Font Size
15px

Leah pun tersadar saat ndengar bahwa reka harus nghabiskan lima malam bersama. Genin ngerutkan kening.

"Ingatkah kamu hari bulan purnama yang lalu?" tanyanya. "Akan lebih sulit dari itu."

"Lebih sulit dari itu...?"

"Ya."

Ya Tuhan . Pikiran itu begitu ngejutkan, Leah njatuhkan garpunya.

"Tentu saja, aku ngatakan semua ini dengan asumsi kau njadi partnernya..." Genin nambahkan dengan enggan. Itu bukan sesuatu yang ingin dia katakan.

"Aku ingin njadi."

Genin nelan ludah karena terkejut.

"Aku ingin njadi pasangannya," lanjut Leah lembut. "Aku ingin njadi Ratu Kurkan..."

Suaranya mudar.

"Semua orang akan senang," sela Genin cepat, matanya berbinar. "Tolong beri tahu Ishakan sendiri nanti."

***

Setelah sarapan, Leah ndengarkan jadwalnya untuk hari itu.

Dia akan makan siang bersama Ishakan, lalu bertemu dengan Morga dan penyihir Kurkan lainnya. Setelah itu, dia tidak boleh lakukan apa pun, kecuali mungkin berkeliaran.

Leah tidak berniat lakukan itu. Jika dia ingin netap di tempat ini, dia perlu mpelajari bahasa dan budayanya. Dia ingin belajar bahasa Kurkan. Genin berjanji bahwa seorang profesor akan datang keesokan harinya untuk mulai ngajarinya.

Dengan jadwalnya yang teratur, Genin mbantunya ncuci dan ngganti pakaiannya. skipun agak canggung, Genin mampu rawat Leah dengan cukup baik.

Leah mbelai ujung gaunnya. Tidak seperti Estia, yang nggunakan kain lembut dan pastel, gaya Kurkan nggunakan banyak kain dengan warna prir yang cerah.

"Maafkan aku," Genin minta maaf sambil nyematkan perhiasan di rambut Leah. "Ada persaingan ketat untuk ngisi posisi dayang yang akan layanimu..."

Namun, itu akan makan waktu, jadi Genin berjanji untuk layaninya sentara waktu, skipun dia tidak ideal. Ketika dia yakinkannya bahwa hanya dayang-dayang terkuat yang akan diizinkan untuk layaninya, Leah tertawa.

"Apakah ada tempat di mana aku bisa tik bunga?" tanya Leah, sambil diam-diam nata ulang aksesoris yang Genin taruh dengan asal di rambutnya.

Sekarang setelah dipikir-pikir, Ishakan selalu lamarnya. Dia tidak pernah mberinya jawaban yang tepat, tetapi kali ini dia akan ngatakannya secara langsung, seperti yang disarankan Genin.

Selalu sulit baginya untuk ngungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Namun karena Ishakan berusaha keras untuknya, ia ingin berubah. Dengan Genin di sampingnya, ia pergi berjalan-jalan dan ncari bunga untuk dipetik.

"..."

Beberapa pasang mata bersinar di sudut aula panjang saat reka ndekat, tetapi begitu reka lakukan kontak mata dengan Leah, reka dengan cepat nghilang. Sepanjang jalan nuju taman, dia terus lihat orang-orang Kurkan bersembunyi di sana-sini, nghilang begitu dia lihat reka. Bahkan ada seorang Kurkan yang tergantung di langit-langit di satu ruangan, yang larikan diri begitu Genin lihatnya.

Leah tidak ngerti ngapa reka semua terus bersembunyi dan liriknya. Apakah Ishakan sudah mberi tahu reka hal lain?

Sangat narik untuk bisa lihat istana itu, karena tidak banyak waktu untuk lihat-lihat ketika dia pertama kali tiba. Bayangan yang dingin itu nyenangkan. Dia ndengar bahwa gurun di sebelah barat itu panas, tetapi istana itu sendiri terasa sejuk, mungkin karena semua tumbuhan di sana.

"Jika kau lihat bunga yang kau suka, jangan ragu untuk tiknya," kata Genin sambil nangkap beberapa Kurkan yang bersembunyi di semak-semak dan lemparkannya ke lorong. Leah mandang ke taman, nahan tawanya.

Dan dia bertanya-tanya bagaimana mungkin ada tumbuhan di tempat ini, padahal tempat ini dikelilingi oleh gurun pasir yang tandus. Di antara semua tumbuhan eksotis, di sana-sini dia lihat bunga-bunga yang dikenalnya. Berhenti sejenak di depan beberapa bunga peony rah muda yang belum kar sepenuhnya. Setelah banyak pertimbangan, dia tik satu yang tampak paling cantik.

"Lea."

Tiba-tiba ada yang luknya erat dari belakang, dia pun noleh ke belakang, terkejut.

Ishakan tersenyum. Dia bermaksud ngunjunginya di kantornya; dia tidak nyangka Ishakan akan datang ncarinya. Genin sudah nghilang dengan hati-hati.

"Apakah kamu suka bunga peony? Aku harus mberi tahu reka untuk nanam lebih banyak."

Bibir Leah bergetar saat dia nggenggam bunga peonynya. skipun dia telah mutuskan untuk ngatakannya, dia kini rasa malu. Ishakan letakkan dagunya di atas kepala Leah.

"Masih ada empat ciuman lagi hari ini..." katanya.

"Sebelum itu, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, Ishakan."

Leah noleh ke arahnya, tangannya getar saat nyodorkan bunga peony itu. Leah natap bunga yang bergetar itu dengan heran.

"Ambillah aku sebagai istrimu," kata Leah dengan wajah yang rona rah seperti bunga peony.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 160: Pernikahan Kurkan 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Lucky Farmgirl cover
Similar genre

The Lucky Farmgirl

Bamboo Rain ·Romance

TheFourthBrotherhadsquanderedhiswealththroughgambling,leavingtheirmotherinacriticalstate.Tomakemattersworse,thecreditorsevenaskedthemtosellManbaoto...

Love You Till the End cover
Similar genre

Love You Till the End

Xi Yan ·Romance

ShenChenstartslivingalifeofunrestrainedindulgencesincemarryingShiYu.Themostbeautifullovers’prattleshehaseverheardis“Iwillpunishthosewhomyouhaveoffe...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.