Dia tidak dapat ngingat banyak hal setelah itu. Dia tidak dapat mikirkan apa pun kecuali apa yang sedang dia lakukan dengannya. reka benar-benar satu, berbagi sensasi yang sama. Dengan rakus, reka saling lahap, saling mberi kenikmatan. Setiap bagian tubuhnya adalah milik Ishakan, dan hal yang sama berlaku untuk tubuhnya. Dari kulitnya yang kecokelatan hingga mata emasnya yang cerlang yang sangat dia cintai, semuanya adalah miliknya.
reka sepenuhnya saling miliki. Bahkan jika dunia hancur berkeping-keping, kebenaran itu tidak akan pernah berubah, tidak akan pernah mati.
Lelah karena berhubungan seks selama berjam-jam, Leah kehilangan kesadaran untuk beberapa saat. Ketika dia bangun, dia sudah berada di tempat tidur, dan Ishakan masih ndorongnya.
"Ahhh, hmm...!" Begitu dia mbuka matanya, dia rasakan gelombang kenikmatan. Bahkan setelah dia pingsan, Ishakan terus ndorong ke dalam basahnya, dan dia begitu sensitif sehingga dia ncapai klimaks dengan mudah. "Hmm...!"
Ishakan ngeluarkan gerutuan buas saat dia mpercepat langkahnya, ndorongnya lebih cepat lagi.
"Ahhh, hentikan, aku tidak tahan lagi..." Ia ronta, mohon, tetapi sang suami tidak berhenti. Giginya nggigit leher wanita itu yang getar, ninggalkan bekas lain di tubuhnya. Pupil matanya mbesar, mata emasnya dipenuhi gairah liar. Tidak ada sedikit pun jejak akal sehat di matanya, tetapi anehnya wanita itu tidak rasa takut. Suaminya tidak akan pernah nyakitinya.
Sambil natap matanya, dia lingkarkan lengannya di leher pria itu dan nciumnya bahkan saat pria itu kembali ncapai klimaks. Dia bahkan tidak tahu sudah berapa kali dia lakukan itu.
"Hmm, ahhh...!"
Sambil ringis, dia nahan kenikmatan itu, dan Ishakan ngerang sambil luk tubuhnya yang getar
, berejakulasi di dalam dirinya lagi.
Dia pingsan lagi dan terbangun karena kejadian yang sama, tanpa tahu sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri. Ada sensasi aneh di perutnya, kencang dengan kejantanan Ishakan, masih bengkak, masih ndesak, masih sesekali ngisinya dengan spermanya.
"..."
Lengan Ishakan semakin erat luknya. skipun Leah pingsan dua kali, tampaknya dia tidak tidur sama sekali. Matanya telah jernih dan dia tampaknya akhirnya tersadar. Dia telah berhenti ndorong, dan berbaring dengan tenang di dalam dirinya.
Dalam diam, dia ncium keningnya, dan Leah mbenamkan wajahnya di dada Ishakan. Dia rasa aneh, sakit, dan Ishakan nepuk punggungnya dengan lembut saat dia ngerang. Dalam keheningan yang damai, reka saling mahami tanpa harus berbicara sepatah kata pun. Saat tangan Ishakan mbelainya, Leah tidak bisa berhenti berpikir.
Dia nginginkan anaknya. Dia ingin mbesarkan anak yang mirip dengannya. Dia tidak pernah miliki keluarga yang baik. Ibunya ninggal lebih awal, ayahnya bodoh, dan ibu tiri serta saudara tirinya nyebalkan dan kejam. Hal itu mbuatnya skeptis terhadap keluarga.
Namun, ia berpikir akan berbeda jika ia miliki keluarga dengan Ishakan. Ia akan njadi ayah yang baik, penuh perhatian, dan penyayang, tidak ada bandingannya dengan ayahnya sendiri. Dan skipun ia tidak miliki anak, cinta reka tidak akan berubah. reka akan tetap bahagia.
Tetapi dia masih rasakan keinginan untuk ngisi ruang kosong di hatinya.
Didekapnya erat-erat di dadanya yang hangat, Leah ndesah dan jamkan matanya.
***
Waktu berlalu begitu cepat. skipun seseorang letakkan makanan di luar pintu saat makan, reka begitu asyik satu sama lain sehingga makanan selalu dingin saat reka makannya. Leah bahkan tidak nyadari bahwa dia lapar. skipun reka telah lakukan ini bersama berkali-kali sebelumnya, upacara ini mbuat segalanya terasa baru.
Sekarang dia ngerti betul apa yang dimaksudnya ketika dia berjanji bahwa dia akan njadi pusat dunianya. Dia tidak bisa mbayangkan dunia tanpanya. Begitu reka bangun, reka kembali terikat.
"Hmm...!"
"Ahh..."
Setelah ncapai klimaks, Ishakan nyemprotkan lebih banyak sperma panasnya ke dalam tubuh Leah, dan Leah pun ikut bersamanya, seluruh tubuhnya bergetar. Ia ncium seluruh tubuhnya sebelum pergi ngambil sepiring makanan lagi.
Ketika dia kembali, dia gang nampan di satu tangan dan sebuah catatan di tangan lainnya.
"..."
Matanya nyipit ketika dia mbaca catatan itu dengan cepat, lalu ndongak, mperhatikan keingintahuannya.
"Itu bukan masalah besar," ungkapnya.
Reviews
All reviews (0)