Font Size
15px

"Hadiah apa?" Dia sudah mberinya begitu banyak. Leah tidak bisa mbayangkan hadiah tidak masuk akal apa yang sedang dia persiapkan sekarang.

Namun Ishakan tidak berkata apa-apa lagi dan segera nghilang sebelum Leah sempat berkata bahwa dia tidak nginginkannya. Leah kembali berbaring di tempat tidur yang empuk.

Tidak perlu lagi khawatir tentang urusan negara, dokun yang tak terhitung jumlahnya, atau takut bertemu Blain atau Cerdina. Yang ada di hadapannya hanyalah waktu luang. Untuk sentara, ia hanya bersantai, sampai seseorang ngetuk pintu.

"Leah, ini Genin."

Leah segera ngenakan jubah di atas gaun tidurnya.

"Masuklah," katanya.

Genin muncul sambil gang nampan di kedua tangannya. Dia nundukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih kepada Kurkan yang nahankan pintu untuknya, tetapi ketika dia ncoba njulurkan kepalanya ke dalam ruangan, dia langsung ngusirnya. Terdengar teriakan.

"Aduh!"

Di lorong, terdengar suara seseorang mukul lantai. Genin nutup pintu dengan kakinya dengan sengaja lalu ndekat sambil mbawa nampan berisi tumpukan makanan.

"Selamat pagi, Leah. Aku mbawa makanan lezat."

"Halo Genin," Leah nyapa Genin dengan riang. "Terima kasih banyak."

Dengan hati-hati, Genin naruh nampan itu di ja samping tempat tidur.

"Kau boleh bicara padaku sesukamu, Leah," kata Genin tegas. "Mulai sekarang, kau boleh bicara dengan siapa pun yang kau temui. Di padang pasir, tidak ada yang lebih terhormat daripada dirimu."

"Tapi..." Dia ragu-ragu.

"Ini terkait dengan reputasi Ishakan," Genin bersikeras. Sepertinya dia harus lakukannya. Genin natapnya, seolah nunggu penegasan.

"Aku ngerti, Genin," jawab Leah ragu-ragu.

Genin tampak puas dan segera letakkan nampan berisi makanan di hadapan Leah, lalu letakkan garpu dan pisau di samping piring-piring. Ia tidak lupa nyebutkan bahwa peralatan makan itu dibuat khusus untuk Leah.

Mungkin karena siksaan Ishakan, nafsu makannya jadi besar. Pikirannya juga lebih jernih hari ini daripada sebelumnya. Ia rasa segar, dan tidak ada pikiran buruk. Untuk pertama kalinya, ia bisa makan dengan bersemangat.

Bahu Leah berkedut saat ncicipi selai yang sangat manis yang terbuat dari kurma, dan dia naruhnya dan milih kacang arab berbumbu. Sentara dia makan dengan tekun, tangan Genin sibuk nyiapkan hidangan baru yang nggoda. Wanita Kurkan itu hampir tidak bisa nahan keinginan untuk minta Leah ncicipi ini dan itu.

Sentara Leah makan dengan tekun, Genin terus nggerakkan tangannya. Dia tampak hampir tidak bisa nahan keinginannya untuk ngganggu dan maksakan diri untuk ngobrol sambil Leah makan. Sentara dia ncoba untuk tetap santai, dengan mbicarakan cuaca dan njelaskan kehidupan sehari-hari dalam bahasa Kurkan, tetapi kehidupan sehari-hari Leah tidak bisa dianggap normal. Tak pelak, reka pun beralih ke topik penculikan pengantin.

"Penculikan pengantin adalah jalan terakhir," jelas Genin. Penculikan hanya dilakukan sebagai jalan terakhir ketika ada kendala untuk nikah, terlepas dari perasaan yang sama dari pasangan yang terlibat. Di daratan, sulit bagi seseorang untuk nikahi orang Kurkan ketika reka dibenci sebagai orang barbar.

Ketika suku Kurkan nculik para pengantin, para wanita itu diberi waktu untuk milih apakah reka ingin pulang kampung atau nikah. nurut Genin, sejauh ini, tidak ada satu pun dari reka yang kembali.

"Saya juga pernah ngalami penculikan pengantin," imbuh Genin. Leah bisa lihat sedikit rasa malu di wajah Genin setiap kali suaminya disebut, sedikit tersipu. Genin ngaku bahwa karena sudah lama tidak pulang, dia mbawakannya bunga. Leah tersenyum.

"Apakah suamimu suka bunga?" tanyanya.

"Ya, sangat. Dia suka berkebun sebagai hobi, tapi sekarang... agak sulit..." Kegelapan lintas di wajah Genin, nghilang dengan cepat. "Dia penasaran ingin bertemu denganmu."

Genin berkata bahwa dia dengan bangga nceritakan semua tentang Leah kepada suaminya, jadi dia sangat penasaran. Leah berkata bahwa dia tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, tetapi tetap nerimanya. Dia juga penasaran tentang suami Genin. Diskusi itu ngarah pada pernikahan, dan Genin njelaskan adat istiadat Kurkan.

"Ada upacara penyambutan bagi kalian berdua sebagai pasangan. Jika kalian berencana untuk ngadakan upacara, kalian rlukan waktu setidaknya satu bulan untuk mpersiapkannya." Genin berkata dengan serius. Lead harus nambah berat badan dan berolahraga untuk ningkatkan staminanya. "Karena... pernikahan orang Kurkan tidak berakhir dalam satu hari."

Sebelum upacara dimulai, reka harus nghabiskan lima malam bersama. Pada hari terakhir, sebuah pernikahan akan dilangsungkan di mana reka akan bersumpah setia di hadapan para tamu.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 159: Pernikahan Kurkan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.