Font Size
15px

Angin hangat bertiup lembut di bawah sinar matahari saat Leah nunggu jawabannya, dengan aroma segar tercium dari bunga peony di dekatnya.

Ishakan natapnya dalam diam, dengan mata terbelalak, dan kecemasan nuhi dirinya. Jantungnya berdebar kencang mikirkan bahwa Ishakan mungkin akan nolaknya. Sekarang setelah dia ngatakannya, dia tidak dapat ngerti bagaimana Ishakan bisa ngatakan sesuatu yang begitu nakutkan, dan lakukannya beberapa kali. Dia sangat gugup hingga jantungnya terasa seperti akan ledak. Leah ngerutkan bibirnya.

"...Ahh." Ishakan ndesah. "Benar-benar...kau sangat tidak nentu..."

Tangannya mbelai wajah Leah dan ngambil bunga peony itu dari tangannya yang getar. Tatapannya tetap tenang saat ia mbungkuk untuk nciumnya. Mata Leah terpejam saat ia tanpa sadar nahan napas untuk ngantisipasi. Bibirnya nyentuh bibir Leah. Ia ngusapnya dengan lembut, dan perlahan-lahan bergerak masuk dengan lidahnya, masukkannya sebentar ke dalam mulut Leah untuk ncicipinya, lalu nariknya untuk nciumnya dengan penuh gairah.

Leah nempel erat pada tubuh pria itu, nerima semuanya. Erangan samar keluar dari mulut pria itu saat pria itu nciumnya, begitu liarnya hingga Leah terhuyung ke belakang, seolah-olah akan jatuh. Sambil terengah-engah, Leah narik diri.

"Oh, tunggu..."

Ia khawatir seseorang akan lihat reka, tetapi begitu yakin ia sudah bisa bernapas, Ishakan nciumnya lagi, tangannya mbelai seluruh tubuhnya. Tampaknya reka telah nuhi jatah berciuman reka sekarang.

Leah narik bibirnya lagi.

"Isha, Ishakan...!"

Ishakan tampak sedikit tenang, tetapi dia tidak lepaskannya. Dia noleh, ngusap-usap wajahnya ke leher wanita itu hingga seluruh tubuhnya terasa geli.

"Kita harus ngadakan pesta pernikahan," gumamnya. "Undang semua orang di padang pasir dan buat pestanya benar-benar riah..."

Perlahan, ia ngangkat kepalanya, mata emasnya begitu penuh dengan kebahagiaan sehingga Leah tak dapat nahan senyum. Ia senang bisa mbuatnya begitu bahagia.

Kapan terakhir kali dia tersenyum seperti ini? Dia bahkan tidak bisa ngingatnya. Terkejut, Ishakan nyentuh bibirnya yang tersenyum dengan ujung jarinya. Dia belum pernah lihatnya dengan senyum yang begitu berseri-seri.

Dia tidak dapat nahan diri untuk tidak nciumnya lagi.

"Tunanganku," bisiknya.

Dia berhak manggilnya seperti itu sekarang, tetapi dia masih rasa malu. Alih-alih berbicara, dia nggigit bibir bawahnya pelan-pelan. Dia kembali ndekatinya, nggigit bibirnya pelan, tetapi segera nghentikannya, khawatir bibirnya akan mbengkak.

"Ayo makan siang." Ia nggendong Leah di satu tangan dan bunga peony di tangan lainnya. "Untuk nyelenggarakan upacara pernikahan, kamu harus makan seperti orang Kurkan hari ini."

Leah ndongakkan wajahnya ke langit. Dari posisi matahari, tampaknya masih terlalu pagi untuk makan siang, dan terlalu pagi bagi seseorang yang seharusnya bekerja. Ishakan liriknya dengan mata nyipit.

"Ahh, hari ini benar-benar lelahkan," katanya kecut. Dan karena reka sudah saling ngenal lebih awal, dia nawarkan diri untuk ngajaknya berkeliling kantornya. Leah ngaku sangat penasaran dengan reka.

Jalan nuju kantor jauh lebih tenang. Saat dia bersama Genin, ada orang Kurkan yang bersembunyi di semak-semak, tetapi sekarang dia tidak lihat satu pun dari reka. Sepertinya reka semua telah larikan diri, takut pada Ishakan. Besok, dia harus nyapa reka, pikir Leah, luk Ishakan saat dia nggendongnya ke kantor.

Kelihatannya sangat berbeda dari kamar tidur. Tidak ada tirai yang mbagi ruangan; ruangan itu benar-benar terbuka dan dekorasinya sangat minim, kecuali sebuah pedang lengkung besar yang dipajang. Sarung pedangnya dihiasi dengan emas dan permata.

Di depan serangkaian jendela lengkung terdapat sebuah ja, dan Ishakan duduk di sana, mangku Leah dan nyingkirkan semua kertas yang berserakan dengan kasar. Semuanya ditulis dalam bahasa Kurkan. Leah ngambil selembar kertas kosong.

"Bagaimana kamu nulis namamu?" tanyanya.

Ishakan ngambil pena bulu untuk nulis, dan Leah mperhatikan dengan saksama nama yang ditulis dengan huruf besar. Pena bulunya terlalu besar untuk tangannya yang kecil, tetapi dia dengan canggung nyalin namanya.

"Namaku awalnya Isha," kata Ishakan tiba-tiba sambil mperhatikan Isha nulis.

Dia tidak pernah tahu hal itu. Leah letakkan pena bulunya dan natapnya.

"Kan yang aku terima setelah aku njadi Raja."

King adalah suku kata yang ditambahkan di akhir nama, semacam sebutan kehormatan. Dengan lembut, Leah ngucapkan nama aslinya.

"Isha..." Dia tertawa. "Sekarang tidak ada yang bisa manggilku dengan nama itu."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 161: Isha on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.