Font Size
15px

Ishakan mbuang catatan itu dengan acuh tak acuh dan mberikan lima buah anggur kepada Leah. Saat Leah makan, Ishakan motong makanan itu njadi potongan-potongan kecil agar lebih mudah dimakan, tetapi Leah malah ngutak-atik anggurnya.

Apa pun yang terjadi, dia akan berusaha lindunginya, apa pun yang terjadi, dengan cara apa pun yang diperlukan. Itu mbuatnya khawatir. Ishakan mungkin akan milih cara yang kurang tepat...

Ia masukkan satu buah anggur ke dalam mulutnya, ngunyahnya, dan nelannya. Pertama-tama, ia harus berkonsentrasi untuk pulih sesegera mungkin.

***

Lima malam berlalu dalam sekejap. Untungnya, pada malam kelima, ia bisa tidur lebih nyenyak. Ia dan Ishakan hanya saling mbelai dan nghisap, dan Ishakan tidak lakukan penetrasi.

Keesokan paginya, para dayangnya tiba lebih awal sebelum matahari terbit. Ketika mbuka mata, Leah lihat sekeliling, tetapi tidak ada tanda-tanda Ishakan.

"Leah! Kau aman..." Mura tampak sangat lega. Sambil nyingkirkan sisa-sisa pilar besi dan rantai yang putus, dia natap Leah. "Sepertinya Ishakan benar-benar peduli dengan istrinya."

Sama seperti yang dilakukannya pada malam pertama pernikahan, Leah makan lebih banyak kelopak bunga rah, lalu mandi di bak mandi yang penuh dengan bunga-bunga itu. Mura dan para wanita lainnya mijat anggota tubuhnya yang telah sakit selama berhari-hari, lalu segera makaikannya pakaian.

Hari ini dia ngenakan gaun putih panjang yang nutupi seluruh tubuhnya. Kerudung panjang bersulam benang emas njuntai dari punggungnya, dan di pinggangnya dia ngenakan ikat pinggang berhiaskan permata. Rambut peraknya dihiasi bunga-bunga putih dan berlian kecil.

Berpakaian serba putih, Leah ngangkat bunga putih ke bibirnya. Bunga itu sedikit bergetar. Tidak biasanya dia rasa gugup saat tampil di depan umum, jadi butuh beberapa saat baginya untuk ngerti alasannya.

Ia akan segera diakui publik sebagai istrinya. Sejak saat itu, Leah akan njadi Ratu Kurkan.

"Di sekitar sini..." Wajah Mura penuh dengan antisipasi. reka telah nggendong Leah di kursi sedan nuju taman, yang dipenuhi ratusan bunga putih yang mbuat semuanya berbau harum. Banyak tamu duduk di kedua sisi karpet beludru panjang berwarna anggur, dan reka terdiam saat sang pengantin wanita muncul.

Semua mata tertuju padanya, mperhatikan saat dia berjalan di atas karpet, sambil gangi ujung gaunnya di tangannya. Hari itu cuaca sedang cerah, dengan angin sepoi-sepoi yang berhembus lembut di bawah hangatnya matahari. Ujung gaun panjangnya berkibar di belakangnya.

Ada banyak orang berkumpul di ujung karpet, tetapi tatapannya hanya terfokus pada satu orang. Ishakan ngenakan jubah panjang bersulam benang emas dan natapnya seolah-olah dia terhipnotis.

Saat dia berdiri di hadapannya, dia berkedip dan ngguncang tubuhnya, mbungkuk untuk nggigit bunga dari bibir wanita itu dengan lembut. Setelah nelannya, dia negakkan tubuh dan berbalik nghadap ke depan.

Di hadapannya, Morga ngulurkan sebuah kotak dan mbuka tutupnya untuk mperlihatkan dua belati, masing-masing dengan pita sutra. Ishakan ngeluarkan belati perak kecil yang dilapisi batu kecubung dan ngikatkannya di pinggangnya, lalu ngulurkan belati emas sehingga Morga bisa lakukan hal yang sama padanya.

Sambil nyerahkan kotak itu kepada petugas di dekatnya, Morga ngambil dua gelas dan nyerahkannya kepada Leah dan Ishakan. Setiap gelas berisi cairan bening, ramuan untuk mperkuat sumpah reka. Dengan ujung belati reka, kedua mpelai nusuk jari manis reka dan neteskan darah ke dalam setiap gelas. Saat darah bercampur dengan cairan bening, warnanya berubah njadi rah muda.

Sambil bertukar gelas, Leah dan Ishakan minum perlahan, saling natap mata saat kehangatan ramuan itu nyebar ke seluruh tubuh reka. Setelah nghabiskan gelasnya, Ishakan berbicara.

"Aku adalah duniamu. Dan kamu adalah pusat duniaku."

Kata-kata itu keluar dengan kaku, hampir seperti dia gugup, yang mana sangat tidak biasa. Leah harus narik napas dalam-dalam untuk nenangkan sarafnya.

"Marilah kita njadi satu-satunya eksistensi bagi satu sama lain," katanya.

reka ngucapkan janji pernikahan bersama-sama.

"Kalau begitu aku bersumpah untuk manggilmu suamiku, istriku."

reka yang nonton bertepuk tangan dengan riah, dan orang-orang Kurkan yang duduk di barisan depan berdiri untuk lemparkan kelopak bunga warna-warni. Di tengah guyuran kelopak bunga, senyum Leah berseri-seri, dan Ishakan lingkarkan lengannya di sekelilingnya, berseri-seri.

"Ishakan!" bisiknya. Ia ingin ngatakan sesuatu yang belum bisa ia katakan hingga saat itu.

Aku ncintaimu, Ishakan.

Dia ngulanginya dalam benaknya berulang-ulang untuk mastikan dia tidak akan tersandung. Namun, ketika dia mbuka bibirnya untuk berbicara, dengan tegas, agar suaranya tidak bergetar, tidak terjadi apa-apa.

"...!"

Tiba-tiba, di bawah kakinya, asap hitam ngepul.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 184: Lima Malam (2) on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Mr. CEO Has a Crush on Me cover
Similar genre

Mr. CEO Has a Crush on Me

Mu Anan ·Romance

Shewasframedbyhersisterandaccidentallyhadaone-nightstandwithhim.Later,hefoundvariousunreasonableexcusestoforcehertolivewithhim.Toseekrevenge,sherel...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.