatnya untuk bangun.

Anehnya, ia rasa tenang, seolah-olah ia secara tidak sadar tahu bahwa ini akan terjadi. Belenggu di pergelangan kakinya telah nipis dan mudar, hampir tak terlihat, tetapi tidak pernah benar-benar putus. Ia tahu suatu hari nanti ia harus kembali ke tempat gelap itu, di mana tidak ada cahaya yang akan pernah ncapainya. Tidak perlu mbuat orang lain nderita.

lihat Ishakan, dia tidak bisa ngatakan kata-kata yang ingin dia katakan. Dia harus ngatakan sesuatu yang lain.

"Maafkan aku, Ishakan."

Matanya yang keemasan bergetar. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan wanita itu.

"Jangan ncariku," bisiknya.

Matanya terbelalak.

"Leah, jangan," katanya dengan suara parau, seolah-olah tenggorokannya tersumbat. Wajahnya tampak putus asa saat Leah lepaskan tangannya.

Kehangatan terakhir di tangannya mudar. Asap hitam berputar di sekelilingnya, nyelimutinya bahkan saat Ishakan raihnya dan ncoba luknya, manggil dengan putus asa.

"Lea!!!"

Bahkan tikaman di hatinya tidak akan lebih nyakitkan daripada lihat suaminya seperti itu. Namun, dia tidak ngalihkan pandangan. Dia mperhatikannya sampai asap hitam lahapnya.

Saat asap nghilang, dia tidak berada di padang pasir. Lantai marr di bawahnya terasa dingin dan dia nggigil. Dingin, sangat dingin.

"Lama tidak bertemu, Leah," kata sebuah suara.

Sambil duduk, dia perlahan ngangkat kepalanya. Tempat itu sudah tidak asing lagi. Itu adalah aula istana kerajaan Estia, aula yang sama tempat dia nyambut Ishakan sebagai Raja Kurkan. Tiang-tiang marr berjejer di aula yang sangat besar itu, dan di atasnya berkibar panji-panji yang muat lambang kerajaan Estia.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 185: Perpisahan yang Pahit on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Lucky Farmgirl cover
Similar genre

The Lucky Farmgirl

Bamboo Rain ·Romance

TheFourthBrotherhadsquanderedhiswealththroughgambling,leavingtheirmotherinacriticalstate.Tomakemattersworse,thecreditorsevenaskedthemtosellManbaoto...

Top-tier Unruly Master cover
Trending now

Top-tier Unruly Master

Be Qin Sanchi ·Other

WhenDingFanopenedhiseyesagain,everythingbeforehimhadchanged.ACultivatorrebornonEarth,hefoundhimselfinthedespisedbodyofadisgracedheir.Fistsstrikinga...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.